TENTANG GUNYAM

Jabatanku Tiga Periode atau Tujuh Tahun Hmmm



Periode masa jabatan presiden, baru-baru ini jadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat baik kelas menengah, bawah, maupun atas. Kalau yang tinggal kelas gimana? Saya ndak tahu karena ndak pernah tinggal kelas keles. Polemik ini muncul ternyata diawali oleh pernyataan salah satu anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) berkenaan dengan pengusulan agar masa jabatan presiden diperpanjang menjadi tiga periode. Padahal, masa jabatan dua periode ini dinilai sudah sesuai dengan semangat reformasi dan harmonisasi birokrasi. Enggak boleh nambah. Emang makan nasi padang pake nambah!

Masa jabatan presiden ini sudah diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang pemilu dan dalam UUD 1945 pasal 7 yang berbunyi presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun. Sesudahnya mereka dapat dipilih dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan. Sudah jelas toh, lagi pula emang ga capek apah sampe tiga ronde.

Muncul pendapat lain dari politisi muda sekaligus Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany Alatas yang mengusulkan agar masa jabatan presiden diperpanjang jadi tujuh tahun untuk satu periode. Alasannya agar presiden bisa fokus bekerja dan tidak memikirkan pemilu selanjutnya. Yoi, Bro, kalau masa jabatan diperpanjang menjadi tujuh tahun, tentu supaya bisa kerja, kerja, dan kerja. Kalau terpotong periode tentu saja fokus kerja terbagi dengan hal: bagaimana caranya duduk lagi periode berikutnya. Akhirnya, yang muncul bukan kerja kerja kerja diakhir masa jabatan, tapi citra, citra, citra. Iya tohNdoro? Everybody knew your liar...

Usut punya usut, biaya pemilu ini semakin hari memang semakin mahal. Jangankan untuk jadi presiden, untuk kelas pilkada kabupaten/kota saja, ditaksir cost politiknya mencapai 30 miliar rupiah, kata Kemendagri. Bisa dibayangkan toh berapa angka buat masuk bursa pilpres? Tentu saja, angka yang sangat fantastis dan bombastis. Uang sebesar itu kalau dibelikan terompet bisa bikin malaikat salah tangkap, dikiranya sudah masuk akhir zaman alias kiamat. Mateek, Sampeyan.

Bukan ‘kah, segala yang berlebihan itu tidak baik? Seperti kata hadis, berhentilah sebelum kenyang. Jangan sampai terlalu kenyang sampai lupa kalau besok memang masih harus makan lagi. Akhirnya mabok dan jatuh ke lubang kenangan yang terdalam. Eh mantan.

Namun, untung saja, Presiden Joko Widodo sudah ambil sikap. Dirinya menolak adanya perpanjangan masa jabatan jadi tiga periode. Beliau menilai usulan mengubah masa jabatan presiden ini punya tiga makna tersembunyi. Pertama ingin menampar muka beliau. Kedua ingin mencari muka dan ketiga ingin menjerumuskan beliau. Hmmm bener juga loh yah.

Menurut sobat Gunyam gimana? Apa setuju dengan dua pendapat politisi ini? Pilih tujuh tahun apa tiga periode? Atau pilih aku yang pasti mencintaimu. (*)

Bagiku menulis itu seperti jatuh cinta, yang hadir tanpa berencana dan indahnya datang tanpa rekayasa waktu. Ketika hasrat itu datang, maka menulislah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *