in

Perbesanan Diurusin Menteri: Biar Gak Banyak Orang Miskin!

besan untuk orang miskin

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, kembali memberikan penilaiannya terkait urusan perbesanan. Sebelumnya Mas Menteri juga memberikan komentarnya terkait usulan adanya fatwa dari Kemenag terkait orang kaya yang diwajibkan menikahi orang miskin. Urusan yang sebenarnya ndak perlu sampai kementrian turun tangan kok yo sampe juga tangannya di sana. Masa iya mau jadi mak comblang.

Menurut Muhadjir, jumlah keluarga miskin yang masih tinggi atau mencapai 76 juta di Indonesia salah satu faktornya tidak lepas dari pernikahan sesama keluarga miskin. “Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru sehingga ini perlu ada pemotongan mata rantai keluarga miskin, kenapa? Karena kemiskinan itu pada dasarnya basisnya adalah dalam keluarga,” ujar Muhadjir Effendy dalam pemaparannya di webinar Kowani Selasa (4/8/2020) dilansir dari detik.com.

Sek sek, apa benar begitu? Apa jadi jaminan, kalau sepasang keluarga miskin menikah kemudian anak anaknya pun tumbuh menjadi orang miskin dan tidak ada yang sukses. Bukankah banyak kalangan orang sukses bahkan tokoh tokoh di tanah air yang tumbuh dan berkembang dari pasangan miskin? Banyak kok pasangan orang miskin yang berhasil mendidik anaknya sehingga sang anak jadi ulet, pembelajar dan tekun sampai kemudian sukses. Namun, gak jarang juga ada anak orang kaya yang banyak ditinggal ibu bapaknya mencari harta, terbengkalai dan akhirnya belajar pun seadanya. Boro-boro ditanya dan dibantu mengerjakan PR sekolah, wong ketemu aja jarang, seng penting uang jajan jalan terus. Ya akhirnya ndak sukses juga.

Sesungguhnya urusan perbesanan ini tidak bisa juga dicampuradukkan dengan urusan kementrian. Perbesanan ini urusan jodoh, urusan hati, yang tidak bisa dipilih harus begini dan begitu. Bukankah, rizki, jodoh dan mati adalah takdir yang sudah digariskan Sang Mahakuasa?

“Memangnya sampean mau dijodohkan sama orang yang gak kamu cintai, Yem?,” kata Malik.

“Ya ndak maulah, Mas, Iyem ‘kan cintanya sama Mas Malik,” jawab Iyem tegas.

“Tapi dengar kabar dia anaknya juragan beras yang sawahnya berhektar-hektar,” kata Malik lagi.

“Ya udah mau,” kata Iyem mesem mesem. “Oalah nasib nasib,” ujar Malik.

Sudjiwo Tedjo pernah berkata bahwasanya menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa. Quote ini kok ya pas banget loh. Siapa yang bisa menolak takdir? Kalau Tuhan sudah berkehendak, Paimin menikahlah sampeyan dengan putri bangsawan Raden Nyoto Negoro Mangku Neroko, yo ra opo-opo, apa boleh buat? Pasti ‘kan menikah juga.

Lalu bagaimana bisa mata rantai kemiskinan ini akan diputuskan dari sudut pandang perbesanan? Sesuatu yang akan sangat berat rasanya. Perlu upaya sosialisasi perbesanan yang sangat maksimal dan optimal agar masyarakat mau mendengarkan perkara ini. Apakah nantinya tidak malah akan menimbulkan kisruh karena banyak  percintaan anak muda yang akan putus ditengah jalan. Akhirnya banyak headline berita berkisah seperti sepasang kekasih miskin gantung diri karena tak direstui orang tua. Atau mawar nekat minum cairan disinfektan karena menolak dinikahkan paksa dengan juragan beras. Ihhh ngeri gak sih. Inget loh ya, ini bukan zaman Siti Nurbaya.

Terlepas apapun itu, kemiskinan memang masih menjadi musuh bersama di negeri kita tercinta ini. Angka kemiskinan yang tinggi dan terus bertambah tiap tahunnya bisa menjadi preseden buruk bagi pemerintahan sebab dianggap tak mampu mengentaskannya. Perlu ada solusi solusi inovatif untuk mengentaskannya. Salah satunya  menciptakan banyak lapangan kerja dan menghidupkan ekonomi kreatif serta memotivasi masyarakat agar punya semangat kerja. Ingetloh, punya pasangan yang dicintai itu bisa jadi motivasi untuk semangat bekerja hhee. Kalau ndak cinta yang ada carut marut ndak jelas, adegan piring terbang bisa terjadi kapan saja di rumah.

Menurut sobat Gunyam, solusi apa yang tepat untuk mengatasi masalah kemiskinan ini? Jangan bilang kemiskinan setiap tahun sudah menurun pada anak cucunya. (*)

Baca juga HEWAN YANG MENADI TUHAN: Bebas dari Penjara Evolusi Darwinian, Manusia Kini Berapotheosis

What do you think?

Ditulis oleh Dindin Hasanudin

Suka Kopi walau tak pernah tahu cara menikmatinya. Suka bola walau cuma tahu inter milan. Suka travelling dijalan yang lurus, sambil berharap diridhoi Allah mudah mudahan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Bagaimana Kita Harus Memulai Sebuah Awal?

The Museum Tour: Museum Pos Indonesia