in

LOLLOL LoveLove OMGOMG WTFWTF

Covid dan Kelas Akselerasi Manusia

Covid-19

Sejak datangnya virus memuakkan Covid-19 pada awal tahun 2020 di Indonesia, segala tatanan kehidupan terus mengalami perubahan. Perubahan yang sebenarnya tidak alamiah namun dipaksakan. Perubahan ini sebenarnya mungkin akan terjadi pada masa depan, tapi Covid mempercepatnya, sehingga kita tumbuh menjadi dewasa sebelum waktunya.

Hal kecil saja dalam bidang pendidikan, tatanannya sudah jauh berbeda dari kondisi normal sebelumnya. Kegiatan belajar yang biasa dilakukan di dalam kelas dengan guru mengajar secara tatap muka, diwarnai murid laki-laki saling lempar kertas berisi surat cinta sama murid perempuan. Atau lari-larian di jam istirahat hanya sekadar mencari perhatian si dia. Hal ini sudah tidak ada dan bisa dibilang hampir punah.

Kini dengan tatanan dunia baru, semua dilakukan dengan cara yang gak biasa yakni online. Belajar dengan online, kumpulkan tugas atau PR online, chat murid lain yang jadi gebetan online. Semua serba online. Bahkan gara gara sistem online, sampai terjadi kasus di Kalimantan seorang guru salah sasaran mengajari murid alias bukan murid dia yang diajarnya melainkan murid dari sekolah lain yang beda wilayah. Lah kok bisa? Untung pas berlaku akad nikah online tidak sampai terjadi juga kesalahan memilih pasangan.

Baca juga: Reading in The Time of Corona

Kesilapan semacam ini bukan hal yang biasa. Masih untung hanya salah murid, daripada salah ilmu alias si murid tak bisa menangkap apa yang diajarkan gurunya via online. Akibatnya sang anak salah tafsir dengan keilmuan dan sesat, kan jadi dosa jariyah. Karena ilmu yang didapatnya kemudian diturunkan terus menerus pada generasi berikutnya.

Setelah bertahun tahun sekolah, akhirnya wisuda. Tapi masih karena Covid, wisuda pun hanya bisa digelar online. Walau sama-sama wisuda, tapi wisuda online membuat para peserta banyak kehilangan momen. Tak bisa merayakan dengan teman-teman, atau lempar topi toga bareng teman seangkatan. Lebih parah lagi tidak bisa foto bareng kekasih tersayang dengan latar teman-teman lain yang juga wisuda. Makanya tak salah kalau wisuda online itu ibarat judul lagu om Ari Lasso “Hampa”.

Covid-19 tidak hanya menggerus sistem pendidikan. Tapi sistem lain seperti keagamaan pun dibuat dilema. Perkara salaman saja kini sudah serba salah ketika akan dilakukan. Padahal selama ini khususnya dalam islam salaman itu sesuatu yang dianjurkan. Sekarang jika bersalaman yang ada was was dan jadi suudzon “Dia Covid gak yah?” Akhirnya jangankan salam penuh keikhlasan yang ada batal bersalaman alias jadinya adu tinju sebagai simbol salaman di masa Covid.

Bukan hanya perkara salaman, soal silaturahmi dengan saling mengunjungi yang dianjurkan oleh agama pun kini jadi tabu. Semua serba menutup diri dan menjauh dari kehidupan sosial bermasyarakat, karena khawatir tertular Covid. Kemudian ibadah secara berjamaah pun semakin digerus akibat Covid. Banyak ketakutan ketika datang ke tempat kerumunan, sehingga banyak orang yang memilih urung untuk ibadah berjamaah.

Kemudian jangan pula katakan, dalam masa pandemi hanya politik yang tidak terpengaruh. Sebab aktivitas politik pun tetap terdampak, buktinya sejumlah agenda kampanye dan pilkada tetap dilakukan dengan pembatasan yang ketat. Walau dalam pelaksanaannya hanya Tuhan yang tahu atau sama-sama tahu. Sebagai masyarakat pasti bertanya-tanya mengapa pemilu tidak dihentikan saat pandemi, begini yah den bagus pemilu adalah pesta demokrasi untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Jika estafet terputus, kemudian masa jabatan pimpinan lama habis, maka akan digantikan oleh Pjs atau Plt. Namun tak akan selamanya Pjs atau Plt berkuasa, ada banyak kebutuhan masyarakat yang (harus) dipikirkan (kalau tidak lupa). Dengan sejumlah pertimbangan penuh manfaat itu, maka proses pemilukada tetap harus dilaksanakan.

Perlu disadari, degradasi perilaku terus terjadi akibat pandemi Covid-19 ini. Budaya manusia semakin hari terus berguguran karena pandemi. Jika mengutip dari laman website Covid19.go.id, total kasus positif Covid per tanggal 6 Oktober 2020 sudah mencapai 311.176 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 11.374 orang sudah meninggal dunia. Entah berapa jiwa lagi yang akan kehilangan nyawa akibat virus impor ini. Kita juga tak tahu kapan virus ini akan mati atau pergi kembali ke asalnya, yang bisa kita lakukan hanya bersabar dan tentu yang paling penting ambil hikmahnya.

Sisi positifnya adalah, Covid telah menjadi kelas akselerasi bagi perkembangan manusia. Perubahan yang terjadi hari ini atau yang kita sebut adaptasi kebiasaan baru adalah buah dari Covid. Kehidupan di masa depan yang akan serba online, dan mengandalkan kecanggihan teknologi akan semakin dekat untuk dirasakan. Memangnya siapa yang akan memaksa masyarakat di perkampungan terpencil bisa melek teknologi jika tanpa Covid. Okeh selamat menikmati kelas akselerasi, semoga mendapat nilai terbaik dan berguna ilmunya di masa depan.

What do you think?

Ditulis oleh Dindin Hasanudin

Suka Kopi walau tak pernah tahu cara menikmatinya. Suka bola walau cuma tahu inter milan. Suka travelling dijalan yang lurus, sambil berharap diridhoi Allah mudah mudahan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Agraira

Enam Dekade Hari Tani: Belenggu Revolusi Industri dan Ilusi Reforma Agraria Sejati

Omnibus Law Cipta Kerja dan Degradasi Kepercayaan Publik