TENTANG GUNYAM

Gundala, Film The Flash Ala Indonesia?



“Gundala film apaan?”, tanya salah satu teman kerja saya yang kebetulan saat itu sedang membahas film yang sedang naik layar.

“Itu loh, film The Flash Indonesia. Saya sih gak tertarik,” kemudian ditutup tawa.

Statement sekitar saya yang demikian sempat membuat saya ragu untuk menonton. Walaupun Joko Anwar adalah salah satu sutradara favorit saya, tapi bisa gak ya beliau sukses men-direct film superhero?

Malam Minggu yang tidak kelabu, akhirnya saya putuskan untuk nonton bersama Si Pacar. Kursi sudah terpesan semua, saya duduk di depan, sudah pasti nenggak dan bikin leher pegal, celetuk saya pelan. Baru beberapa menit dimulai, Si Pacar bilang “Kok kaya film horor ya?”. Wajar saja, Joko Anwar adalah sutradara spesialis film horor. Suara latar yang dipilih, tata cahaya, serta sinematografi yang diterapkan, harus diakui memang terkontaminasi film-film Joko Anwar yang seram-seram itu. Sutradara Film Pengabdi Setan ini bahkan membubuhi film super hero tersebut dengan lagu mengerikan yang khas, lagu apa hayo?

Seolah kehabisan pemain, Joko Anwar lagi-lagi menggandeng Tara Basro,¬†Marissa Anita, dan Muzakki Ramdan. Tapi tunggu, jangan underestimate dulu. Alasan kenapa Muzakki Ramdan yang dipilih sebagai Sancaka kecil karena adu aktingnya sebagai ibu dan anak bersama Marissa Anita difilm folklore-nya Joko Anwar berjudul A Mother’s Love memang memiliki chemistri yang kuat. Hal itu juga yang membuat adegan keduanya dalam film ini berhasil menguras emosi. Soal Tara Basro, dia memang cocok jadi pemberontak. Karakter wajahnya yang berani memang pas menduduki perannya di Gundala. Tak hanya mereka bertiga, Joko Anwar juga mengajak pemeran keren lainnya yang membuat Gundala semakin mengigit. Lukman Sardi, Rio Dewanto, hingga Sujiwo Tejo. Wah ini sih kesayangan saya semua. Sedang Gundala sendiri diperankan oleh Abimana Aryasatya yang harus saya akui memang bukan salah satu pemain favorit saya, tapi setelah nonton film ini saya nobatkan Abimana menjadi salah satu jagoan saya.

Ada kutipan yang membuat saya bangun saat menit-menit pertama film ini diputar, “Karena kalau kita diam saja melihat ketidakadilan di sekitar kita, artinya kita sudah kehilangan kemanusiaan”.¬†Gundala tadi malam tadi juga berhasil membobol angka satu juta penonton, tak hanya itu, film ini juga bahkan masuk dalam daftar film wajib tonton di Toronto Internasional Film Festival (TIFF) 2019. Film Gundala memang tidak secanggih efek-efek ala Marvel. Gundala beda dari sekedar film gelut, dalam filmnya ia juga mengkritik habis-habisan dunia politik. Nonton film ini, bukan hanya disuguhi film jagoan dengan jurus-jurus jitu, Gundala juga berhasil membangkitkan rasa nasionalisme. Masalah yang dipilih berangkat dari persoalan yang dekat dengan kita: kemiskinan, budaya nyogok, bisnis mafia, dll. Jadi bukan sekadar jagoan melwan musuh untuk membasmi kejahatan. Menonton film ini, membukakan mata kita bahwa memang begitu yang terjadi di negeri kita. Keren ya?

Film Indonesia sekarang semakin baik ya, saya sih bangga. Tertarik nonton? Jangan bawa anak dibawah 13 tahun ya. Saya sih gak sabar nunggu film lanjutannya yang akan di garap pada semester kedua tahun ini. Saya akan review film lanjutannya nanti. Gih, ke bisokop sekarang.

Perempuan yang gak serius-serius amat. Hobinya bercanda, tapi gak lucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *