TENTANG GUNYAM

Saat Cerita-Cerita Seram yang Kau Dengar Menjadi Nyata



Penilaian dan persepsi setiap orang terhadap film akan berbeda-beda tergantung seberapa luas wawasannya. Kaitannya dengan film horror, ada banyak elemen yang membuat film bergenre tersebut dikatakan “menyeramkan”. Umumnya film horror akan sangat mengandalkan efek suara, riasan wajah, termasuk adegan berteriak (yang lazim disebut jumpscare) untuk menakuti penonton dibanding terus membangun setting secara perlahan lalu memberikan punchline di saat yang tepat Meski ada saja film horror yang menggebrak formula itu dan berhasil sukses; sebut saja Hereditary, The Witch, atau Autopsy of Jane Doe. Untuk cara terakhir yang saya sebutkan tadi, tidak semua penonton merasakan sensasinya. Entah karena tidak menyimak secara detail, entah ogah mengikuti jalan ceritanya, atau yang lain. Intinya, kembali ke kalimat pembuka tulisan ini; Penilaian dan persepsi setiap orang terhadap film akan berbeda-beda tergantung seberapa luas wawasannya.

Scary Stories to Tell in The Dark berada di antara dilema tersebut; berusaha untuk konsisten menyajikan horror yang berbeda, meski pada akhirnya mengikuti formula pasar. Film ini diproduseri langsung oleh sineas kawakan; Guillermo Del Toro, yang mestinya hanya dengan mendengar namanya saja sudah menjadi jaminan dari kualiasnya. Sedangkan sutradara film ini; Andre Ovredal sebelumnya sukses menyutradarai Autopsy of Jane Doe, salah satu film horror favorit saya yang sudah saya sebutkan di atas. Praktis, saya tidak punya alasan untuk tidak menonton film ini.

Gambar Ovredal dan Del Toro Sumber: theknockturnal.com

Scary Stories to Tell in The Dark, dari judulnya saja kita sudah tahu kalau film ini bercerita tentang “cerita-cerita” horror itu sendiri. Cerita-cerita horror pendek menakutkan seperti yang biasa kita dengar sendiri dari teman, orang tua, atau kakek nenek kita. Kita tidak peduli apakah cerita itu masuk akal atau tidak, bagaimana cerita itu bermula, mengapa wujud hantunya “unik”; kita tidak peduli semua itu, yang jelas ceritanya mengasyikkan, menyeramkan, dan enak diceritakan kembali. Begitulah sensasi menonton film ini. Anda akan dibuat menyelami tiap kisah pendek yang meneror tiap tokohnya satu persatu. Menegangkan, tapi menyenangkan. Mirip seperti sensasi membaca kumpulan cerpen horror lawas berjudul sama yang menjadi referensi dari film ini.

Plot film ini sebenarnya sederhana saja bahkan sangat pasaran yaitu tentang sekumpulan anak yang mendatangi rumah tua saat malam Hollywood, kalau di Indonesia, ide film ini pasti akan berakhir menjadi horror konyol, tapi tidak di tangan Del Toro dan Ovredal. Di rumah tua yang anak-akan itu datangi, mereka menemukan buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh seorang wanita yang sudah meninggal. Keanehan terjadi setelah mereka membaca kisah-kisah dalam buku itu. Yah, semua kisahnya menjadi nyata! Terkesan cheesy, bukan? Tapi jangan salah, film ini jauh lebih baik dari film horror yang hanya mengandalkan teriakan. Setting film ini pun begitu detail yakni menggunakan latar tahun 1968 menjelang perang Vietnam. Saya tidak menemukan satu pun kesalahan dalam setiap momen dalam tiap scene-nya. Tiap tempatnya, semua suasananya, property, aksesoris, semuanya benar-benar mewakili Amerika pada masa itu

Belum lagi jalinan cerita yang rapi, efek suara dan CGI yang pas, permainan tone yang baik, film ini berhasil mencekam penonton (meski tidak sedahsyat IT) dengan cara yang “menyenangkan”. Anda tidak hanya akan dibuat tegang, tapi juga menikmati tiap cerita pendek horror tradisional Amerika dalam film ini. Yah, minimal sepulangnya dari bioskop, koleksi cerpen horror untuk Anda ceritakan pada teman atau adik kecil Anda bertambah.

Gambar Harold the Jangly Man Sumber: refinery29.com

Sayangnya setelah dua pertiga durasi film, film ini memutuskan untuk berakhir dengan cara yang sangat biasa, menggunakan formula horror ala James Wan; di mana jumpscare akhirnya dipakai saat sesosok monster mengejar-ngejar salah satu tokoh utama, Ramon Morales. Tidak ada lagi ketegangan, penasaran, dan ketakutan, hanya “seru” saja melihat tokoh kita dikejar-kejar makhluk aneh.  Untungnya momen  seperti ini tidak banyak. Sehingga saya masih bisa melabeli film horror ini berbeda dengan film horror kebanyakan dan sangat disayangkan kalau dilewatkan begitu saja. Saya beri nilai 8 dari 10.

***

Tentang Penulis:

Rendra Pirani, seorang pensiunan dini penulis skenario. Sekarang menjadi guru SMK yang hobi jalan-jalan. Penulis dapat dihubungi melalui akun sosial media Instagram @rendrapirani, facebook Rendra Pirani, dan twitter @Rendra_pirani.

Ruang sederhana untuk bersenang-senang dari pikiran yang rumit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *