in

Perbincangan Secangkir Kopi

Medan, 2039
Di penghujung tahun yang dingin, hujan senang mengguyur hari-hari juga tak lupa membuat kuyup suasana hati. Desember adalah bulan yang paling enak untuk meneguk kopi hangat jika gerimis begini. Aku duduk sendirian. Tapi tidak benar-benar sendirian, ada Nona dan Tuan yang tak kukenal duduk tak jauh dari mejaku. Mereka bisa saja berteduh sepertiku, atau memang sedang berkencan. Entahlah.

Lamat kudengar percakapan keduanya, tanpa sengaja mereka membawa aku menyelundup pada masa lalunya. Sungguh saat itu rasanya berdosa sudah mendengar nostalgia antara Nona dan Tuan. Tapi ketika itu aku sendiri, tak ada yang kulakukan, tak ada lawan bicara. Biarlah mereka membawaku pergi ke dunianya. Aku janji tak akan bersuara, kataku pada diriku sendiri sebab mereka pasti tidak tahu bahwa aku sedang menyelundup.

Di suatu tempat, pada 2017

Kulihat Nona duduk berhadapan pada Tuan. Persis seperti di kedai kopi sederhana yang kukenal di 2039. Hanya saja kursinya lebih baru, bau cat pernis masih menempel pada kayunya. Sepertinya kedai kopi ini belum lama.

“Seharusnya kau hitung sudah berapa kali aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Tapi tak bisa sebab aku cinta. Selain cinta pada diriku sendiri karena aku seorang penulis, aku juga mencintaimu. Ini gila, sungguh gila! Kau, bisakah tidak membuatku menjadi segila ini?” Nona saat itu menggunakan baju biru, mukanya datar. Tapi bibirnya bergetar, seperti ada sesuatu yang ia tahan.

“Jika aku terus membersamaimu, secara tidak langsung aku menjadi perempuan yang kubenci. Menjadi simpanan! Kau merusak harga diriku. Aku harus meninggalkanmu, cepat atau lambat,” ucapnya lagi sesaat setelah mengikat kuat kunciran rambutnya yang mulai kendur.

“Aku menganggapmu tidak lebih dari seorang sahabat. Kau bukan simpananku,” kali ini Tuan menjawab. Ia lebih tenang. Tapi matanya seperti berbohong. Tuan tidak jujur. Itu sungguh jelas terlihat.

Nona senyum dengan ketus, matanya kali ini seperti siap memangsa, “Dasar penipu! Jika kau tidak menganggapku sebagai simpananmu, mengapa kau sembunyikan aku dari kekasihmu?, dengar baik-baik, jika bagimu aku sahabatmu, beranikah kau membawaku kehadapan perempuanmu?”

“Tidakkah kau ingat? Kau yang meninggalkanku lima tahun lalu. Kau berubah sejak kau mengenal lelaki yang kau temui di tempatmu yang baru. Lalu setelah itu kau memutuskanku dengan alasan agama kita yang berbeda kan? Jika kau tak ingat, biar aku ingatkan lebih banyak sekalipun itu pasti melukai kita,”

“Kau tahu? Aku bahkan pernah menyalahkan Tuhan karena perpisahan itu. Untuk lupa dengan kau aku butuh waktu yang tak sebentar,” Tuan menyeruput kopinya. Ia nampak tenang menghadapi Nona yang membara. Sepertinya memang Tuan biasa menghadapi keadaan yang seperti itu.

“Kemudian kau datang lagi ketika aku sudah milik perempuan yang begitu tulus mencintaiku,” katanya lagi sembari meletakan cangkir di tapak.

“Dengar lah. Aku yakin kau akan berjodoh dengan yang lebih dari aku. Kau cantik. Kau pintar. Di usia muda kau sudah mendapatkan apa-apa yang kau inginkan. Karirmu cemerlang. Tanpa kau cari, lelaki pasti berebut ingin mendapatkanmu,” Tuan melihat cangkir kopinya.

“Suatu saat kau akan menikah, dan kita masih bisa diskusi seperti ini. Perempuanku, dia lebih mencintaiku dari pada kau. Dia tak pernah meninggalkanku sekalipun dia tahu kehadirannya sulit menggeser kau dari hatiku. Untuk meninggalkannya aku tidak tega. Kalau aku lebih memilihmu, bisa saja kau ulangi perbuatan yang kau lakukan lima tahun lalu. Agama adalah senjata pamungkas untuk kau jadikan lagi alasan,” diseruputnya lagi kopi dengan penuh hati-hati.

“Diskusi? lalu kau cium bibirku di tengah pembahasan? Haha, leluconmu tak masuk akal. Kau bilang perempuanmu tak tahu banyak hal, lalu kau datang padaku untuk mengobrol segala yang kau suka. Kau mencariku sebab perempuanmu tak tahu apa-apa?,” Nona menyandarkan punggungnya. Kemudian hening sesaat.

“Tidak ingatkah ketika aku membahas lelaki yang berniat menikahiku kau potong dan kau minta aku untuk menghargai perasaanmu?” volume suara Nona masih sama. “Kau egois!”

“Mulai saat ini aku ingin berhenti kejam. Pada diriku juga pacarmu sebagai sesama perempuan. Ku do’akan kau yang baik-baik. Memang mustahil bagi kita bersama-sama. Mempertahankan ini sama saja dengan menunggu aku atau kau yang semakin terluka. Tidak, bukan cuma kita tapi perempuanmu juga!” Nona mengambil tasnya sepertinya ia bersiap pergi.

“Hari ini kau meninggalkanku lagi, entah yang keberapakalinya. Semoga Tuhan memberkatimu.” Do’a Tuan sembari melihat Nona berbalik badan.

Di tempat yang sama, di 2039

“Kau adalah sedekahku yang paling ikhlas. Merelakan lelaki yang kucinta selama menahun itu adalah hal yang sulit, tapi akhirnya kubisa. Kudengar kau bahagia, syukurlah, bagaimana anak-anakmu?” Nona tidak memesan kopi kali ini. Wajahnya tetap memesona, tapi ia lebih tanang.

“Puji Tuhan semua baik. Selamat atas rilisnya bukumu yang keempat. Aku mengoleksi semuanya. Kuletakan pada rak buku yang persis kau inginkan saat remaja dulu,” Tuan lebih gemuk dari yang kulihat di masa lalu. Mukanya tetap persegi, dengan pipi yang menonjol. Ia tetap tenang seperti yang kulihat sebelumnya. Sorot matanya pada Nona juga tidak berubah. Seperti banyak kerinduan.

Mereka saling berdiam untuk waktu yang agak lama. Namun keduanya saling mencermati. Ada yang masih tertahan. Pada Nona juga Tuan.

“Boleh aku pulang duluan?,” Nona memecah keheningan.
“Suamimu sudah datang?,”
“Sepertinya dia sudah di rumah,”
Nona berbalik badan lagi, entah untuk yang keberapa kali.

Hujan sudah reda, Nona sudah pergi. Juga Tuan setelah membayar tagihan kopi yang tak ia minum.

Kekasihku sudah menjemputku. Percintaan memang selalu rumit ketika kita melihatnya demikian. Tapi yang kupelajari dari Nona dan Tuan, level cinta yang tertinggi adalah saling merelakan.
Aku yakin hingga saat ini mereka masih sulit untuk saling melupakan.

 

Baca juga : Bagaimana Kita Harus Memulai Sebuah Awal

What do you think?

Ditulis oleh Rahel Mutia

Bercita-cita jadi Ibu yang keren.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

RUU PKS Harusnya Jadi Pemersatu, Bukan Sebaliknya

Inilah Produk-Produk Indonesia yang Paling Popular di China!