TENTANG GUNYAM

Baduy, Inspirasi Pendidikan Karakter Indonesia



Sekitar pukul tiga pagi semua orang di kampung ini sedang bersiap untuk melakukan aktivitas. Seorang pria berpakaian putih hitam, berikat ikat kepala putih dengan golok bertenggerr di pinggangnya, tanpa beralaskan kaki bersiap untuk pergi berladang. Kampung ini hanya terdiri dari 120 rumah dengan model rumah yang seragam. Perpaduan kayu dan bambu dengan gaya rumah panggung menjadi ciri khas rumah di kampung ini. Letaknya yang jauh dengan dunia modern membuat kampung ini masih memegang teguh aturan dari leluhur. Kampung Baduy itulah nama kampungnya. Kampung yang terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten ini menjadi salah satu kampung yang menjadi objek wisata budaya karena lingkungannya yang masih menjaga adat dari leluhur. Tak sedikit orang yang menyempatkan menginap semalam di tempat ini untuk mencari ilmu, mendapatkan pengalaman baru ataupun hanya sekedar hiburan dari penatnya kegiatan di kota.

 

Suku Baduy merupakan salah satu suku di Indonesia yang sampai sekarang masih mempertahankan nilai-nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya, di tengah-tengah kemajuan peradaban di sekitarnya. Kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat di sana justru menjadi pelajaran bagi masyarakat modern. Di tengah kehidupan modern yang serba nyaman dengan listrik, kendaraan bermotor, hiburan televisi serta tempat-tempat hiburan lain yang mewah, masyarakat Baduy masih setia dengan kesederhanaan dan hidup menggunakan penerangan lilin atau lampu teplok. Meskipun anti modernisasi, mereka tetap menghormati kehidupan modern yang ada di sekitarnya. Menurut salah satu ketua mereka, “Modernisasi yang salah kaprah, hanya akan membuat kita jadi pemalas dan tidak mensyukuri pemberian Tuhan. Kita bisa lupa pada bumi dan isinya, ketika kita sudah merasa diri modern dan hebat”. Kesederhanaan dan toleransi terhadap lingkungan di sekitarnya adalah ajaran utama di masyarakat Baduy. Dari kedua unsur tersebut, otomatis akan muncul rasa gotong royong dalam kehidupan mereka. Tidak ada keterpaksaan untuk mengikuti dan menjaga tradisi kehidupan yang damai oleh mereka. Tidak ada rasa iri satu dengan lainnya karena semuanya dilakukan secara bersama-sama. Kepentingan sosial selalu dikedepankan sehingga jarang dijumpai kepemilikan individu, tetapi tetap menjunjung tinggi asas demokrasi. Tidak ada kesenjangan sosial maupun ekonomi antara individu di sana. Konsep pembangunan berkelanjutan telah diajarkan secara turun temurun oleh masyarakat Baduy, tanpa terlebih dahulu mengenal istilah pembangunan berkelanjutan yang menjadi isu internasional. Prinsip perubahan sekecil-kecilnya dan alam merupakan titipan dari Tuhan untuk anak cucu, mendasari pemikiran dan mempengaruhi segala aktivitas kehidupan mereka. Gaya hidup sederhana tanpa mengharapkan bantuan dari luar telah membangun mental yang mandiri dan berkelanjutan.

 

Pendidikan yang berasal dari alam, itulah konsep pendidikan yang dipegang oleh Kampung Baduy. Tidak ada satu orangpun warga Baduy yang mengikuti sekolah formal, mereka hanya belajar dari leluhur, orang tua dan alam. Bukan tanpa alasan mereka tidak ingin bersekolah, yang mereka takutkan adalah menjadi orang pintar yang memanfaatkan kepintaran tersebut untuk perbuatan yang tidak baik. Melihat kondisi negara sekarang yang dihuni oleh orang-orang berpendidikan tetapi berperilaku buruk, tidak salah warga Baduy berpandangan seperti itu. Tanpa bersekolah pun mereka telah menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, gotong royong, jujur yang justru sikap seperti itu seolah hilang dikalangan orang-orang berpendidikan terutama orang-orang di pemerintahan. Suasana yang sebagian orang rasakan itu hanya ada di luar negeri ternyata di kampung terpencil seperti Baduy pun budaya tersebut mampu ditanamkan. Hal ini menjadi daya tarik Kampung Baduy. Kampung ini kerap menjadi objek penelitian maupun wisata, meskipun di satu sisi petinggi kampung Baduy tidak setuju kalau kampung ini dijadikan objek wisata karena ditakutkan masyarakat luar mampu membawa pengaruh buruk untuk masyarakat Baduy itu sendiri kecuali untuk objek penelitian.

 

Seiring berjalannya waktu, arus informasi semakin cepat, teknologi semakin maju, akses semakin mudah didapat, bagaimana kondisi Kampung Baduy sekarang? Tempat yang terpencil dan di tengah hutan ini tidak menyurutkan pengunjung untuk datang ke kampung ini. Alhasil karena tidak adanya batasan pengunjung, kampung Baduy bisa disesaki oleh penduduk luar hingga sampai ratusan orang. Hal ini sedikit banyak membawa pengaruh terhadap masyarakat asli Baduy itu sendiri. Mereka kini telah mengenal HP, uang, pergaulan dan tidak sedikit masyarakat Baduy yang ketahuan melanggar adat. Rasa ingin tahu yang tinggi dari warga Baduy terutama generasi mudanya yang membuat pengaruh dari luar masuk sebagai informasi baru untuk masyarakat Baduy. Hal ini yang menimbulkan pertanyaan apakan modernisasi secara perlahan akan membunuh kearifan lokal? Entahlah. Jika berkaca kepada negara-negara lain yang justru mengusung kearifan lokal mampu menjadi identitass seperti Jepang, Amerika, Cina, dan Arab Saudi, Indonesia masih belum mampu melakukan itu. Arus modernisasi mampu mendominasi, perhatian terhadap kearifan lokal bercampur dengan kepentingan politik. Kedewasaan pemerintah dan masyarakat diuji dalam menghadapi situasi seperti ini.

 

Indonesia sangat berpotensi menjadi negara maju dengan perpaduan antara pendidikan tata karma dari adat lokal dengan pendidikan modern melalui sekolah formal. Jika saja pemerintah dan masyarakat bisa memaksimalkan kedua hal tersebut, bukan tidak mungkin akan terbentuk generasi dengan pribadi yang berpengetahuan luas dan memiliki sikap disiplin, tanggung jawab serta jujur. “Pendidikan yang berasal dari alam”, ujar salah seorang ketua Kampung Baduy. Konsep ini mengingatkan kita pada teori evolusi yang dikemukakan Darwin. Alam akan menuntut suatu spesies untuk melakukan suatu strategi agar tetap hidup. Masyarakat Indonesia masih terlalu fokus pada eksploitasi alam untuk menunjang kehidupannya, padahal di suatu tempat yang tak jauh dari ibukota negara ada masyarakat yang menjadikan alam sebagai bagian dari jati dirinya.

 

Tentang Penulis

Ruang sederhana untuk bersenang-senang dari pikiran yang rumit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *