in

Pemilu dan Lapangan Tempur Masyarakat

Sudah menjadi hakikat jika setiap manusia membutuhkan eksistensi dan aktualisasi dalam dunia yang fana ini. Entah bagaimana caranya, keduanya harus bisa didapatkan entah dengan cara yang baik entah cara yang kotor. Tujuannya hanya satu yakni mencapai citra yang baik di tengah pergumulan sosial. Untuk bisa mencapai keduanya, lapangan tempur yang tepat adalah panggung pemilu baik pilpres maupun pilkada.

Hasrat Eksistensi dan Cara-Cara Unik Mendapatkannya

Icak-icak merefleksikan demokrasi, nyatanya hanya untuk memuaskan hasrat mengeksistensikan diri. Makanya, tak jarang dalam setiap momen pilkada, selalu saja banyak pertentangan antar kelompok pendukung hingga partisipan. Sebenarnya pertentangan yang enggak perlu perlu amat, toh kenal juga enggak kadang sama calonnya. Semisal kita kenal (tahu), calonnya juga gak kenal kita. Tapi loh yah membelanya kok ya mati-matian. Sampai siap mati malah.
Saya kira, tujuan dari pertentangan ini semata mata bukan murni karena faktor mendukung si aktor utama yang akan dipilih untuk duduk berkuasa dalam pemilu, melainkan ingin memenuhi ego masing-masing. Faktor itu yang akan membuat ia terlihat berkuasa jika menang debat. Berkuasa yang dimaksud bukan harfiah menduduki jabatan dan memimpin suatu wilayah, tetapi memenangkan perdebatan di antara para pendukung. Terlepas apa pun bahasannya, perdebatan yang sifatnya debat kusir pun harus bisa dimenangkan. Debat kusir yang paling berat bukan soal telor dan ayam siapa duluan, tapi debat soal alasan kenapa lelaki selalu salah dimata wanita. Atau debat kusir baikan mana memilih pak Petruk atau Gareng di pilkada, ‘kan akhirnya juga gak ketemu titiknya.

Debat Kusir? Siapa Takut

Debat-debat kusir yang sifatnya hanya memenuhi beranda media sosial pun menjadi contoh yang paling sering kita lihat ketika momen pemilu tiba. Mulai dari bahasan program, hingga menyerang aktor yang didukungnya, bahkan berujung pada saling lapor di kepolisian itu fakta yang terjadi sampai hari ini. Sediikit-sedikit lapor pulisi, lapor pulisi kok dikit-dikit. Makanya gak jarang ketika pemilu tiba, banyak yang tadinya akrab terus renggang bahkan seperti tak kenal. Hal-hal semacam ini bukan perkara yang aneh dan menurut saya tak bisa pula untuk dicegah. Semua berawal dari hasrat dan birahi untuk diakui serta menguasai. Ya, namanya juga hidup. Rebutlah kekuasaan sekecil apapun.
Jika kita amati, masyarakat yang banyak terlibat dalam pergumulan semacam ini adalah kalangan menengah ke bawah. Mengapa menengah ke atas tidak banyak terlibat? Karena mereka sudah merasa cukup terpuaskan hasratnya dengan status dirinya yang sudah terpandang sehingga merasa tak perlu untuk bertentang demi mendapatkan pengakuan di masyarakat. Tak jarang jika pemilu lebih banyak menimbulkan kerugian bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Elite sendiri, ya asik saja menunggu hasilnya atau malah makan malam bersama sampai kemudian tak disangka-sangka yang awalnya saling ribut karena mendukung si anu, tahu tahu si anunya bergabung sama lawan. Weleh-weleh ini loh hasil tempur di lapangan pemilu.
Bagaimana? Sudah siap ikut tempur? Mumpung pilkada serentak mau dimulai. Siapkan amunisi ya. (*)

What do you think?

Ditulis oleh Dindin Hasanudin

Suka Kopi walau tak pernah tahu cara menikmatinya. Suka bola walau cuma tahu inter milan. Suka travelling dijalan yang lurus, sambil berharap diridhoi Allah mudah mudahan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Lembah Atma (Bagian Kelima)

Lembah Atma (Bagian Keenam)