in

Kotak Pandora: Sebuah Alegori tentang Perempuan

Berawal Dari Mitologi

Sebelum agama semitik muncul, manusia tidak mengenal konsep Tuhan yang satu sebagaimana kita memahaminya hari ini—dalam ajaran agama-agama monoteistik seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Sebagai gantinya, manusia menggunakan mitologi sebagai cara mereka menerjemahkan kekuatan alam: dengan menciptakan sosok-sosok yang hampir serupa dengan manusia secara fisik, namun memiliki kekuatan supranatural untuk mengendalikan dunia. Itulah kenapa dalam mitologi, sosok dewa-dewa digambarkan mirip dengan manusia. Bahkan dalam beberapa kisah, dewa-dewa dan manusia berbagi kebahagian dan penderitaan yang sama. Satu-satunya perbedaan di antara mereka adalah bahwa dewa-dewa itu lebih kuat dan abadi.

Ada banyak sekali mitologi di sepanjang peradaban manusia, tersebar mulai dari bangsa Sumeria Kuno di Kawasan Mesopotamia hingga bangsa Arya di Lembah Sungai Indus. Namun yang paling terkenal adalah kisah-kisah dalam mitologi Yunani Kuno: dengan Illiad dan Oddyssey karya penyair Homer atau Theogony karya Hesiod.

Dalam Illiad dan Oddysses, misalnya, kita mengenal nama-nama pahlawan besar seperti Achilles, Hector, Priam, Agamenmon, Oddysses, dan Paris. Kisah-kisah kepahlawanan manusia yang melibatkan para dewa dalam peperangan di kota Troya adalah yang paling menarik, sehingga mampu melahirkan banyak karya-karya seni dan sastra dalam periode-periode selanjutnya, terutama pada era renaisans (abad ke-14 sampai ke-17). Namun kemunculan para dewa dan bagaimana alam semesta ini terbentuk lebih banyak diceritakan dalam karya-karya Hesiod, terutama dalam puisinya yang berjudul Theogony.

Kemungkinan besar Hesiod menulis puisinya—atau mendiktekannya, alih-alih meneruskannya secara lisan seperti yang dilakukan oleh Homer, sehingga versi cerita yang dibangun oleh Hesiod jauh lebih sedikit. Kita tahu bahwa dalam kisah perang Troya banyak versi tersebar, contohnya adalah saat Achilles menolak ikut berperang yang menyebabkan kekalahan di pihak Agamenmon, apakah ini karena Menelaus (adik dari Agamenmon dan juga suami dari Helen) telah mangambil Briseis dan menjadikan wanita itu sebagai budaknya ataukah karena harta rampasan yang diterima Achilles lebih sedikit.

Theogony—yang dianggap sebagai karya Hesiod paling awal—berisi kisah yang menceritakan asal-usul dunia (Kosmogoni) atau para dewa (Teogoni), yang versi ceritanya kurang lebih sama di beberapa tempat. Bahwa dunia dimulai dari kekosongan (Khaos), lalu kemunculan Ibu Bumi (Gaia) dan terbukanya gerbang neraka (Tartarus), petarungan para Titan, kemenangan di pihak Zeus, hingga bertahtanya para dewa di Olympus.

Tentu saja yang paling menarik dari Theogony adalah kisah mengenai Kotak Pandora, sebuah mitos Yunani yang paling dicintai, dan juga yang paling terkenal. Kisah ini berpusat pada seoorang perempuan bernama Pandora.

Pandora yang Malang

Pada mulanya, manusia masih tinggal dalam gua-gua dan hanya berani keluar pada siang hari. Zeus lalu memberikan api sehingga manusia dapat menggunakannya untuk melindungi diri dan kelompoknya dari hewan-hewan buas. Lambat laun, api juga digunakan manusia untuk mencuri. Inilah yang membuat Zeus murka dan mengambil kembali api dari manusia.

Ketiadaan api di Bumi membuat hidup manusia lebih menderita daripada sebelumnya. Hal ini membuat seorang Titan bernama Prometheus merasa iba dan berniat membantu. Ia pergi ke Olympus dan mencuri api yang berharga itu. Ketika sadar apinya telah hilang, Zeus menjadi lebih murka. Ia bertekad menghukum Prometheus dan manusia sekaligus. Zeus memutuskan Prometheus akan diikat di sebuah gunung karang, seekor elang akan memakan hatinya namun hati tersebut akan kembali sembuh seperti semula pada malam hari, elang yang sama akan datang keesokan harinya, dan segalanya berulang setiap hari.

Berbeda dengan hukuman Prometheus, para dewa memutuskan untuk menghukum manusia dengan menciptakan seorang perempuan yang bernama Pandora.

Sebagai perempuan pertama yang diciptakan para dewa dan dewi dalam mitologi Yunani kuno, Pandora memiliki segalanya. Raganya dibuat oleh Haphaestus sang dewa pandai besi. Ia dianugerahi kecantikan dan keanggunan oleh Aprodhite. Hermes memberinya kecerdikan dan keberanian. Demeter menunjukannya cara memelihara tanaman. Apollo mengajarinya cara bernyanyi dan bermusik. Poseidon memberinya kemampuan agar tak pernah tenggelam. Bahkan Hera sang dewi utama dalam tahta Olympus, memberinya rasa ingin tahu. Lalu terakhir, Zeus memberinya kehidupan fana dan menempatkannya di Bumi.

Ketika di Bumi, Pandora tampil sangat menawan hingga membuat seorang Titan bernama Ephimetus jatuh hati. Mereka menikah dengan pesta megah. Para dewa dan dewi bahkan turun dari kediaman mereka di Olympus untuk memberkati pernikahan tersebut dan memberi hadiah sebuah kotak.

Saat menerima hadiah tersebut, Pandora sudah diingatkan untuk tidak membukanya—ia hanya boleh memandangnya, namun Hera yang agung telah memberinya rasa ingin tahu, sehingga sulit sekali bagi Pandora untuk mengabaikan keinginannya. Betul saja, ketika Pandora tak mampu lagi menahan rasa penasarannya, ia mengabaikan peringatan para dewa. Kotak itupun terbuka dan semua keburukan keluar dari sana lalu menyebar ke seluruh dunia: kejahatan, perang, penindasan, kelaparan, wabah, dan lain-lain. Meskipun begitu, ada satu kebaikan yang tersisa, yaitu harapan.

Sejak saat itu, hukuman bagi manusia dijatuhkan: perempuan adalah sumber kejahatan.

Membaca Ulang Mitologi

Pada masyarakat modern seperti kita saat ini, mitologi tidak lagi memiliki fungsi yang sama sebagaimana pada masyarakat Yunani kuno: menjadi agama atau pandangan hidup. Kita lebih memungsikannya sebagai hiburan, cerita anak-anak, atau dongeng sebelum tidur. Pelan-pelan kita melupakannya, seiring dengan perubahan diri dari anak-anak menjadi manusia dewasa. Ini wajar saja sebetulnya, kisah-kisah dalam mitologi memang sulit sekali dipercaya, terlebih ajaran-ajaran dalam agama monoteistik lebih mampu memberikan keyakinan kepada kita karena sifatnya yang ilahiah.

Namun, ketika membaca ulang kisah-kisah dalam mitologi kuno, terutama mengenai Kotak Pandora, saya memahami bahwa kisah ini, bagi masyarakat Yunani kuno yang belum mengenal konsep Tuhan yang satu, adalah sebuah upaya untuk menjelaskan mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia. Para dewa yang baik berubah menjadi kejam karena ulah manusia itu sendiri. Masyarakat Yunani kuno menerima begitu saja hukuman para dewa karena itulah satu-satunya cara bertahan hidup. Untuk lebih menyenangkan para dewa, mereka membangun banyak kuil persembahan, yang hingga hari ini reruntuhannya masih bisa kita temui. Namun bagi saya, kisah ini juga menciptakan sebuah alegori tentang perempuan yang dibangun oleh masyarakat kuno selama berabad-abad.

Dalam Sejarah Tuhan, Karen Amstrong mengatakan bahwa ketika agama semitik muncul, manusia tidak serta merta mencampakan begitu saja mitologi kuno, terutama pada periode awal ketika agama Yahudi muncul, kemudian Kristen lalu Islam. Mitologi terlanjur menjadi pandangan hidup masyarakat banyak karena itulah manusia hanya melakukan penafsiran ulang atasnya. Membantu orang-orang untuk bangkit melampauinya dengan mengenalkan konsep tuhan yang satu.

Kisah Pandora mengingatkan saya pada konsep perempuan yang dikenalkan oleh agama-agama semitik. Dalam Kristen dan Islam, kita mengenalnya dengan kisah pengusiran Adam dan Hawa dari surga menuju bumi yang fana. Kesamaan kisah itu, meski berasal dari dua sumber yang berbeda, adalah pandangan awal terhadap perempuan dan dosa asal: bahwa perempuan bisa menjadi sumber kejahatan, maka kepatuhan adalah mutlak adanya. Rasa ingin tahu dalam diri perempuan adalah nafsu yang mesti diredam—yang dalam beberapa kisah bahkan terlarang. Sama seperti Pandora yang tak diizinkan membuka kotak atau Hawa yang dilarang memakan buah khuldi, yang kemudian perintah itu dilarang, dan mengakibatkan jatuhnya hukuman pada umat manusia. Hal ini menjelaskan kenapa dalam masyarakat kuno posisi perempuan, dalam ruang privat maupun publik, berada jauh di bawah lelaki. Sebuah pandangan yang bertahan selama berabad-abad.

Beruntungnya, dunia yang kita tinggali hari ini sudah jauh berbeda dengan dunia di mana masyarakat kuno hidup. Kita hanya perlu memastikan bahwa masyarakat modern tidak kembali pada pandangan kuno tersebut. Sebuah pandangan yang menganggap perempuan adalah sumber kejahatan.

 

Baca juga RUU PKS Harusnya Jadi Pemersatu, Bukan Sebaliknya

What do you think?

Ditulis oleh Agisthia Lestari

Pembaca yang rakus. Bercita-cita memiliki perpustakaan pribadi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Inilah Produk-Produk Indonesia yang Paling Popular di China!

smartphone

Smartphone dan Dunia Maya yang Menggiurkan