in

Smartphone dan Dunia Maya yang Menggiurkan

smartphone

Kehidupan sosial manusia semakin hari memang semakin berubah. Kita tidak lagi berburu seperti pada masa prasejarah atau menulis kabar di daun papirus untuk menyelipkan informasi. Dunia sudah semakin canggih. Segala informasi tentang dunia bisa digenggam dalam satu tangan. Bukan hanya dunia 24 jam, tapi dunia lain pun bisa digenggam informasinya melalui smartpnone. Mana ada yang bisa terlewat, wong mau tidur pegang hp, bangun tidur pegang hp, sampe lupa kalau sudah punya istri yang suka ngiri kok gak dipegang-pegang.

Saking akrabnya kita dengan smartphone, kita secara tidak langsung mulai menjaga jarak dengan dunia nyata. Terbelenggu dalam dunia maya yang difasilitasi oleh dengan berbagai aplikasinya yang benar-benar menggoda. Suasana dunia maya seakan tak pernah sepi, selalu hangat, entah itu dengan candaan, cacian bahkan kepalsuan semua ada. Dengan kecanggihan telepon pintar, kita memindahkan alam nyata ke alam maya. Maya oh mayaaa.

Kehangatan ngobrol di pos ronda sudah mulai luntur. Kehangatan ngobrol di pagi hari sambil meneguk segelas kopi dan goreng pisang sudah hamper dilupakan. Yang ada,  “Ngopi dulu, Gaes,” cekrek. upload ke media sosial. Tak hanya itu, bahkan silaturahmi Lebaran saja sudah mulai nyaris ditinggalkan. Cukup broadcast pesan ke sanak saudara yang kontaknya tertera di hp semua bisa tuntas.  Dengan emot senyum dan maaf, rasanya ritual ritual itu sudah lengkap hanya dengan maya. Kita mungkin mulai rindu dengan ritual curhat, bercanda, tatarucingan alias tebak tebakan jenaka dengan kawan bukan dilakukan dengan smartphone tapi lewat alam nyata dengan komunikasi tatap muka. Dengan tatap muka kita bisa gunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang jelas sensasinya berbeda pula.

Di era kekinian, lebih banyak hal yang dilakukan dengan smartphone dengan memanfaatkan aplikasi media sosial. Pengen curhat cukup update status alias nye-pam di beranda. Lapar, update status bukannya makan. Jatuh hati, update status dengan harapan dibaca sama si dia, eh yang baca malah si mamah, sambil komen “Aa kunaon galau bae, eta sapi can di paraban (Kaka kenapa galau aja, itu sapi belum di kasih makan),”. Tak ketinggalan, misuh-misuh atau sambat di media sosial sepreti ritual sakral yang harus dilakukan ketika kecewa atau marah. Nah, ini salah satu pemicu perang dunia bisa terjadi. Saling sindir dengan kata kata menohok yang disebarkan dengan status media sosial entah Facebook, Instagram atau WhatsApp. Jelas saja status sindiran yang harapannya dibaca si A malah dibaca si B, C, D dan kawan-kawannya. Mereka semua tersindir lalu timbul persepsi bahwa si Anu nyindir dirinya. Akhirnya diam-diaman dan terjadi perang dingin, seperti Amerika dan Uni Soviet.

Memang benar, tidak semua permasalahan bisa tuntas hanya dengan satu bentuk komunikasi. Apalagi masalah pribadi yang coba dituntaskan dan dipuaskan dengan komunikasi massa, harusnya pakai komunikasi antar pribadi alias KAP. Kalau tak tuntas juga coba komunikasi intrapersonal, barangkali ada yang salah dengan diri sendiri sampai-sampai perang dingin bisa terjadi. Cukup selebritis dan politisi yang menggunakan komunikasi massa untuk menyelesaikan masalahnya. Selesaikan masalah tambah masalah..

Keberadaan smartphone yang terlalu pintar tapi tak diimbangi oleh penggunanya benar, jadi hal yang tidak baik. Membuat cosmik tak seimbang, barangkali. Bukan handphone yang diperalat manusia, tetapi manusia yang diperbudak handphone. Kita pun jadi terbelenggu dalam berbagai kenikmatan dan kemudahan yang ditawarkan smartphone.

Jangan terlalu diresapi, ini hanya tulisan sebelum tidur. Kalau bacanya sambil tidur pasti gak bakal pusing. Sok deh (*)

Baca juga Pemilu dan Lapangan Tempur Masyarakat

What do you think?

Ditulis oleh Dindin Hasanudin

Suka Kopi walau tak pernah tahu cara menikmatinya. Suka bola walau cuma tahu inter milan. Suka travelling dijalan yang lurus, sambil berharap diridhoi Allah mudah mudahan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Kotak Pandora: Sebuah Alegori tentang Perempuan

The Social Dilemma: Manusia Sebagai Produk Teknologi