in

LoveLove

Hijrah dan Popularitas Taaruf Masa Kini

Taaruf dan hijrah

Mengapa Hijrah?

Beberapa tahun belakangan ini kita seringkali mendengar fenomena ‘hijrah’ di Indonesia.. ‘Hijrah’ menjadi kata yang cukup populer, terutama di media sosial. Tagar untuk kata #hijrah di laman instagram sampai saat ini sudah menunjukkan 10.2 M postingan.

Fenomena ‘hijrah’ tentu saja tidak muncul tiba-tiba. Pada era Orde Baru, pergerakan Islam sempat mengalami pengekangan. Soeharto memberangus simbol-simbol ideologis yang terkait dengan Islam. Pemerintah Orde Baru meragukan peran tokoh Islam dalam politik. Namun, pada tahun 1990-an, ketika posisi Soeharto mulai melemah, ia kembali merangkul gerakan Islam sebagai jalan untuk menguatkan kembali posisinya. Pelarangan terhadap penggunaan simbol-simbol ideologis Islam—salah satunya jilbab—pun mulai dicabut. Narasi tentang keisalaman ini mulai memasuki tren dan gaya hidup masyarakat pada era kepemimpinan SBY.

Keberadaan media sosial menjadi faktor yang sangat memengaruhi dalam merebaknya tren ‘hijrah’ di masyarakat terutama kelas menengah perkotaan. Banyak akun dakwah yang membagikan postingan berupa potongan ayat, hadis, atau nasihat-nasihat islami. Lambat laun ‘hijrah’ ini mulai populer di kalangan para public figure dan selebritas. Mereka berbondong-bondong melakukan ‘hijrah’ salah satunya dengan mengubah gaya berpakaian juga mengikuti kajian tertentu. Ombak hijrah para selebritas menjadi salah satu gelombang yang besar hingga berdampak pula pada maraknya tren fashion yang menunjang proses ‘hijrah’ terutama bagi kaum hawa.

Fenomena Taaruf

Tren hijrah yang merebak di masyarakat, memunculkan gelombang tren lain. Pada 2015 lalu, La Ode Munandar memprakarsai gerakan Indonesia Tanpa Pacaran di media sosial. Gerakan ini didasari oleh keresahan La Ode karena banyak menerima curhatan remaja yang rusak masa depannya karena pacaran. Indonesia Tanpa Pacaran mendapatkan sambutan yang luar biasa. Salah satu solusi yang ditawarkan dari penggalakkan isu tanpa pacaran yang amat digemari kawula muda ini yakni pernikahan. Hal itu tak bisa sepenuhnya dipersalahkan, tetapi solusi menikah muda tanpa pemahaman yang baik bisa menjadi pisau bermata dua.

Tren ‘hijrah’, menikah muda, setali tiga uang dengan tren taaruf yang sedang merebak akhir-akhir ini. Lagi-lagi, para selebritas tak luput menjadi bagian dari fenomena tersebut.  Ta’aruf banyak dijalani oleh beberapa pasangan artis yang baru berhijrah sebagai langkah awal melakukan pernikahan. Mari sebut saja, pasangan Anisa Rahma dan Anandito yang menikah pada September 2018 lalu, disusul pasangan Citra Kirana dan Rezki Aditya pada Desember 2019, kemudian di tahun 2020 ini ada dua pasangan yaitu Vebby Palwinta dan Razi Bawazier pada bulan April lalu, serta Rey Mbayang dan Dinda Hauw yang baru saja melangsungkan pernikahan pada 10 Juli 2020.

Selanjutnya, apa yang bisa kita katakan mengenai fenomena tersebut? Apakah telah muncul kesadaran beragama di kalangan pekerja hiburan atau sekadar menjadi sebuah tren yang kini kian marak di Indonesia?

Baca juga Biar Apa Nikah Pakai Seragam?

Ta’aruf dalam Pandangan Islam

Istilah taaruf saat ini memang menyimpan persoalan. Dalam bahasa Arab, taaruf berarti perkenalan atau saling mengenal. Perkenalan yang dimaksud dalam bahasa Arab ialah perkenalan secara umum. Misalnya, setiap kali kita berkenalan dengan seseorang (siapa pun itu) dan tanpa tujuan apapun, maka dapat disebut sebagai taaruf. Begitu pula dalam bahasa Indonesia, pada awalnya istilah taaruf juga memiliki makna yang sama dengan makna asalnya dalam bahasa Arab. Akan tetapi, melihat konsep taaruf dalam masyarakat Indonesia saat ini memiliki makna yang berbeda.

Kini taaruf dimaknai sebagai sebuah proses mengenal antara laki-laki dan perempuan untuk menuju tahap pernikahan. Pemaknaan ini dikaitkan dengan kata taaruf yang terdapat dalam alQur’an surat Al-Hujurat: 13:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (li-ta’arofu) …”

Makna baru ini sepertinya muncul akibat adanya fenomena ‘hijrah’ yang marak terjadi di masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan selebritas yang merupakan public figure sehingga pemaknaan mengenai taaruf dengan makna baru tersebut semakin luas diketahui dan dipahami oleh masyarakat Indonesia saat ini bahkan oleh orang nonmuslim sekalipun. Bahkan belakangan ini juga banyak sekali kelompok/komunitas Islam atau para aktivis muslim di kalangan masyarakat Indonesia yang muncul dan membuat konsep mengenai taaruf dengan makna yang baru tersebut, seperti Kelas Jodoh oleh Setia Furqan Khalid, Project Singlelillah oleh Kang Abay, Aplikasi Rumah Taaruf, dan sebagainya.

Kemudian akhirnya kini ramai pembahasan mengenai konsep taaruf yang benar menurut Islam. Seperti apakah taaruf yang Islami? Dan bagaimanakan prosedurnya? Dari hasil pengamatan penulis, karena konsep taaruf ini bukan berasal dari hukum syari’at maka sebetulnya tidak ada panduan yang baku mengenai konsep taaruf dalam Islam yang ramai diperbincangkan tersebut, yang terpenting segala aktivitas dalam proses taaruf tersebut harus sesuai dengan adab antara lawan jenis dalam Islam.

Sedikit simpulan yang penulis ketahui dari beberapa komunitas Islam/aktivis muslim yang kini marak memopulerkan konsep taaruf, berikut halhal yang perlu diperhatikan dalam proses taaruf:

Niat yang baik

Proses taaruf betul-betul diharapkan karena ada itikad baik, yaitu ingin menikah bukan karena alasan seperti ingin mempermainkan orang lain.

Menghindari Khalwat (Tidak boleh berduaan)

Dalam proses taaruf harus ada pihak ketiga yang menemani proses taaruf tersebut yaitu Murabbi/pembimbing religi. Jika tidak ada Murabbi, maka boleh ditemani mahramnya seperti saudara, orang tua, atau teman perempuan. Alasannya, sebelum terjadi akad nikah, kedua calon pasangan, baik lelaki maupun wanita, statusnya adalah orang lain. Keduanya tidak diperkenankan untuk berduaan

Bertukar CV (Biodata)

Pada saat taaruf, masing-masing bisa saling menceritakan biografinya secara tertulis. Sehingga tidak harus melakukan pertemuan untuk bertukar cerita. Tulisan mewakili lisan. Meskipun tidak semuanya harus dibuka. Ada bagian yang perlu terus terang, terutama terkait data yang diperlukan untuk kelangsungan keluarga. Informasi tambahan bisa melalui pihak ketiga seperti Murabbi, kakak lelaki atau orang tuanya.

Proses Nazhor (Bertemu)

Setelah taaruf diterima, bisa dilanjutkan dengan nazhor. Nazhor bisa dilakukan dengan cara datang ke rumah calon pengantin wanita dan menghadap langsung orang tuanya. Dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan,

“Suatu ketika aku berada di sisi Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki. Dia ingin menikahi wanita Anshar. Lantas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah melihatnya?” Jawabnya, “Belum.” Lalu beliau memerintahkan,

 انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Lihatlah wanita itu, agar cinta kalian lebih langgeng.” (HR. Turmudzi 1087, Ibnu Majah 1865 dan dihasankan al-Albani)

Istikharah dan Musyawarah

Jika proses taaruf dirasa sudah cukup untuk mendapatkan informasi tentang calon pasangan, maka tiba saatnya memutuskan apakah lanjut (ke jenjang pernikahan) atau memilih menyudahi karena mungkin ada ketidakcocokan di antara kedua pasangan. Proses memutuskan lanjut atau tidaknya proses taaruf tersebut, sebaiknya kita shalat istikharah untuk meminta petunjuk pada Allah agar diberikan jawaban yang terbaik serta bermusyawarah dengan keluarga agar proses taaruf juga berjalan lancar dan mendapatkan restu orangtua.

Menentukan Waktu Khitbah (Lamaran) / Pernikahan

Dalam proses taaruf tidak boleh berlangsung terlalu lama, jika hasil shalat istikharah dan musyawarah dengan keluarga sudah mendapat kepastian dan kecocokan maka langsung kedua belah pihak menentukan kapan waktu untuk melakukan khitbah (lamaran) dan juga waktu pernikahan. Dalam Islam jika kedua belah pihak sudah setuju dan siap untuk melangsungkan pernikahan maka tidak boleh ditunda-tunda karena dikhawatirkan akan berdampak pada hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Hijrah dan Ta’aruf: Tren atau Kebutuhan?

Tidak ada anjuran langsung untuk ta’aruf dalam memilih calon pasangan, tetapi ada anjuran tidak langsungnya. Rasulullah saw., memerintahkan untuk memilih pasangan yang baik agamanya dan mulia akhlaknya. Hal ini menjadikan ta’aruf ini dibutuhkan. Amanah untuk laki-laki, perempuan dinikahi karena 4 hal: hartanya, keturunan, kecantikannya, dan agamanya. Pilih yang baik agamanya, agar kalian beruntung. Adapun untuk mengetahui apakah dia baik agamanya atau tidak yaitu bisa dengan proses taaruf. Amanah untuk perempuan: Jika ada seorang laki-laki dan kalian sudah ridha dengan agamanya yang baik dan akhlaknya mulia, maka nikahilah. Semua hal ini bisa diketahui pada saat melakukan proses taaruf.

Berbagai narasi keislaman yang beredar di masyarakat entah ‘hijrah’ atau taaruf, layak untuk disikapi secara bijaksana. ‘Hijrah’ yang dimaknai sebagai peralihan pandangan seseorang yang menjadikan agama sebagai orientasi hidupnya tentu bukanlah hal buruk. Namun, ‘hijrah’  akan menjadi dangkal apabila ia hanya dipandang sebagai suatu tren yang berorientasi pada perubahan tren fashion dalam berpenampilan. Proses ini baiknya disertai dengan pemaknaan mendalam tentang agama dari sudut pandang yang lebih luas.

Wacana serupa juga berlaku untuk taaruf. Sebuah pepatah arab mengatakan, “Laa taqlidul ‘ama”, jangan mengikuti sesuatu dengan mata yang buta. Ibadah yang disertai ilmu memiliki nilai yang lebih mulia di hapadan Allah. Pemahaman yang baik tentang suatu perbuatan, setidaknya mampu menghindarkan kita dari kekeliruan ketika melakukannya.

 

BIODATA PENULIS

Siti dan Zaki

Siti Masyitoh (@sitimasyitoh95). Bekasi, 16 Juni 1995. Pengajar & Pegiat B.Arab. Satu shaff di belakang @muzakiad.

Muhammad Muzaki Adnan (@muzakiad). Tasikmalaya, 26 Desember 1993. Pengajar & Pegiat B.Arab. Life partner of @sitimasyitoh95.

What do you think?

Ditulis oleh Redaksi Gunyam

Ruang sederhana untuk bersenang-senang. Kirimkan tulisan terbaikmu ke email kami di redaksi@gunyam.com

Komentar

Tinggalkan komentar
  1. Tulisannya setelah masuk ke tim redaksi jadi ciamik nan apik. Bagus banget. Terima kasih kakak gunyam gumam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
belajar di pendidikan virtual

Belajar Virtual dengan Anak-anak di Lapak Pemulung

Film A Copy of My Mind

A Copy of My Mind: Film dengan Konstruksi Realita yang Pekat