TENTANG GUNYAM

Kembalinya Aku



Aku kembali seperti yang sempat kujanjikan padamu.
***
“Satu tahun lagi? Masih sanggup buat nunggu?” Tanyamu sebab tidak yakin padaku.
“Aku sudah pernah menunggu lebih dari itu….”
Langkahmu tak sepenuhnya yakin untuk meninggalkanku malam itu. Jelas bukan? Perdebatanmu dengannya kembali membuatmu mencari hangat pelukku untuk menenangkan dirimu. Aku menjadi tempat peraduan paling padu, menghapus lembut derai air matamu dan memastikan isakmu reda di dekapanku.
***
Malam masih muda, terlalu dini untuk kembali memikirkanmu.
Belum genap satu tahun dari perbincangan kala itu, tapi kabar kandasnya hubunganmu telah sampai di telingaku. Ternyata kau sudah tidak kuat untuk menahan lebih lama lagi derita yang kau terima darinya.

Bagaimana? Aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bahkan kemungkinan paling pahit pun, kemungkinan bahwa kau akan kembali berkelit dari setiap ajakanku menggenapkan hatimu. Apa kau akan kembali meminta waktu? Tak baik menunda-nunda. Bukankah begitu yang selama ini kita pelajari?

Ada baiknya, aku paparkan rencanaku setelah tahu statusmu yang kini adalah tuna asmara.

Pertama, akan aku kirimkan lembaran ini padamu. Agar kau dapat sedikit mengingat malam-malam saat kau bercerita padaku, tentang dia yang tidak lagi menginginkan cerita itu berlanjut.

Setelah kau baca, ingat, dan paham betul apa maksud dari kukirimkannya tulisan ini, aku akan mulai menemuimu. Tidak ingin terlalu lama aku membiarkan hatimu kesepian. Aku akan lekas memerdekakan jiwamu, menggenapkan hatimu, dan mengusir lara jauh-jauh agar enggan kembali padamu. Kamu adalah orang terindah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya bisa memilihku sebagai tempatmu mengadu sendu.

Menjagamu tidak akan mudah. Tapi melepasmu adalah gelisah. Namun jika pesan ini tak kunjung kau balas, lebih parahnya tak pernah kau baca, atau tak pernah sampai pada tanganmu, artinya aku mengerti seperti apa posisiku di hatimu. Meskipun tidak akan rela bila kau terjatuh pada pelukan yang salah, pada akhirnya aku sadar bahwa di kehidupanku sudah cukup bagi hatimu sekadar singgah.
***
Fondasi untuk membangun sebuah cinta adalah sadar. Karena sesungguhnya cinta itu menyadari sesadar-sadarnya. Dan aku sadar bahwa untukku, cintamu masih saja samar.

Tentang Penulis

Muhammad Taufik Hidayat. Lelaki asal Cianjur yang sedang tinggal di Tasikmalaya. Dapat dihubungi melalui akun instagram @bati9ol

 

Ruang sederhana untuk bersenang-senang dari pikiran yang rumit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *