TENTANG GUNYAM

Di Balik Lindungan Gapura



Hujan selalu menyeretku pada kenangan di balik gapura rumahmu

***

Usia hubunganmu dengan dia mungkin sudah berada di bulan kedua. Usahaku tidak pernah berhasil menggaet hatimu. Semakin aku berusaha, semakin sakit juga hatiku memperjuangkan cintamu yang sudah memiliki pawangnya.

Anggap saja ini hanya kilas balik atas apa yang pernah kita lakukan – atau lebih tepatnya aku lakukan – untuk membangun sebuah cerita. Namun, tragis, perasaanku belum pernah kau gubris.

Mungkin kamu membaca dengan baik semua gelagatku, kamu tahu betul bahwa aku hanya berpura-pura meminjam buku pelajaran yang bahkan tidak pernah aku baca. Dengan dalih seperti itu, aku bisa terus pergi menemuimu – meski hanya di depan gapura rumahmu.

Saat itu hujan rintik-rintik, aku tetap memaksakan pergi ke rumahmu.

Aku ketikkan suatu pesan sebagai pertanda bahwa aku sudah tiba di gapura rumahmu,

“Aku udah sampai, tunggu di gapura ya…”

Setelah beberapa menit, kamu datang juga dengan membawa beberapa buku paket eksak cukup tebal jika harus benar-benar aku baca, dan itu sangat menyebalkan. Andai yang kamu bawa adalah buka romansa atau novel genre apapun, pasti masih akan sempat aku baca.

Perbincangan bermula mengenai kabar ibumu, ayahmu, adikmu, tak lupa kutanyakan kabar kekasihmu. Kamu bilang mereka semua baik, mereka sehat, mereka bahagia. Bahkan kamu bilang kekasihmu tidak pernah tahu setiap aku datang menemui.

“Aku gak mau nyakitin kalian…” ucapmu saat kutanya mengapa.

Padahal dengan kau bilang begitu, salah satu dari kami benar-benar tersakiti. Lalu hujan seakan mengerti situasi. Ia bertambah deras, buku darimu langsung aku masukkan ke ransel.

Walaupun di gapura memiliki ruangan kecil untuk berteduh, tapi itu tidak berhasil menyelamatkan kami dari angin yang menjawil. Tubuhnya tampak menggigil, aku mengambil inisiatif untuk meraih tanganya. Beberapa kali aku gesek permukaan tanganku lalu kembali kutempelkan pada punggung tangannya.

Dia luluh dengan perlakuanku menyelamatkannya dari dingin yang melanda. Beberapa kali sempat aku dekap dia, jaket pun sudah aku pasangkan di tubuhnya. Hujan menyerbu cukup lama. Sampai hujan sedikit reda, dia masih dalam rangkulanku.

“Dengan dia, aku tidak pernah seperti bersamamu.”

Napas yang hangat itu sampai pada telingaku, bisikan itu adalah motivasi yang membangkitkan semangat untuk terus berjuang mendapatkan hatinya.

Aku hanya membalas ucapannya dengan satu kecupan manis di keningnya. “Semoga kita bisa tetap begini…” ia berucap dalam dekapan yang semakin erat dengan mata yang terpejam.

Kalau ada cara untuk membuat waktu berjalan lambat, saat itulah aku benar-benar ingin waktu memperlambat kerjanya.

***

Melihat kamu yang kian hari bertambah cantik, aku bersyukur pernah berada pada jalur untuk memilikimu, pernah membuatmu tersenyum bahagia, pernah membuatmu berkata “Dengan dia aku tidak pernah seperti bersamamu”. Meski hanya sebatas pernah, berada pada masa itu adalah salah satu hal paling menyenangkan dalam kisahku.

Tentang Penulis

Muhammad Taufik Hidayat. Lelaki asal Cianjur yang sedang tinggal di Tasikmalaya. Dapat dihubungi melalui akun instagram @bati9ol

Ruang sederhana untuk bersenang-senang dari pikiran yang rumit.

2 thoughts on “Di Balik Lindungan Gapura”

  1. Alma says:

    Pik kayak ada pengalihan sebutan ya, awalnya org kedua terus jadi ketiga. Sengaja kah?

  2. Alma says:

    Keren pik, khas Opik bgt nih ceritanya. Semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *