TENTANG GUNYAM

Selera Humor Si Bos, Mirip Kentang Goreng



Tertawa adalah hak segala bangsa. Hal paling mendasar dalam kehidupan yang menjadi salah satu ciri seseorang bahagia. Walau kadang ada tawa palsu, tapi pada hakikatnya tawa adalah sebuah keikhlasan. Tertawa adalah bentuk komunikasi dasar yang dilakukan manusia bersama tangis.

Membuat orang tertawa bukan perkara mudah. Tidak semua upaya melucu lantas bisa membuat orang tertawa. Kelucuan punya kadarnya dan standar yang berbeda bagi setiap orang. Ini soal selera, barangkali. Beda halnya kalau soal si dia yang selalu membuat kamu tertawa walau hanya hal kecil yang dilakukannya, eaa.

Akhir-akhir ini banyak artis yang tiba-tiba jadi pelawak dadakan. Ndak jadi masalah sih, toh membuat orang tertawa itu ada pahalanya. Cuma yang jadi masalah, melucunya itu Ioh enggak lucu dan enggak dibarengi basic. Seperti akhir akhir ini banyak film yang bernuansa reborn. Salah satunya film warkop. Peran Dono, Kasino, Indro benar benar sudah melekat sebagai katalis tawa. Orang dari berbagai generasi bisa tertawa dengan melihat dia mencetuskan beberapa kalimat saja. Bahkan hanya dengan satu tawa dia, kita sudah bisa ikut tertawa. Ada kharisma tawa dalam dirinya.

Kemunculan Warkop DKI Reborn, jauh sekali dari pemicu tawa. Tawa yang diharapkan dalam film ini hanya menjadi tujuan untuk sebuah kesuksesan lawakan semata, tidak dibarengi keikhlasan. Basis tawa Dono, Kasino, Indro beda level katalis tawa dengan Vino, Abimana dan bahkan Tora. Terlalu serius barangkaliYa seperti lawakan si bos saat rapat kerja. Pasti di antara kita pernah ada di situasi ini. Terpaksa tertawa karena situasi dan kondisi yang serba kikuk. Sudah mah lawakannya garing udah gitu basi pula, ya elah tertawa sedih.

Menurut saya sih ada beberapa faktor yang membuat orang tertawa. Pertama karena faktor lucu, sehingga orang yang melihat benar benar ingin tertawa bahkan sampai menitikkan air mata alias tertawa terbahak-bahak yang nyaris membunuhmu karena sampai lupa untuk bernafas.

Kedua, karena faktor jabatan atau usia sehingga bawahan terpaksa tertawa walau humornya sekering kentang goreng. Kalau tak ketawa, khawatir berbuntut panjang, mood si bos jadi berubah. Atau ketika calon mertua melucu tapi nda lucu blas, mau nggak mau kekuatan untuk ketawa harus dikeluarkan. Kalau enggak ketawa, bisa-bisa nda dapat restu.

Ketiga, faktor saling menghargai, sesama manusia ‘kan kita tetap harus saling menghargai termasuk dalam hal tawa. Semisal dengan gebetan, gak lucu juga ya harus ketawa daripada diungkit terus di masa depan. Jadi, tertawa seperti sebuah fatic komunikasi alias bahasa basa-basi untuk menyenangkan si dia. (*)

Bagiku menulis itu seperti jatuh cinta, yang hadir tanpa berencana dan indahnya datang tanpa rekayasa waktu. Ketika hasrat itu datang, maka menulislah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *