in

The Social Dilemma: Manusia Sebagai Produk Teknologi

Media sosial, sebagaimana yang kita ketahui, adalah ruang khalayak untuk keperluan mendapatkan informasi tentang suatu fenomena yang tengah terjadi. Seiring waktu, manusia kian berkembang dan mengalami perubahan dari segi pola pikir, gaya hidup, perilaku, dan pengetahuan. Dalam hal perubahan sosial yang sedang terjadi saat inilah, media sosial menjadi salah satu faktor pendorongnya. Perkembangan zaman yang berpijak pada modernisasi, mengantarkan manusia pada arus globalisasi yang menuntut manusia untuk giat membaca dan paham teknologi yang berkembang.

Teknolog Digital: Siapa menguasai siapa

Dewasa ini perkembangan teknologi merujuk pada penggunaan media sosial sebagai fasilitator dalam menyampaikan informasi. Beragam platform media sosial lahir, dari mulai Facebook, Twitter,Iinstagram, Pinterest, Tumblr, dan lain sebagainya. Manusia sebagai produk pasar perusahaan digital semakin hari semakin candu menggunakannya. Media sosial pada prosesnya menggunakan manusia sebagai produk perilaku dan pembentukan persepsi manusia itu sendiri dalam mengkonstruksi realitas. Hal ini terjadi karena  proses perubahan pola komunikasi. Media sosial sendiri termasuk ke dalam komponen komunikasi massa. Ia menjadi jembatan memproduksi dan mendistribusikan pesan yang berlandaskan teknologi. Arus pesannya kontinyu  serta paling luas dalam masyarakat industri.

Berangkat dari tujuan untuk mengembangkan komunikasi secara luas dengan memanfaatkan teknologi yang semakin maju, media sosial menemukan dilema dalam perjalanannya. Penggunaannya menjadi penuh kengerian: manusia sebagai pengguna juga adalah produk manipulasi dari apa yang dibentuk oleh pasar digital. Media sosial mampu mengeksploitasi kondisi psikologis. Berbekal media sosial, berbagai macam fenomena, mulai dari gerakan pembebasan sebuah negara, gerakan radikalisme oleh kelompok separatis, human traficking, kepentingan politik, dan lain sebagainya terjadi, menyulut api dan meraup dukungan dari seluruh penjuru. Media sosial pada gilirannya dapat menjadi senjata utama dalam melanggengkan kepentingan penggunanya.

You’re the product!

The Social Dilemma sebuah film dokumenter besutan Jeff Orlowski yang kini bisa disaksikan di paltform video Netflix, coba mengeksplorasi dan mengevaluasi bagaimana media sosial lahir dan berkembang menjadi sesuatu yang gerakannya tidak terhentikan: sebuah keresahan baru. Para narasumber yang dihadirkan dalam film ini sangat kredibel. Mereka pernah terlibat dalam perusahaan platform media sosial dan ikut andil dalam proses pembentukan cara kerja media sosial itu sendiri. Mereka menjelaskan bagaimana mereka menciptakan pasar digital dengan manusia sebagai produk utama.

Film ini menjelaskan analogi bagaimana media sosial bekerja. Penyajiannya didukung dengan plot fiksi yang menceritakan seorang anak muda bernama Ben sebagai pengguna media sosial. Penjelasan Artificial Intelligence (AI) yang menggambarkan Ben sebagai boneka voodoo yang dikontrol oleh tiga orang pemegang sistem media sosial, adalah bentuk bagaimana media sosial membentuk perilaku manusia sebagai penggunanya.

Footage asli dari sebuah fenomena yang terjadi di belahan dunia juga ditampilkan sebagai pendukung tentang akibat yang dilahirkan dari penggunaan media sosial. Analogi tersebut menjelaskan bagaimana semua merujuk pada proses pembentukan algoritma yang sebenarnya tidak objektif. Tidak hanya itu, Jeff Orlowski juga menghadirkan narasumber seperti Roger McNamee sebagai investor pertama Facebook. McNamee menjelaskan proses bisnis kapital ini sangat menguntungkan. Salah satu buktinya, bisnis ini dapat mengubah salah satu kota di California Amerika Serikat menjadi markas raksasa pasar digital, yakni; Silicon Valley. Kota ini menjelma menjadi kota yang semua serba mahal. Secara teknis, Jeff menampilkan proses wawancara begitu natural. Bagian wawancara ini memiliki keterkaitan asumsi pada setiap scene yang membentuk plot cerita dan pesan yang ingin disampaikan.

Selain melahirkan kesadaran tentang dampak yang disebabkan dari media sosial, The Social Dilemma juga melahirkan ketakutan bagi kita para pengguna media sosial. Bagaimana tidak, seperti tidak ada rahasia yang tersimpan, pemegang sistem mengetahui semua tentang diri kita bahkan lebih tahu tentang diri kita daripada diri kita sendiri. Walaupun demikian, film ini ditutup dengan solusi dari narasumber bagaimana kita menggunakan dan menghadapi fenomena bias media sosial ini. Meski solusi yang disampaikan terkesan utopis, tetapi semua kembali kepada diri kita sebagai pengguna.  Kita diminta untuk bisa lebih bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi agar tidak menjadi produk yang mudah dimanipulasi oleh media sosial seutuhnya.

Baca juga: A Copy of My Mind: Film dengan Konstruksi Realita Sosial yang Pekat

What do you think?

Ditulis oleh Fuji Afdi

Sedang dalam perjalanan panjang mencari tempat pulang, menjadi manusia berguna.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
smartphone

Smartphone dan Dunia Maya yang Menggiurkan

Agraira

Enam Dekade Hari Tani: Belenggu Revolusi Industri dan Ilusi Reforma Agraria Sejati