in

Melihat China Melawan COVID-19

Virus Corona saat ini masih menjadi topik pembicaraan hangat hampir di berbagai penjuru dunia. Kemunculan COVID-19 di akhir tahun 2019 di Wuhan, China, menjadi pengalaman baru juga bagi saya dalam melewati masa-masa pandemi di negeri Tirai Bambu.

Adakah yang sudah tahu bahwa China hanya membutuhkan waktu 2 bulan untuk bisa mengontrol Virus Corona ini? Kesigapan penanganan ini berdampak pula kepada keadaan ekonomi masyarakat yang dengan cepat bisa kembali pulih. Tentu, ini jadi berita positif versi saya, untuk dibagikan kepada teman-teman. Lantas, langkah-langkah ekstrem apa saja yang diambil oleh pemerintah China dalam masa darurat COVID-19? Bagaimana respons masyarakat dalam menghadapi virus mematikan ini? Yuk, kita bahas.

Awal kemunculan Virus Corona di China

Pada 27 Desember 2019, rumah sakit di Hubei melaporkan ada kasus penemuan pneumonia baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Awalnya, penanganan virus jenis baru ini masih terbilang agak kacau karena tim medis masih belum bisa memastikan jenis penyakitnya. Alat-alat medis yang tersedia saat itu juga tidak memadai. Namun, hanya dalam waktu kurang lebih dua pekan, situasi kacau ini sudah bisa diaudit kembali. Mereka menyerahkan semua langkah penanganan secara penuh kepada semua profesor dan ahli kesehatan. Pada akhirnya situasi bisa segera terkendali.

Lalu, 22 Januari 2020, barulah penemuan ini ditetapkan sebagai penyakit yang menyerang sistem pernapasan yang disebabkan oleh Virus Corona jenis baru atau COVID-19. Pada tanggal 23 Januari, Departemen Kesehatan Nasional dan enam departemen lainnya mengeluarkan respons darurat dengan cara menutup akses kota atau lockdown. Mendengar kata lockdown, saya sendiri juga cukup kaget, mereka “mengorbankan” satu provinsi demi menyelematkan provinsi lainnya. Bagaimana dengan 11 juta penduduk di Wuhan, proses penanggulangan virusnya, beserta kebutuhan pokok sehari-hari warganya?

Bagaimana China Menangani Virus Corona

Pada 24 Januari, 346 tim medis nasional, 42600 staf medis dan 965 staf kesehatan publik dan pasukan tentara telah bergerak dari seluruh daratan China untuk membantu Provinsi Hubei dan kota Wuhan. Pada 25 Januari, pemerintah membangun Rumah Sakit Huoshenshan dan Rumah Sakit Leishenshan. Keduanya adalah rumah sakit khusus yang diperuntukan bagi para pasien COVID-19 dengan gejala berat. Mengingat rumah sakit umum sudah tidak bisa lagi menampung jumlah pasien yang setiap harinya bertambah pesat.

Rumah Sakit Huoshenshan dan Rumah Sakit Leishenshan China
Rumah Sakit Huoshenshan dan Rumah Sakit Leishenshan

Pada 3 Februari, Rumah Sakit Huoshenshan yang bisa menampung pasien sebanyak 1000 orang sudah mulai bisa digunakan. Pada 6 Februari, Rumah Sakit Leishenshan dengan kapasitas 1600 orang juga menyusul dapat digunakan untuk merawat pasien Corona. Saya menyaksikan sendiri di layar televisi pada waktu itu. Ratusan alat berat dan ratusan pekerja bahu membahu, siang dan malam membangun rumah sakit dengan hanya hitungan hari. Ini menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya, benar-benar sangat luar biasa.

Rumah Sakit Sementara untuk Menampung Pasien

Pembangunan rumah sakit ternyata belum menyelesaikan semua masalah, meningat pasien yang terjangkit virus dengan gejala ringan jumlahnya membeludak. China masih kekurangan tempat untuk bisa menampung para pasien dengan gejala ringan, terlebih karantina mandiri akan menimbulkan banyak risiko untuk orang-orang yang tinggal di sekitar pasien. Akhirnya, pemerintah membangun beberapa rumah sakit sementara dengan menggunakan gedung exhibition, gymnasium, bangunan sekolah, dll hanya dalam kurun waktu 48 jam. Fasilitas di dalam gedung semuanya dilengkapi ratusan tempat tidur beserta perlengkapan lainnya. Semua pasien dengan gejala ringan dirawat di dalam gedung-gedung ini. Seluruh biaya perawatannya ditanggung pemerintah, termasuk biaya makan sehari 3 kali.

Rumah Sakit Sementara China
Rumah Sakit Sementara

Lockdown dan Pembatasan Aktivitas di Berbagai Daerah

Warga lainnya di Wuhan yang tidak terjangkit virus, tapi terkena dampak lockdown, mereka tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Penjagaan sangat ketat, tetapi pemerintah telah menyiapkan logistik dan kebutuhan pokok, seperti makanan yang disalurkan oleh berbagai lembaga pemerintahan dan volunteer. Masyarakat di wilayah provinsi lainnya pun banyak yang menyumbangkan makanan dan kebutuhan lainnya untuk membantu warga Wuhan. Tentunya proses pengiriman logistik dengan pantauan ketat dan hasil dari persetujuan pemerintah daerahnya. Bagaimana dengan keadaan di daerah lain selain kota Wuhan pada waktu itu?

Kiriman logistik bantuan dari berbagai provinsi untuk warga Wuhan

Kondisi di daerah lain, seperti halnya Guangzhou, daerah tempat saya tinggal tidak diberlakukan sistem lockdown. Mereka memberlakukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), sama dengan sistem yang diberlakukan di Indonesia. Semua masyarakat diimbau untuk berdiam di rumah, dan apabila terpaksa harus keluar rumah, diwajibkan menggunakan masker.

Beberapa tempat umum seperti halnya pasar, mall, dan terminal diberlakukan penjagaan ketat. Dulunya, saya bisa menggunakan beberapa jalan kecil menuju pasar dan bisa masuk melalui berbagai pintu. Setelah adanya pandemi, sebagian jalan ditutup dan pakses masuk hanya dibuka satu pintu. Akses untuk masuk pasar pun dijaga ketat oleh petugas dan harus melalui pemeriksaan suhu tubuh. Pembatasan aktivitas tidak hanya berlaku di kota-kota besar tetapi juga di kota-kota kecil. Perkampungan mereka sampai menggunakan pengeras suara, hingga drone untuk mengimbau warganya agar tidak keluar rumah.

Ada banyak perkampungan yang memiliki inisiatif sendiri untuk menutup kampung daerahnya agar tidak didatangi pendatang. Sebenarnya sistem ini bisa diterapkan di daerah di Indonesia. Di mana penduduknya mayoritas muslim, memiliki banyak tempat ibadah yang dilengkapi dengan pengeras suara, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mensosialisakan semua informasi tentang virus ini dan mengimbau masyarakat untuk berdiam di rumah untuk sementara waktu.

Kerja Sama Penduduk dan Pemerintah

Penduduk di sini bisa dibilang lebih disiplin dan benar-benar mengikuti imbauan pemerintah. Meski demikian, dampak ekonomi yang dirasakan sama halnya seperti di Indonesia, banyak warga yang kehilangan pekerjaan dan perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Namun, ada hal yang patut disyukuri warga di sini yakni stabilnya kebutuhan pokok sehari-hari seperti makanan. Di China, tidak ada bantuan tunai dari pemerintah, seperti halnya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk penduduknya. Akan tetapi, pemerintah mengontrol sangat ketat harga pangan sehingga harga pangan masih terjangkau. Malah ada sebagian harga pangan yang harganya lebih murah dari harga biasanya. Terlepas dari itu semua, tentu saja setiap negara punya caranya sendiri dalam mengambil kebijakan-kebijakan untuk warganya.

Penduduk Wuhan yang telah keluar dari Wuhan sebelum diberlakukannya lockdown, mereka ditempatkan di hotel yang telah ditunjuk oleh pemerintah setempat untuk karantina. Di tempat karantina ini, setiap kamar hanya boleh ditinggali oleh satu orang. Kebutuhan makanan dan lainnya semua akan diantarkan oleh petugas yang berada di hotel. Dalam menjalankan tugasnya, semua petugas di hotel setiap harinya menggunakan APD lengkap. Ada juga sebagian hotel canggih yang dilengkapi robot khusus pengantar makanan. Semua biaya karantina untuk fasilitas hotel dan makanan ditanggung oleh pemerintah.

Penanganan Aktivitas Setelah Pandemi

Dari 11 sampai 17 Maret, jumlah kasus baru yang didiagnosis secara keseluruhan terus menurun, dan situasi epidemi telah berada pada tingkat rendah. Di hari yang sama, 42 tim medis bantuan pemerintah untuk Provinsi Hubei berangsur meninggalkan Wuhan. Pada 18 Maret, kasus lokal baru yang dikonfirmasi mencapai nol laporan untuk pertama kalinya.

Pada 25 Maret, ada laporan kasus baru impor. Pada 28 Maret, pemerintah menutup semua akses masuk untuk semua warga asing. Pelabuhan dan daratan perbatasan wilayah negara pun dijaga ketat oleh petugas. Pada 8 April, Kota Wuhan sudah dibebaskan dari lockdown, alat transportasi antar daerah sudah dibuka dan warga sudah diperbolehkan untuk kembali ke aktivitas normal. Di daerah lain selain Wuhan pun sudah tidak ada kasus terkonfirmasi dan masyarakat sudah mulai kembali kepada aktivitas normal.

Pemberlakuan aktivitas normal ini disertai dengan  berbagai skema pencegahan terjadinya kasus baru, salah satunya dengan menerapkan sistem barcode kesehatan pada setiap mode transportasi umum dan tempat-tempat umum lainnya. Misalnya saja di tempat belanja, semua diwajibkan memindai barcode kesehatan sebelum memasuki tempat belanja. Pengecekan suhu tubuh dan masker masih wajib diterapkan, bahkan sampai sekarang, walaupun kondisi sudah normal.

Pindai Barcode Kesehatan

Dengan adanya pindaian barcode kesehatan ini, setiap orang bisa terlacak riwayat perjalanannya, tempat apa saja yang pernah dikunjungi, dan apabila terjadi kasus baru di suatu tempat, sangat mudah sekali untuk mengetahui keberadaan orang-orang yang pernah berada di tempat tersebut. Selain itu, misalnya di tempat saya, pasar umum ditutup 2 minggu sekali untuk disterilisasi. Moda transpotrasi umum setiap hari juga tidak luput dari sterilisasi.

Faktor Pendukung Keberhasilan China Melawan Pandemi

Begitulah, pengalaman yang saya alami selama pandemi di China. Selain pemaparan di atas, masih ada beberapa faktor pendukung lain sebenarnya kenapa China bisa melewati Pandemi ini dengan sangat cepat.

Pertama, kapasitas atau total jumlah ekonomi mereka berada di urutan ke dua di dunia. Hampir semua industri ada di sini dan rantai industrinya sangat komplet. Dengan keadaan tersebut, ketika pandemi datang, kebutuhan akan respirator, ambulance khusus untuk mengangkut pasien Corona, perlengkapan APD, sampai kepada masker semua bisa diproduksi  sendiri dalam waktu yang sangat cepat tanpa harus mengimpor dari negara lain, bahkan masih bisa menyediakan dalam jumlah besar untuk diekspor ke negara-negara lain. Ini jadi salah satu pendukung paling utama bagi mereka untuk melawan COVID-19 ini, yang di mana di negara-negara berkembang, barang-barang ini masih sangat terbatas, bahkan harus menunggu impor.

Hal kedua, teknologi digital di China sudah sangat maju. Akses internet sudah sampai ke daerah terpencil. Dengan penduduk 1,4 miliar, akses internet untuk bekerja di rumah, sekolah di rumah, dan atau sekedar untuk hiburan pun tidak mengalami kendala. semua masih lancar dan terkendali. Selain adanya pindai barcode kesehatan, mereka juga memberikan informasi secara digital yang mudah diakses oleh masyarakat untuk mengetahui kondisi daerahnya masing-masing.

Informasi tempat pasien yang terkonfirmasi pun bisa dilacak daerahnya secara terperinci sampai nama kampung, atau letak komplek tempat tinggalnya, sehingga kita bisa tahu daerah mana saja yang pernah terkontaminasi. Tentu saja informasi detail pasien dan alamat pasti tidak disebutkan. Contohnya di daerah tempat tinggal saya, ada kasus terkonfirmasi yang jarak dari rumah saya hanya 500m. Sehingga dalam masa pandemi ini, saya juga menghindari untuk bepergian ke tempat tersebut.

Hal ketiga, China memiliki pengalaman sebelumnya dalam menangani penyakit menular berbahaya yang mirip dengan COVID-19, yaitu SARS pada tahun 2003. Adanya pengalaman ini, membantu pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang diambil. Setelah adanya kasus SARS, di setiap rumah sakit di China ada penambahan ruang unit gawat darurat khusus untuk demam. Jadi setiap orang yang terkena demam  tidak masuk ruang UGD biasa, akan tetapi dimasukkan ke ruang UGD khusus demam. Hal ini untuk mencegah adanya penyakit menular berbahaya yang bisa saja menular ke pasien lainnya. Dengan adanya kasus SARS, masyarakat juga sudah memiliki pengalaman, sehingga mereka dengan sadar berdisiplin mengikuti anjuran pemerintah. Mereka tahu pasti, semakin cepat virus ini dibereskan, semakin cepat pula mereka bisa kembali ke kehidupan normal dan kembali menata kehidupan ekonomi mereka.

Buktinya, kehidupan di China sejak beberapa bulan sudah kembali normal, para pekerja sudah mulai berproduksi, dan ekonomi sudah mulai tumbuh positif kembali. Perihal kasus baru di Beijing pada 11 Juni yang berasal dari pasar seafood yang diimpor dari Eropa, dalam waktu sangat cepat semua orang yang pernah ada kontak bisa terlacak. Dalam waktu 3 minggu, Beijing pun bisa dikendalikan, kehidupan kembali normal. Saat ini, di Xinjiang masih ada sedikit kasus baru yang terkonfirmasi sebanyak 7 orang. Akan tetapi, kasus baru ini sudah terkendali dan tidak menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan di wilayah daratan China lainnya.

Corona itu nyata teman-teman! Semoga teman-teman yang membaca juga ikut bagian untuk berkontribusi bagi negara kita tercinta, Indonesia dengan selalu mengikuti imbauan pemerintah. Walaupun ekonomi negara kita belum sehebat negara lain, namun dengan adanya kesadaran diri, kita bisa ambil bagian untuk memutus rantai Corona. Semangat! Badai pasti berlalu.

What do you think?

Ditulis oleh Nurul Rachmah

Nurul Siti Rachmah (梁努鲁), 27 tahun. Mahasiswi di Jinan University di Guangzhou. Tinggal di Kota Guangzhou. Saat ini belajar ramuan herbal, bikin konten video kehidupan di China. Kunjungi Instagramnya @lunnurul, Nurul juga membagi pengalamannya di sana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Berikut Ini 12 Fakta yang Belum Kamu Tahu tentang Qatar

Lembah Atma (Bagian Kelima)