in

LoveLove

Maaf, Aku Tidak Sesuai Ekspektasimu

Tak Sesuai Ekspektasi

Di antara kita pasti pernah mengalami kekecewaan karena suatu hal yang tidak berjalan sesuai ekspektasi. Kamu tahu kan kalau ekspektasi adalah sebuah harapan atau keyakinan seseorang terhadap sesuatu agar menjadi kenyataan di masa depan.

Jika ekspektasi kita terlalu tinggi terhadap sesuatu atau seseorang, dan ternyata hal itu tidak sesuai dengan kenyataannya, maka seseorang bisa merasa stres atau bahkan depresi. Gak heran deh kalau banyak orang yang bilang “jangan ngarep tinggi tinggi, nanti kalau jatoh, sakit lho”. Oleh sebab itu, penting untuk kita mengelola ekspektasi.

Hal ini bisa dikaitkan juga dengan bagaimana pandangan orang lain terhadap kita. Sering kali kita jadi ‘kepusingan’ atas apa yang diucapkan orang lain terhadap kita atau bahkan udah kepusingan duluan sebelum orang lain mengungkapkan pandangannya terhadap kita. Seperti mendapat kritikan atas penampilan fisik atau perilaku kita.

Sebut saja public figure yang paling sering mengalami hal ini. Apa pun yang mereka lakukan, pasti akan selalu ada yang mengomentarinya, entah komentar baik entah komentar buruk. Bahkan belum bertindak pun, public figure sudah dicecar untuk dikomentari. Timbullah rasa khawatir kalau tindakannya nanti akan dicap yang aneh-aneh karena ekspektasi orang terhadapnya sangat tinggi.

Baca Juga: New Normal Bukan Ajang Tamasya

Mereka yang mengucapkan komentar itu biasanya menaruh ekspektasi pada public figure tersebut. “Kok gendut sih sekarang?” (orang ini seakan menaruh harap bahwa si A punya tubuh tetap langsing).

“Kak, plis jangan pacaran sama dia, dia gak baik buat kakak” (orang ini seakan menaruh harap si A tidak berpacaran dengan si B karena khawatir si A akan terpengaruh narkoba atau pengaruh buruk lainnya).

“Pamer banget sih, bagi-bagi rezeki aja dibikin konten” (orang ini seakan menaruh harap si A cukup berbagi tanpa orang lain tau).

Siapa suruh menaruh ekspektasi terhadap orang lain? Padahal public figure itu tidak bisa bahkan tidak punya kewajiban untuk memenuhi tiap-tiap ekspektasi orang lain. Namun, mengapa mereka jadi korban ekspektasi? Padahal mereka punya hak atas kehidupannya sendiri.

Masa iya, korban ekspektasi harus melulu minta maaf kalau dirinya tidak bisa mewujudkan ekspektasimu itu.

Contoh lain:

Denis punya fisik sempurna, wajah tampan, dan postur tubuh yang tinggi ideal. Yuri yang baru melihatnya pun berekspektasi bahwa Denis punya hobi bermain basket, dan yakin bahwa Denis bisa jatuh cinta dengan Yuri. Namun Denis justru khawatir Yuri akan menjauhinya dan tidak mau menjadi temannya lagi.

Setelah berteman dan mengenalnya beberapa waktu, Yuri mengetahui bahwa ternyata Denis tidak suka basket, hobinya adalah memasak, dan Denis memiliki pacar tampan bernama Joko sejak 3,5 tahun lalu. Yuri pun tak habis pikir, perasaannya dipenuhi dengan kekecewaan, malu, sedih dan kemudian ia langsung memutus komunikasinya dengan Denis karena tak ingin lagi mengenalnya. Ekspektasi Yuri kepada Denis, seketika hancur.

Apakah Denis memiliki kewajiban untuk meminta maaf dan memohon kepada Yuri demi tidak ditinggalkan sebagai teman barunya?

Atau contoh lainnya gini:

Hani rela jika diminta mentraktir makanan dengan uangnya sendiri untuk temannya, Rara. Padahal, Rara punya banyak uang, sementara Hani cuma punya uang pas pasan untuk kehidupannya sehari-hari. Agar Hani tidak dianggap pelit oleh Rara atau teman-temannya yang lain, Hani pun rela mentraktir Rara meski sebenarnya berat untuk dilakukannya.

Tindakan seperti di atas tentu adalah suatu kesalahan yang sering kali dianggap biasa. Kita khawatir terhadap apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Ketakutan akan dimusuhi, ditinggalkan, dan dianggap remeh seringkali membuat kita terlalu dalam memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita.

Kita harus menerima fakta bahwa kita tuh nggak akan bisa menyenangkan atau memenuhi semua ekspektasi orang lain terhadap kita. Kita juga nggak akan bisa terlihat benar di mata semua orang. Kalau pada akhirnya ada yang nggak suka atau malah benci sama kita, yaudah, abaikan aja, toh kita nggak punya kewajiban untuk memenuhi ekspektasi orang terhadap diri kita.

Terlalu fokus terhadap prasangka orang tuh bisa membuat kita hidup dalam keraguan, tidak percaya diri, was-was dalam menjalani kehidupan, dan menutup banyak kesempatan. Kamu juga bisa menjadi seseorang yang tidak bijak dalam mengambil keputusan.

Memang, terkadang pendapat orang lain bisa membangun pribadi kita menjadi lebih baik, tapi sebaiknya kamu harus pandai memilah mana pendapat yang harus diolah, mana yang harus diabaikan. Akan jauh lebih baik jika kamu memikirkan apa yang kamu impikan. Fokus pada tujuanmu sendiri tentu lebih berfaedah untuk masa depanmu bukan pada ekspektasi orang lain terhadapmu. Sah-sah saja jika kamu membuat kesalahan di tengah jalan. Tapi jadikan itu sebagai pelajaran, dan lakukan lagi dengan cara yang lebih baik ke depannya.

What do you think?

Ditulis oleh Rahma Maulidia

Si perempuan berwajah sinis yang selalu ingin bermanja dengan alam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Menikah Berseragam

Biar Apa Menikah Pakai Seragam?

Jokowi ingin reshuffle?

Kalau Gemas, Reshuffle Saja Pak!