TENTANG GUNYAM

Listrik: Dear Jakarta, Istirahatlah, Kamu Pasti Lelah



Jakarta kota yang padat. Senin hingga kembali Senin, masyarakatnya sibuk beraktivitas, mereka pun tak peduli meski di tengah jalan dikepul asap. Oksigennya sudah tidak lagi baik dihirup seisi penghuni, langit yang harusnya berwarna biru terang pun berubah menjadi abu. Bahkan di malam hari, yang seharusnya seluruh penghuni tertidur lelap, langit Jakarta tetap saja tidak seceria di kota-kota kecil yang masih dipenuhi dengan rerimbunan pohon.

Ya, langit Jakarta tak berbintang. Selain penuh polusi udara, Jakarta juga padat akan polusi cahaya. Itu lah sebab bintang di langit malu menunjukkan sinarnya ke tanah Jakarta. Di bawah sini, cahayanya lebih terang, seolah berkata kami tak butuh pesona bintang.

Apalah Jakarta tanpa listrik. Kami lumpuh tanpanya.

Minggu, 4 Agustus 2019, peristiwa itu terjadi. Listrik pun berbicara pada kota Jakarta. “Istirahatlah sayang, kamu pasti lelah,” katanya. Serentak, listrik tidak beroperasi di Jakarta hampir seharian penuh. Lampu lalu lintas padam, arus jalan pun tak karuan. Kereta listrik tak beroperasi, masyarakat berbondong-bondong jalan kaki, beralih ke Transjakarta. Sinyal provider kacau balau, ojek online tak bisa dipesan, masyarakat kebingungan di jalan, lalu terpaksa cari tebengan pada orang asing. Komunikasi massa terganggu,
segala aktivitas di dunia maya terputus.

Pekerjaan di hari Minggu kacau balau, mencuci pakaian terpaksa tanpa mesin, mandi pakai air galon, es di kulkas mencair, toko waralaba redup dan pengap, pom bensin tutup, mesin atm tak berfungsi. Minggu santai terganggu, streaming musik putus-putus, YouTube apalagi, ingin baca buku tapi gelap. Kami mati gaya.

Di balik itu, ada warung penjual lilin laris manis raup keuntungan, penjual makanan pinggir jalan ramai diberondong pembeli, mal besar riuh orang mencari sumber cahaya dan internet, masyarakat tak lagi berjalan menunduk, mereka saling bersapa sosial. Setiap jam, menit, detik, diperhatikan oleh seluruh penghuni ibukota, sambil bersorak kencang “Kapan listrik Jakarta kembali menyala?”

Listrik menjawab, “Istirahatlah, sebentar saja. Jakarta sedang sakit parah.”

Tahu ‘kan, Jakarta sempat tercatat menduduki peringkat pertama dengan polusi udara terburuk di DUNIA. Setelah listrik mematikan dayanya di kota yang diduduki oleh 10 juta orang ini, udara Jakarta membaik.

Si kurus kecil yang senang bermain-main di alam bebas. Lelah, tidak masalah baginya, asal aroma alam tercium di hidungnya, dan tidak ada asap mengepul yang merusak pemandangannya.
Tags: , , ,

1 thought on “Listrik: Dear Jakarta, Istirahatlah, Kamu Pasti Lelah”

  1. Tesa Hadi Santosa says:

    Setelah membaca ini saya selaku masyarakat Indonesia menjadi auto setuju ketika ada wacana akan adanya pemindahan ibu kota Indonesia. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *