in

Belajar Virtual dengan Anak-anak di Lapak Pemulung

belajar di pendidikan virtual

Kita semua pasti sadar betul bahwa situasi pandemi virus corona memaksa masyarakat untuk mengubah segala kebiasaan yang dilakukan. Ya, kita perlu berhati-hati ketika berinteraksi sosial secara langsung dengan orang lain. Penularan virus yang begitu membabi buta ini membuat kita harus berjaga jarak fisik dengan orang lain dan perlu lebih ekstra dalam menjaga kesehatan tubuh.

Pandemi dan Perubahan Sistem Pendidikan

Perisitwa ini pun juga berdampak pada perubahan sistem belajar di lembaga-lembaga pendidikan. Mereka terpaksa harus mengubahnya secara tiba-tiba, tanpa persiapan apa pun sebelumnya. Belajar jarak jauh alias sekolah yang dijalankan dengan sistem daring seolah menjadi satu-satunya jalan agar jadwal belajar tetap berlangsung. Hidup di era digital seperti ini bukan tidak mungkin untuk kita menjalankannya. Namun, kita terlalu kaget untuk menerapkan sistemnya secara tiba-tiba dan mungkin akan berlangsung cukup lama.

Mungkin sebagian dari mereka sudah siap karena memiliki fasilitas memadai untuk menerapkan belajar dengan sistem daring. Namun, tak sedikit juga sekolah yang tidak memiliki fasilitas tersebut. Kendala lainnya yakni ada pada siswanya sendiri. Orang tua murid misalnya, yang masih gagap teknologi atau kesulitan untuk membeli akses internet. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak sekolah dengan orang tua yang tidak mumpuni untuk mengatasi permasalahan ini?

Baca Juga: Dosen Sering Gak Masuk Itu Gak Selalu Menyenangkan

Tentu beragam. Ada yang berupaya “mati-matian” meminjam fasilitas sana-sini dan meluangkan waktu khusus demi anaknya tetap melanjutkan pendidikan. Ada juga yang bahkan tidak sempat untuk memikirkan keberlangsungan pendidikan anak. Ya, sebagian dari mereka beralasan sibuk mencari uang untuk keberlangsungan hidup mereka yang justru semakin dibatasi karena adanya pandemi ini.

Melihat kondisi tersebut, komunitas 1000 Guru Tangerang Selatan (1000 Guru Tangsel) berinisiatif mengadakan kegiatan Teaching on Sunday atau biasa disingkat TOS di empat lokasi Lapak Pemulung di daerah Pondok Aren, Tangerang Selatan. Empat lokasi tersebut yaitu Lapak Ani Jaya, Prasejahtera, Suryani, Dandy Jaya dan Johari Deplu.

Dok. 1000 Guru Tangsel

Teaching on Sunday

Selama 3 hari di 3 akhir pekan, tepatnya pada 28 Juni, 5 Juli dan 11 Juli 2020, sebanyak 21 relawan dari kalangan mahasiswa maupun profesional tergerak untuk mengajar anak-anak yang tersebar di empat lapak tersebut. Ya, kami (saya pun) terjun langsung dan melihat bagaimana anak-anak di sana yang hanya melakukan aktivitas bermain atau ikut memulung dengan orang tuanya tanpa mengikuti perkembangan pendidikan saat ini.

Menyesuaikan dengan kondisi pandemi, kegiatan belajar tidak dilakukan secara berkumpul dalam satu perkarangan seperti biasanya. Namun masing-masing anak yang tinggal di lapak pemulung memiliki satu kakak pembimbing (relawan) yang membantu anak tersebut menjalani kegiatan belajar mengajar. Selain itu, seluruh kakak pembimbing tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, membawa hand sanitizer sendiri, serta tetap menjaga jarak dan menjaga kebersihan sebagai upaya pencegahan penularan virus corona.

Kegiatan yang berkonsep fun teaching ini diawali dengan pengenalan cara mencuci tangan yang baik dan benar, menggambar, mewarnai dan membuat kerajingan tangan berupa tempat pensil dari botol bekas. Menariknya, para kakak pembimbing yang tersebar di rumah-rumah anak mengaktifkan video conference agar masing-masing anak saling terhubung dan bisa bersenda gurau meski fisik tidak saling bertemu.

Dok. 1000 Guru Tangsel

Bukan Sekadar Belajar Virtual

Di pertemuan kedua, adik-adik mengikuti sharing session belajar mengenai bullying dan kekerasan seksual melalui platform Zoom. Sharing session tersebut dibawakan oleh Kak Okti, seorang konselor psikolog. Dalam virtual sharing itu, Kak Okti juga menerangkan bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain agar mereka bisa memproteksi dirinya dari kekerasan seksual. Kemudian, adik-adik melanjutkan aktivitasnya dengan membuat bingkai foto dari stik es krim yang nantinya akan diletakkan foto anak didiknya bersama kakak pembimbing di dalamnya. Di pertemuan terakhir, kakak pembimbing memperkenalkan anggota tubuh manusia dan berbagai macam profesi yang dapat dijadikan cita-cita mereka.

“TOS kali ini bertujuan untuk memberikan semangat belajar kepada adik-adik lapak di balik berbagai masalah yang mereka alami. Di lain sisi, kita memperkenalkan teknologi yang mana adik-adik dapat berinteraksi secara virtual melalui aplikasi daring yang telah disediakan kakak pembimbing, sehingga mereka pun dapat bertukar cerita mengenai hasil karyanya atau buku yang telah dibacanya,” ujar Gabriel Simatupang, selaku penanggung jawab kegiatan.

Dok. 1000 Guru Tangsel

Pandemi Bukan Halangan untuk Berbagi

Selama pelaksanaan kegiatan TOS, 1000 Guru Tangsel didukung oleh Kak Siti Salamah, seorang relawan yang kerap mengunjungi keempat lapak pemulung secara rutin. Ia juga merupakan Chief Operating Officer dari komunitas Wastehub.id. Kak Siti menuturkan bahwa di antara mereka ada yang berhenti sekolah karena pandemi, banyak adik-adik yang putus sekolah saat di bangku SD, dan ada pula yang belum menempuh pendidikan sama sekali. Ia pun berharap nantinya kegiatan TOS dapat menjadi inspirasi teman-teman komunitas lainnya untuk mewujudkan kepedulian mengajar di sini.

Selain kegiatan belajar mengajar, 1000 Guru Tangsel mendapatkan bantuan dari para donatur berupa kebutuhan belajar berupa alat tulis, buku tulis, buku mewarnai, buku gambar dan kebutuhan lainnya yang mendukung proses pembelajaran. Kemudian 1000 Guru Tangsel juga menerima donasi berupa buku bacaan yang pada akhirnya dapat didirikan perpustakaan kecil di lapak pemulung.

Welderson Napitupulu, Ketua 1000 Guru Tangsel mengatakan, “TOS berkonsep virtual menjadi kegiatan pertama kami di tengah pandemi, tentunya kami berusaha untuk terus mengalirkan energi positif membantu mengembalikan semangat belajar bagi anak-anak kaum marjinal di wilayah Tangsel dan sekitarnya. Kami berharap kondisi pandemi berakhir setidaknya memungkinkan untuk 1000 Guru Tangsel melanjutkan kegiatan menginsiprasi lainnya seperti TNG dan TNT.”

What do you think?

Ditulis oleh Rahma Maulidia

Si perempuan berwajah sinis yang selalu ingin bermanja dengan alam.

Komentar

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
RUU Seksual

Korban Dihitung Melulu, RUU PKS Tak Kunjung Disahkan

Taaruf dan hijrah

Hijrah dan Popularitas Taaruf Masa Kini