in

Kisah Seonggok Penis

seonggok penis

“Al Insaanu huwa hayawaanun naatiqun.”
—Al-Balaghoh

Manusia adalah hewan yang berbicara, begitu kira-kira isi kutipan di atas. Satu-satunya kutipan yang paling kuingat dari buku pelajaran Balaghoh kelas XI. Kisah Ajo Kawir dalam buku ketiga Eka Kurniawan memicu ingatanku pada kutipan itu. Bagaimana tidak, usai membaca Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, aku sampai pada kesimpulan bahwa manusia bisa dikendalikan oleh 4 hal: otak, hati, perut, dan kemaluan. Satu dari keempat hal itu bisa bekerja lebih banyak tergantung seberapa banyak porsi yang diberikan oleh pemiliknya. Dua di antara empat hal itu dimiliki dan digunakan hewan sepanjang hidupnya. Dia yang bekerja paling banyak bisa mengindikasi seberapa manusia atau seberapa binatangkah kita saat itu.

Kesimpulanku mungkin salah. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas nyatanya sebuah cerita yang panjang tentang penis yang tak bisa memanjang milik seorang lelaki bernama Ajo Kawir. Lelaki malang itu harus menerima kenyataan pahit sejak usianya masih 12 atau 13 tahun, kukira. Dalam masa remaja yang bergejolak, di sebuah rumah milik seorang perempuan gila, burungnya menciut dan tak bangun untuk waktu yang lama.

Burung yang tertidur pulas itu membangunkan beragam konflik bagi Ajo Kawir. Pada suatu masa, ia harus pergi dari cinta pertamanya. Di masa yang lain, Ajo kawir harus berbaku hantam dengan lelaki yang tak ia kenal. Si burung yang lelap membawa Ajo Kawir berkelana, ke penjara, menjelajahi jalanan, lalu bertemu Jelita. Lewat Jelita, takdir memaksanya kembali pada malam jahanam itu. Parasnya yang tak seberapa, justru mampu menggeliatkan si burung yang telah lama tertidur. Burung Ajo Kawir mengeras. Begitupula ingatannya.

Tampaknya kita semua memang mengakui bahwa kepiawaian Eka Kurniawan dalam menulis cerita sudah tak perlu diragukan lagi. Penulis kelahiran Tasikmalaya ini memang pandai meramu cerita yang eksentrik dengan tokoh-tokoh tak biasa. Ajaib sekali rasanya, seonggok penis yang tak bisa ngaceng bisa menjadi pangkal dari isu sosial yang diusung Eka kali ini. Tak main-main, hampir di keseluruhan cerita, Eka membangun satire yang menarik. Kupikir, Eka sedang menyisipkan hal yang tak bisa diraba hanya lewat nafsu berahi.

Perihal penis pada sekawan polisi yang memperkosa wanita gila bisa jadi bahan cuitan yang asik bagi warga twitter. Dua orang polisi itu bisa dicaci maki sedemikian rupa karena memperlakukan wanita sebagai objek seksual. Padahal kita tahu sendiri, betapa saat ini jargon “tubuhku otoritasku” sedang galak-galaknya disuarakan para aktivis perempuan. Lelaki waras mana yang tega memperkosa seorang wanita gila jika ia tak sama gilanya? Gila berahi, menjadikan penis mereka sebagai alat menguasai tubuh orang lain.

Di bagian yang lain, menjelang akhir cerita justru ada kontradiksi yang lucu. Iteung—istri Ajo Kawir—memperalat penis gurunya untuk membalas dendam. Suatu sore, saat Iteung sudah dewasa dan molek, ia menggoda gurunya di ruang kelas, tempat dulu ia digerayangi. Lelaki itu terlena, penisnya mengeras, ia tak tahu Iteung sudah menyiapkan pukulan keras yang membuatnya kocar-kacir. Sungguh nasib yang nahas, penis yang sempat ia gunakan untuk menguasai Iteung, berbalik jadi senjata yang mempermalukan dirinya sendiri.

Bila kita menarik benang merah pada apa yang terjadi saat ini, kasus-kasus perkosaan atau pelecehan terhadap perempuan seringkali menjadikan perempuan sebagai kambing hitam. Perempuan kerap disalahkan karena berpakain terbuka-lah, berpenampilan menggoda-lah, dan –lah, -lah, lain yang kupikir tak sebegitunya untuk disalahkan kepada perempuan. Perihal berahi bukankah kendalinya menjadi urusan masing-masing?

Cerita Eka, bagiku selalu menyerupai sebuah rentang kehidupan yang utuh. Eka memosisikan tokoh utama tidak sebagai semesta cerita. Sebagaimana halnya hidup, walau masing-masing kita menjadi tokoh utama, mau tak mau, walau sedikit, kita akan dipengaruhi oleh orang lain. Tokoh-tokoh sampingan seperti si Tokek, kawan dekat Ajo Kawir mendapatkan porsi yang cukup banyak. Dalam cerita ini, Tokek memiliki kisah asiknya sendiri dengan penisnya. Atas nama rasa bersalah karena ia menyeret Ajo Kawir pada malam jahanam itu, Tokek bersumpah tak akan pernah menggunakan penisnya sebelum penis Ajo Kawir ngaceng lagi. Sebuah sumpah yang sakral bukan?

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah buku yang berani. Bukan, bukan soal penis yang ia ceritakan, meski, ya, itu juga salah satunya. Maksudku, Eka memang senang buka-bukaan. Ia dengan senang hati memberi tahu pembaca tentang konflik utama cerita bahkan di kalimat pertama! Jika tak pandai memilin rasa penasaran pembaca, jurus itu bisa mematikan. Tapi, lagi-lagi, begitulah Eka. Ia amat mahir menggunakan konflik internal tokoh sampingan untuk membuat pembaca tetap mengikuti kisah Ajo Kawir sampai akhir!

Membaca buku yang berani ini membutuhkan banyak keberanian juga. Berani untuk berhati-hati karena loncatan peristiwa dalam kisah ini tak didahului bab-bab yang jelas. Kita bisa tiba-tiba terseret dalam kisah Iteung saat sedang menyimak kisah Ajo Kawir, pula tokoh-tokoh yang lain. Ritme cerita mulai memadat sambil meloncat di bagian tengah sampai hampir akhir cerita. Eka membuat dua-tiga paragraf untuk satu tokoh lalu meloncat ke tokoh lain di paragraf pendek setelahnya.

Apa yang dikisahkan Eka tentang Ajo Kawir ini semata-mata bukan cuma soal penis, tentu saja. Filosofi lingga dan yoni, mendeskripsikan lingga atau penis dengan sifat yang agresif, ambisius dan cenderung menyerang. Yoni sebagai simbol untuk vagina dideskripsikan lebih damai dan bertahan. Dalam kisah Ajo Kawir dan Iteung sebagai sepasang suami istri, penggambaran tentang lingga dan yoni justru berlaku sebaliknya.

Iteung membuktikan dirinya sebagai perempuan bebas yang memiliki kendali atas tubuh dan pikirannya. Walau secara biologis dikatakan feminin, namun pola pikir dan karakter Iteung begitu maskulin. Sebagai perempuan, Iteung berani melawan kesemena-menaan laki-laki terhadapnya. Ia pun menjelma perempuan yang lebih ambisius menuntaskan dendam atas kejadian yang menimpa Ajo Kawir ketimbang Ajo Kawir sendiri. Melalui hal ini, sedikitnya Eka menunjukkan bahwa maskulinitas dan feminintas tak pernah hanya menyoal organ genital, cakupannya lebih luas dan menyeluruh karena melingkupi cara berpikir dan sikap masing-masing individu. Maka dari itu, kupikir perkataan seperti, “Perempuan tak boleh bekerja kasar,” “Laki-laki harusnya tak menangis”, dan perkataan lain yang menimbulkan bias gender adalah bentuk pendiskriminasian manusia. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak hidup yang setara atas segala sesuatu selama itu tak menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Hal lain yang menarik untuk dibahas dalam cerita ini yakni usaha Ajo Kawir untuk berdamai dengan dirinya dan penisnya. Meski begitu dendam pada mulanya, setelah banyak peristiwa yang ia alami, Ajo Kawir bahkan tak peduli lagi jika penisnya tak mampu berdiri untuk seumur hidupnya. Pelan-pelan, lelaki itu bersikap lebih bijaksana ia menjadikan penisnya sebagai guru selamat. Dari burung yang tertidur itu Ajo Kawir belajar mengendalikan monster dalam dirinya. Ia tak lagi ingin berkelahi, tak sudi lagi membunuh, belajar memaafkan Iteung beserta masa lalunya. Pada akhirnya lewat penis yang ia benci, ia belajar mengenal dirinya sendiri. Kupikir, rasa benci terhadap sesuatu timbul karena ketidakmengertian kita. Ketidaktahuan sering menimbulkan prasangka, bukan? Namun, peristiwa-peristiwa yang kita benci, akan tetap memiliki jejak. Akan tetap membenci atau tidak, kembali pada kemauan untuk melihat peristiwa itu dari kaca mata yang sama atau berbeda.

Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu setelah membaca ini. Akankah merasa benci padaku atau pada Eka atau mungkin pada penismu sendiri. Hahah. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu setelah membaca ini. Akankah merasa berani menantang berahimu atau tetap merasa takut sambil penasaran tentang Ajo Kawir dan burung-burung yang lain. Berani membaca (lagi)?

Baca juga Kamu Masih Perawan?

What do you think?

Ditulis oleh Lupy Agustina

Suka minum air putih dan nulis tipis-tipis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Novel Baswedan-Hukum

Novel Baswedan: Satu Tahun untuk Satu Mata

Berkenalan Lebih Dalam dengan Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan