TENTANG GUNYAM

Taman Hutan Raya Juanda untuk Kehidupan Kota Bandung



Gerbang utama Taman Hutan Raya Juanda (dok : tempatwisata.net)

Warna hijau menjadi ciri khas tempat ini. Sepanjang jalan yang dipayungi pohon-pohon besar membuat pejalan kaki menikmati perjalanannya. Tanaman pinus yang berjajar dihiasi berbagai hewan mamalia yang bergerak kesana-kemari melengkapi keindahan tempat yang diberi nama salah satu pahlawan Indonesia. Taman Hutan Raya Ir.H. Djuanda (Tahura) itulah nama taman hutan raya ini. Lokasinya berada tak jauh dari pusat kota Bandung. Tahura Ir.H. Djuanda ini sekarang menjadi salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi oleh warga lokal maupun dari luar kota.

Wisatawan terlihat sedang bermain di Tahura Juanda (dokumentasi pribadi)

Tak heran tempat ini sering dikunjungi para wisatawan mengingat kota Bandung yang sudah berkurang keindahannya, kesejukannya, dan kenyamanannya membuat orang mencari tempat untuk sekadar bernostalgia dengan kondisi kota Bandung dahulu. “Tahura menjadi penyumbang oksigen bagi kota Bandung yang sudah mulai sesak.”, ujar salah seorang wisatawan Tahura. Tahura tetap bertahan di tengah isu eksploitasi dan rencana pendirian beberapa bangunan di Kota Bandung. “Sepertinya taman hutan raya ini akan tetap aman dan dilestarikan mengingat rencana walikota Bandung yang sekarang akan mewujudkan kota yang berwawasan lingkungan.”, tambah wisatawan tersebut.

 

Taman Hutan Raya Juanda yang merupakan taman hutan raya pertama di Indonesia ini berdiri pada zaman Hindia-Belanda. Awalnya taman hutan ini berbentuk hutan lindung dengan luas wilayah 10 ha kemudian terus berkembang sampai sekarang sudah mencapai 590 ha. Berbagai kebijakan mewarnai perjalanan Tahura, kebijakan-kebijakan tersebut berpusat pada strategi pengelolaan supaya keanekaragaman hayati di dalamnya dapat terlestarikan dan lingkungan tetap asri. Konsep yang ingin dibentuk oleh pengelola Tahura ini yaitu ekowisata yang merupakan tempat wisata dengan tetap menjaga nilai-nilai ekologisnya. Oleh karena itu, tempat ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan yang hanya ingin berekreasi melainkan untuk pengetahuan mengenai sejarah, keanekaragaman hayati. Tak jarang tempat ini dijadikan sebagai tempat penelitian.

 

Konsep ekowisata ini pun mulai diimplementasikan dengan beberapa kebijakan yang salah satunya adalah upaya membatasi jumlah pengunjung dengan menaikan harga tiket. Dilihat dari perspektif pengunjung hal ini menimbulkan pro kontra karena cukup memberatkan bagi sebagian orang terutama warga-warga sekitar Tahura. Namun, kebijakan ini pun memiliki pandangan positif untuk kebaikan hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan yang ada di Tahura tersebut. Keberadaan manusia sedikit banyak mengganggu kenyamanan bagi hewan-hewan, setidaknya dengan upaya mengurangi jumlah pengunjung ini menjadi strategi yang cukup baik untuk menjaga keseimbangan ekosistem di Tahura ini.

 

Masyarakat kita masih belum dilatih untuk tahu pentingnya menjaga lingkungan dan pentingnya sustainability. Tak banyak orang yang menyadari bahwa tempat seperti taman hutan raya ini bukan hanya untuk sekedar dinikmati tetapi perlu juga dijaga agar tahura ini bisa tetap dinikmati oleh generasi mendatang kelak. “Pendidikan untuk wisatawan”, inilah yang tidak ada dalam regulasi di beberapa tempat wisata terutama ekowisata di Indonesia termasuk di tahura. Akan tetapi, masih banyak wisatawan kurang memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan akibatnya sampah-sampah berserakan meskipun sudah cukup banyak tertulis “dilarang buang sampah sembarangan”. Belum lagi, hewan-hewan sengaja diganggu, tumbuhan dirusak, dan lain sebagainya. Perilaku ini sangat mengancam keberlanjutan Tahura, ketika kebijakan tidak diikuti dengan pendidikan yang bagus efeknya tidak terlalu signifikan. Oleh karena itu pendidikan untuk wisatawan sangat penting untuk masa depan dalam menjaga lingkungan terutama Tahura yang menjadi “harapan hidup” kota Bandung.

 

Kota Bandung saat ini sedang menggagas kota berwawasan lingkungan. Taman Hutan Raya Juanda dengan berbagai tempat di dalamnya seperti, curug, gua, danau, dan lain sebagainya harusnya bisa menjadi aset berharga. Terlebih dengan program merapikan taman-taman yang terdapat di Bandung akan mengintegrasikan dan membentuk koridor antar taman tersebut sehingga hewan seperti burung yang habitatnya adalah pohon-pohon mendapatkan tempat untuk bermigrasi. Mewujudkan kota berwawasan lingkungan tentunya tidak hanya merapikan dan membersihkan tetapi tetap menjaga keanekaragaman hayati sebagai sumber daya agar kehidupan di Kota Bandung bisa terus dinikmati oleh generasi selanjutnya atau yang biasa disebut sebagai sustainable development.

 

Pembangunan keberlanjutan (sustainable development) ini merupakan suatu konsep segitiga yang menyeimbangkan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial agar ketiganya dapat berjalan sebaik mungkin tanpa menitikberatkan pada satu sektor saja. Sebagai aset berharga Tahura ini bisa menerapkan ketiga sektor tersebut. Sektor ekonomi Tahura dapat menghasilkan pendapatan untuk Kota Bandung dari perannya sebagai tempat wisata. Dari sektor lingkungan Tahura memiliki tempat yang luas dengan berisi keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Dari  sektor sosial Tahura juga dapat menjadi suatu lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar Tahura seperti membuat tempat-tempat makan, area parkir, pemandu wisata dan lain sebagainya. Konsep seperti inilah yang masih belum bisa dipahami oleh sebagian masyarakat sehingga perusakan bisa terjadi. Mimpi besar Kota Bandung sebagai kota yang berwawasan lingkungan harus bisa diwujudkan di beberapa tempat terlebih dahulu seperti Tahura, karena konsep saja tidak cukup tetapi perlu dengan tindakan untuk bisa mewujudkan Kota Bandung atau tempat-tempat wisata seperti Tahura bisa menerapkan pembangunan berkelanjutan.

 

Ada pepatah mengatakan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Inilah yang harus menjadi konsen pemerintah Kota Bandung dalam menjaga Taman Hutan Raya yang dimilikinya sebagai sumber oksigen untuk kehidupan Kota Bandung. Hal tersebut bisa dimulai dari memperbaiki hal-hal yang kecil seperti membuat regulasi, mengadakan pendidikan untuk masyarakat tentang lingkungan, atau minimal membuat masyarakat peduli dan tergerak hatinya untuk mau menjaga aset berharga ini. Menjaga Tahura ini tidak perlu dengan kata-kata indah dan besar tetapi hanya perlu tindakan kecil yang nantinya berefek besar untuk kehidupan Kota Bandung di masa yang akan datang.

 

Tentang Penulis

Ruang sederhana untuk bersenang-senang dari pikiran yang rumit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *