in

Iduladha: Kepada Apakah Kita Mengikatkan Diri?

 

Iduladha tahun ini barangkali menyajikan kecemasan yang sulit untuk disembelih, termasuk bagi saya. Beberapa hal tak bisa bebas kita lakukan karena menimbang lonjakan kasus covid-19 per 30 Juli mencapai 1.904 kasus. Kita perlu berhati-hati, saling menjaga. Kemarin pagi, saya bahkan hanya melaksanakan salat id di kamar. Sendirian.

Apa yang Kita Ikat Kuat-Kuat?

Ada rasa sedih saat hari raya yang seyogyanya penuh kebersamaan dan kehangatan mesti dirayakan dengan sebuah sarapan yang sunyi. Belum lagi, Iduladha, atau lebih kita kenal sebagai hari raya kurban, telanjur kita ikatkan pada tradisi nyate. Saya harus mencukupkan diri melihat kehangatan, kegembiraan, dan euforia yang rasanya jauh di luar jangkauan. Berkali-kali mengatakan kepada diri sendiri, “Ini tak begitu buruk.”

Dan memang, ini tak begitu buruk. Lagi pula, tampaknya, melepaskan ikatan kepada “hal-hal yang biasa dimiliki” adalah sebenar-benarnya perayaan ini. “Rayakan subtansinya. Tidak harus kita rayakan bentuk-bentuk yang lalu,” begitu yang dikatakan Quraish Shihab dalam obrolannya bersama Gus Baha yang saya saksikan kemarin siang.

Saya menilik kembali bagaimana peristiwa Ibrahim. Allah meminta sesuatu yang amat dicintai Ibrahim. Putra terbaiknya. Putra yang ia minta selama berpuluh tahun, mesti ia persembahkan kepada Allah. Jauh sebelum itu, peristiwa kurban ini pun telah diperintahkan kepada Habil dan Qabil. Mereka diminta memberikan persembahan terbaik dari hasil usaha mereka. Kurban ini dilakukan sebagai syarat untuk saling menikahi saudara kembar mereka secara silang. Kedua peristiwa ini menerangkan substansi kurban sebagai peristiwa melepas keterikatan terhadap sesuatu, terutama hal yang kita cintai, yang ‘biasa’ kita miliki. Ibrahim kepada Ismail, Ismail kepada dirinya sendiri. Qabil kepada perkebunan yang ia rawat, Habil kepada peternakan yang ia usahakan.

Barangkali telah menjadi sifat manusia bahwa kita senantiasa terikat kepada sesuatu. Saya terikat pada Iduladha sebagai hari raya dengan salat id berjamaah, berkumpul, dan membuat sate bersama keluarga. Keterikatan yang bertahun-tahun saya pegang dan asumsikan sebagai rasa bahagia. Kali ini, walau tak berkurban sapi atau kambing, Tuhan mengajarkan saya untuk ‘melepaskan’ diri dari asumsi saya terhadap Iduladha, bahkan mungkin terhadap hasrat saya sendiri.

Tak ada yang ingin merayakan hari raya sendirian. Hari raya adalah hari bahagia, seharusnya. Namun, tampaknya, kali ini “hari raya” dan “bahagia” dalam kepala saya harus mengalami sedikit rekonstruksi. Bukankah bahagia yang disandarkan pada hal-hal fana hanya akan menjadi fatamorgana?

Satu-Satunya yang Terikat Kepada Kita Hanyalah Tuhan

Ketika Allah meminta Ibrahim menyembelih Ismail, saya mengagumi Ismail yang amat tabah. Setelah berpikir ulang tentang Iduladha, Ismail di dalam kepala saya menjelma seorang manusia yang bebas. Ia bahkan telah terlepas dari keterikatannya kepada diri sendiri. Baginya, Tuhanlah satu-satunya yang terikat kepadanya.

Saya membayangkan, apa yang akan terjadi jika tiba-tiba Ismail menolak untuk dikurbankan ayahnya? Akankah terjadi tragedi seperti Habil yang dibunuh karena Qabil tak sudi melepaskan keterikatannya kepada Iklima? Bukankah Ibrahim pun sempat meragu ketika ia terbangun dari mimpinya untuk mengorbankan Ismail?

Ismail begitu menyadari kepada siapa dirinya terikat. Ia yakin, Tuhan tak semena-mena memberikan perintah kepada mereka bahkan jika itu berarti ia harus merelakan hidupnya berakhir saat itu. Tentu saja, hanya manusia berhati jernih yang mampu melakukannya.

Saya teringat Gaarder dan Gadis Jeruk yang dikisahkannya. Dalam surat yang ditulis Ayah kepada Georg, saya melihat bagaimana Ayah memandang kematian dengan begitu tenang dan mistis. Ia menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah dongeng yang panjang, lalu ia mengatakan kepada Georg, “Dengan memilih hidup, kamu juga memilih mati.” Barangkali Ismail sedemikian mengerti, tetapi dengan cara lain yang kusangkakan: Ia mengerti bahwa dirinya dipilih untuk hidup dan dipilih untuk mati demi Tuhannya.

Kini, saya pikir, sebenarnya kelahiran saya di dunia ini bahkan berawal dari peristiwa ‘melepaskan’ yang Tuhan lakukan. Ia melepaskan saya kepada dunia. Sepertinya, sejak awal, hidup memanglah seputar melepaskan sebab pada akhirnya Tuhan pula akan melepaskan keterikatan kita dari dunia ini untuk kembali pada-Nya, satu-satunya ikatan mengapa kita menjadi ‘ada’.

What do you think?

Ditulis oleh Lupy Agustina

Suka minum air putih dan nulis tipis-tipis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Ikhlaskan

Hilang dan Ikhlaskan

Tiktok

Gara-gara Keasyikan TikTok, Aku Jadi Begini…