in

“Fat Man” Jatuh di Jepang, Membuka Gerbang Indonesia Merdeka

Jepang Indonesia

Ketidaksengajaan yang Menghancurkan

“Boom!” ledakan nuklir dari Fat Man jatuh di Kota Nagasaki, Jepang, setelah bom pertama yang dinamai Little Boy meletus di Kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Bom ini dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang disetujui oleh Britania Raya, sebagaimana tertuang di Perjanjian Quebec. Usut punya usut, bom itu meleset dari kota tujuan awal yaitu Kokura karena awan yang menutupi lokasi. Bom tersebut jatuh di Nagasaki dan menjadi keberuntungan bagi pihak Sekutu karena berhasil melakukan double kill terhadap Jepang.

Pada pukul 10.58 waktu setempat, Fat Man dijatuhkan oleh pesawat pembawa bom B-29 bernama Bockscar. Meski topografi Nagasaki yang terletak di antara lembah dan gunung-gunung yang sempit membuat efek ledakan berkurang jauh dari harapan, namun bom itu berhasil menewaskan 39.000 orang dalam sekejap dan 25.000 lebih orang lainnya mengalami luka parah. Kemudian ribuan lainnya menyusul ajal beberapa lama setelah peristiwa ledakan itu terjadi. Peristiwa pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki ini sedikitnya menghabiskan 129.000 nyawa seperti yang dikutip dari Wikipedia.

Hiroshima dan Nagasaki merupakan pusat industri di negeri Matahari Terbit. Pengeboman kedua kota tersebut menyebabkan negara yang paling kokoh di Asia itu hancur berkeping-keping. Tak hanya Bom Nuklir, 9 Agustus memang tanggal sial bagi negara yang mendaulat diri sebagai Cahaya Asia itu. Dii hari yang sama Uni Soviet melancarkan penyerbuan mendadak ke koloni Jepang di Manchuria. Jepang tampaknya tak kuat lagi menahan derita. Pada 15 Agustus akhirnya Kaisar Hirohito dihadapan rakyatnya menyampaikan pidato bahwa Jepang menyerah terhadap sekutu. Sorry Jepang, you has been slained!

Membawa Indonesia ke Gerbang Kemerdekaannya

Di hari yang sama, saat Nagasaki dilanda bom atom, Soekarno dan Hatta beserta mantan ketua BPUPKI, Radjiman Wedyodiningrat, sedang melakukan perjalanan rahasia nan berbahaya ke Vietnam untuk menemui Panglima Angkatan Darat Jepang wilayah Asia Tenggara, Jendral Terauchi. Jepang, konon mendukung kemerdekaan Bangsa Indonesia. Mereka berjanji akan menghadiahkan kemerdekaan pada 24 Agustus 1945. Saat itu Soekarno, Hatta dan Radjiman sepakat dengan janji yang ditawarkan oleh Terauchi.

Mulut manis Terauchi di Vietnam yang berakhir dengan jamuan minum teh itu sulit dipercaya bagi Sjahrir. Sjahrir curiga, itu hanya tipu muslihat Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Sjahrir mendesak Soekarno dan Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan. Ia yakin negara itu di ujung tanduk kekalahan.

Keinginan Sjahrir dan kawan-kawan, tertahan. Dwi Tunggal itu tetap bersikukuh bahwa persiapan kemerdekaan harus disusun secara matang oleh PPKI. Namun Sjahrir tetap menganggap bahwa PPKI yang merupakan bentukan Jepang itu adalah sebuah tipuan juga.

Asumsi Sjahrir bukanlah pendapat tak berdasar. Iming-iming Jepang soal kemerdekaan bukan sekali-dua kali terjadi. Sebelumnya melalui Deklarasi Koiso pada September tahun 1944, Kekaisaran Jepang mengumumkan bahwa pihaknya akan memberi kemerdekaan untuk Indonesia. Hampir setahun berlalu, janji itu nyatanya nihil.

Bukan Hadiah dari Jepang

Pada 15 Agustus sesuai yang disebut di atas, Jepang mengumumkan kekalahannya terhadap sekutu. Mendengar berita ini kelompok tokoh muda membaca dengan cerdik bahwa hal tersebut adalah kesempatan yang baik untuk segera membacakan proklamasi dan membebaskan diri dari jajahan Nippon..

Tidak selarasnya keinginan dari kedua golongan ini kemudian mengantarkan kita pada peristiwa Rengasdengklok. Saat itu 16 Agustus 1945,  dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, Soekarno dan Hatta diculik oleh sekelompok pemuda. Pemuda-pemuda itu antara lain Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh. Mereka membawa Soekarno dan Hatta serta Fatmawati dan Guntur yang saat itu masih berusia 9 bulan ke Rengasdengklok, Karawang. Tujuannya tentu saja untuk mendesak percepatan kemerdekaan Indonesia serta agar Soekarno Hatta tidak terjerumus semakin dalam pada tipuan Jepang dan meyakinkan mereka bahwa Jepang telah kalah. Para golongan muda pun siap jika harus berperang jika kemungkinan buruk terjadi.

Perundingan antara golongan muda dan tua dalam penyusunan teks proklamasi berlangsung sampai pukul 4.00 dini hari, beberapa jam sebelum proklamasi dibacakan. Rencana awal, proklamasi itu akan diselenggarakan di lapangan Ikada. Karena alasan keamanan, peristiwa penting ini dilaksanakan di kediaman Soekarno. Di bacakanlah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Hari itu menjadi awal negara kita merdeka. Tanpa perlu menunggu hadiah dari Jepang.

Baca juga Membangun Bangsa dengan Sejarah

What do you think?

Ditulis oleh Rahel Mutia

Bercita-cita jadi Ibu yang keren.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Perempuan Moody dan Segala Perasaannya

Wanita

Wanita, Tololkah Dirimu?