TENTANG GUNYAM

Suka Nonton Drakor, Kefir Ya Lord



K-Drama alias Drama Korea atau yang milenial sebut Drakor sejak tahun 2000-an masuk ke tanah air Indonesia. Ia menjelma industri perfilman yang membabi buta, menyerang semua segmen generasi muda, tak terkecuali pria atau wanita. Drakor benar-benar membutakan mata. Semua tergila-gila. Padahal kebanyakan ceritanya paling tentang kisah pria dan wanita yang saling jatuh cinta. Si pria orang kaya dan si wanita orang miskin dengan suara cempreng. Film gitu mah ada tuh di FTV SCTV juga. Tapi, mohon maaf, nihada juga felem-felem Korea yang menarik enggak cuma soal percintaan.

Eits, omong punya omong, Drakor ini berkembang awalnya untuk mengatasi krisis keuangan di Asia sekitar tahun 1996. Pada masa itu berkembang pesat drama asal Meksiko yaitu serial telenovela. Telenovela seakan menyihir banyak kalangan untuk ikut meresapi kisah sedihnya termasuk emak saya. Setiap beliau sedang menonton telenovela, pokoknya enggak boleh diganggu gugat.

Korea Selatan berupaya membangkitkan industri perfilman tanah airnya dengan membuat Drakor. Bahkan pemerintah Korea sampai memberikan anggaran khusus untuk membangkitkan dunia hiburan di sana. Keputusan tersebut menjadi langkah yang tepat, Drakor berhasil menjadi tontonan nan menarik di setiap episodenya tak terkecuali bagi anak-anak muda di tanah air. Saya ingat, sewaktu kuliah memiliki teman perempuan yang hobi bertukar Drakor. Mereka sangat update mengikuti perkembangan serial drama terbaru bahkan ada yang sampai menelusuri kehidupan sehari-hari warga Korea. Dari mulai bahasa, makanan, pakaian sampai harapan punya pasangan pun seganteng Oppa-Oppa Korea. Salah? Ya enggak juga sih, ‘kan itu urusan pribadi dia. Lagi pula soal jodoh, hanya Tuhan yang tahu.

Tapi usut punya usut, beberapa hari ini jagad media masa dan media sosial tanah air heboh dengan pernyataan Ustadz Abdul Somad (UAS) tentang perdramakoreaan. Salah satu video ceramahnya yang diunggah dalam satu platform media sosial youtube bercerita tentang hukum Drakor. Pada saat itu UAS yang sedang berceramah tiba-tiba mendapatkan pertanyaan dari jamaah, “Apa hukumnya menggemari, menyukai film Korea?,” Dengan lantang UAS pun menjawab, “Jangan suka kepada orang kafir, siapa yang suka kepada orang kafir, maka dia bagian dari kafir itu. Condong artinya pada orang kafir,” jawabnya. Duhhh yahh…

Jangan ditonton lagi itu sinetron-sinetron Korea, rusak. Nanti pas sakaratul maut, datang dia ramai-ramai. Apa yang sering kita dengar, apa yang sering kita tengok akan datang saat sakaratul maut,” tandasnya. Dikutip dari portal berita Viva.co.id.

Saya sih enggak terlalu menggilai Drakor tapi saya suka nonton bola. Klub bola favorit saya Inter Milan, saya takut nanti waktu sakaratul maut akan datang Javier Zaneti. Duh semoga dia bisa membimbing saya mengucap dua kalimat syahadat.

Sontak saja, ucapan UAS menjadi buah bibir warganet alias penduduk +62. Ada yang merisak ada juga yang membela. Yah namanya juga kehidupan, enggak selamanya kita dibela. Ibarat peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga barangkali. Namun, UAS memang sering mendapat framing seperti itu. Kasus lainnya, pernyataan UAS soal salib merupakan patung yang isinya syetan juga heboh.

Saya sempat ikut berkomentar, tapi kemudian saya merenungi perkataan UAS dengan dalam. Ingat akan diri saya yang juga sempat menonton drama korea bersama teman-teman kosan saya sewaktu kuliah. Apa yang harus saya lakukan, Netizen? Apakah saya harus taubat nasuha? Belum lagi adik saya begitu menggilai artis-artis korea (K Pop) sampai-sampai, perihal memakai fashion saja, adik saya berkiblat ke sana. Sungguh saya merasa kekafiran ini begitu paripurna.

Saya jadi penasaran juga, kafir itu seperti apa sih sebenarnya? Selama ini kita mudah saja menyebut seseorang kafir atau tidak jarang disebut juga kafir oleh orang lain. Nonton drakor, kafir. Beda dukungan politik, kafir. Beda tempat ngaji, kafir. Duh semudah itu disebut kafeer.

Tapi apa sih kafir itu? Seperti apa wujudannya?

Kalau menurut KBBI, kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasulnya. Dimana dalam kategorinya ada kafir harbi yaitu orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan islam sehingga wajib diperangi. Kemudian ada kafir Muahid yaitu orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat islam bawah mereka tidak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat islam selama perjanjian berlaku. Terus yang terakhir ada kafir Zimi yaitu orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan islam dengan kewajiban membayar pajak bagi yang mampu.

Dalam Q.S. 2:6-7 disebutkan pernyataan tentang orang kafir yang artinya “Sesungguhnya orang orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereak dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat,”.

Hmm apakah nonton drakor masuk kategori kafir? Saya belum melihat dia masuk kategori yang mana dalam strata kafir. Tapi kalau dalam bahasan UAS, barangkali ada nilai nilai buruk yang didapat ketika kita menonton drakor secara berlebihan. Kita sampai lupa waktu, atau bahkan lupa masa depan hhee. Karena semua yang berlebihan itu enggak baik, seperti kata Roma Irama semua yang enak-enak itu yang dilarang. Nah nonton drama enak ga? Gimana kata netizen yang terhormat?

Waktu dan tempat dipersilakan, Ndorooooo.. (*)

Bagiku menulis itu seperti jatuh cinta, yang hadir tanpa berencana dan indahnya datang tanpa rekayasa waktu. Ketika hasrat itu datang, maka menulislah.

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *