TENTANG GUNYAM

Menikah Tak Cuma Butuh Cinta Tapi Juga Sertifikat



Menikah adalah salah satu ibadah terpanjang yang harus dijalani oleh umat manusia. Sepasang suami istri akan saling berbagi kasih dan cinta untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah (Samawa). 

Menikah adalah impian banyak orang tapi banyak juga yang hanya bermimpi untuk menikah tapi akhirnya ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya. Namun demikian, perihal kasuistik asmara semacam itu benarlah terjadi di dunia nyata nan fana ini. Itu adalah salah satu bentuk bimbingan pranikah yang sifatnya natural dan berjalan bersama takdir yang direstui semesta. Ketika pasangan muda mudi terkena seleksi alam sampai akhirnya harus mencari bahu baru yang tepat untuk meneruskan jalan hidupnya sampai ke jenjang pelaminan.

Menikah pada era kepemimpinan Presiden Jokowi – Maruf Amin akan punya taste yang berbeda. Kamu gak cukup melamar pasanganmu hanya bermodalkan cinta dan rayuan belaka apalagi cuma martabak Bangka buat si bapak calon mertua. Butuh yang namanya sertifikat pranikah. Aturan ini wacananya dikeluarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Masyarakat dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy. Menurut beliau, masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan wajib mengikuti kelas atau bimbingan pranikah untuk mendapatkan sertifikat yang dijadikan sebagai syarat perkawinan.

Menurut mantan Mendikbud pada era Jokowi-JK ini, aturan baru tersebut dianggap bermanfaat dan nantinya akan berguna sebagai bekal bagi pasangan ketika berkeluarga. Melalui kelas bimbingan, masyarakat yang berencana menikah akan diberi bekal tentang pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, penyakit yang mungkin terjadi pada permasalahan suami istri hingga masalah stunting pada anak. Tidak main-main, kelas bimbel ini akan dilakukan selama tiga bulan sebelum menikah. Bagi masyarakat yang dinyatakan lolos akan diberikan sertifikat hak milik. Bisa digadein gak ya sertifikatnya, ‘kan lumayan buat tambah tambah mas kawin.

Wacana ini menimbulkan polemik, karena adanya aturan ini diyakini akan memberatkan pasangan yang hendak menikah. Tiga bulan bukan waktu yang singkat, ini adalah masa calon pengantin sibuk fitting gaun, nyari catering, dekorasi sampai mas kawin yang pas. Belum lagi kalau harus dipingit sebelum menikah, lah sudah barang tentu membebani. Diyakini pula dengan adanya aturan ini malah akan menimbulkan banyak perzinahan. Sebab mereka tak lolos sertifikasi akhirnya tak bisa melanjutkan ke jenjang halal. “Sabar ya, Dek, Abang belum tersertifikasi,”. “Iya Bang, kalau bisa bulan depan Abang bimbel ya biar bisa lulus passing grade“.

Tapi sebenarnya ya, Gaes, menurut terawanganku, sertifikat ini memang dibutuhkan untuk membina keluarga yang harmonis. Karena tanpa sertifikat , pasangan suami istri rentan dengan godaan orang ketiga. Memang hidup berumah tangga tak cukup cuma modal papan tapi harus mapan. Jadi sertifikat benar benar solusi yang tepat, apalagi sertifikat tanah, rumah, vila, sawah itu perlu.

Lalu bagaimana menurut kalian? Apakah perlu kita tersertifikasi dulu baru bisa menikah? “Padahal yang buat aturan juga belum tentu tersertifikasi”.

Hmmm… (*)

Bagiku menulis itu seperti jatuh cinta, yang hadir tanpa berencana dan indahnya datang tanpa rekayasa waktu. Ketika hasrat itu datang, maka menulislah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *