in

Wanita, Tololkah Dirimu?

Wanita

Banyak hal-hal menarik di sini, di kampusku ini. Salah satu yang aku perhatikan adalah para wanita. Asal tahu saja, wanita di sini cantik, menarik, dan cenderung (menurutku) seksi. Aku menilai itu dari kegiatanku sehari-hari yang sebelum atau setelah perkuliahan selalu istirahat di kantin Yongma atau Takor deket gedung G FISIP.

Aku jadi teringat satu akun instagram yang dari dulu waktu masih S-1 sudah kuketahui: @ui.cantik. Mungkin pembaca yang pria banyak yang follow nih hehehehe. Nama akun tersebut jelas menunjukkan isi dari akun itu, yaitu wanita-wanita di UI yang cantik-cantik. Kalau diperhatikan, kebanyakan dari FISIP, FIB, dan Vokasi. Di satu sisi, aku sebagai lelaki jelas senang dengan pemandangan seperti itu. Namun, di sisi lain, semakin menunjukkan bahwa masih banyak lelaki yang senang dengan eksploitasi wanita.

Lucunya nih, banyak wanita yang justru berdandan, bahkan berpakaian seksi, agar terlihat cantik. Sampai-sampai yang dia lakukan berlebihan. Kalau dia ingin terlihat cantik, berarti otomatis ada yang melihat. Tak perlu lah aku jelaskan etimologi dari kata “lihat”, ya kan?

Baca juga: Si Hawa yang Melulu Berlipstik

Yang jadi masalah adalah ketika masalah lihat-melihat ini dijadikan marketing oleh para wanita itu sendiri. Berdandan secara berlebihan agar dilihat cantik. Cantiknya nih, malah membuat kaum lelaki berfantasi. Wajar kalau aku menganggap dandan cantik dan seksi adalah cara para wanita tersebut untuk memarketingkan dirinya agar banyak lelaki tertarik padanya. Tertarik untuk melihat, tertarik untuk menjadi kekasih, dan tertarik untuk meniduri.

Ajang kecantikan

Ada lagi fenomena kontes-kontes kecantikan saat ini. Ada Putri Indonesia, Miss Indonesia, Putri Hijab Indonesia, Putri Selam Indonesia, Miss Grand Indonesia, dan lain-lain. Untung gak ada Putri Duyung hehehehhe. Mengapa yang dilihat hanya putri? Mengapa selalu fisik yang jadi ukuran pertama? Walaupun aku percaya para wanita di kontes tersebut cerdas-cerdas, tetapi kenapa selalu yang cantik saja? Apakah kecantikan itu jadi tolok ukur utama dalam menilai wanita?

Kemudian juga yang lebih ekstrem, coba lihat bokep-bokep saat ini. Yang jadi objek utama hampir selalu perempuan. Mulai dari bokep profesional sampai bokep amatir. Mulai dari Bang Bros sampai (katanya) Hana Annisa.

Aku jadi ingat anekdot yang diceritakan kawanku. Jika lelaki mencari kerja yang dilihat adalah kecerdasan. Namun, jika wanita, yang dilihat adalah kecantikan atau keseksiannya. Wajar timbul istilah gratifikasi seks. Lah para lelaki juga melihat mereka hanya sebagai objek.

Mengutip kata-kata Prof. Havelock Ellis yang kubaca di Sarinah-nya Bung Karno, bahwa lelaki kebanyakan menganggap wanita sebagai “suatu blasteran antara antara Dewi dan seorang tolol.” Dipundi-pundikan dan dipuja sebagai seorang Dewi tapi dianggap tidak lebih dari seorang yang tolol!

Aku menyukai perempuan dengan keasliannya, bukan wanita modern yang pakai rok pendek, baju ketat dan gincu bibir yang menyilaukan

(Bung Karno dalam Bung Karno Masa Muda)

What do you think?

Ditulis oleh Sughron Jazila

Dulu anak kopi senja, sekarang anak kopi selow

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Jepang Indonesia

“Fat Man” Jatuh di Jepang, Membuka Gerbang Indonesia Merdeka

Siapa Bilang Pemerintah Kurang Perhatian? 13 Juta Pekerja Buktinya!