in

The Devil All The Time: Ketika Setan Mengaku Jadi Tuhan

Film The Devil All The Time yang tayang di Netflix pada 16 September lalu menarik perhatian saya. Alasannya, selain ceritanya yang berkaitan dengan agama, menyangkut Tuhan dan Setan, film ini juga diperankan oleh aktor-aktor ternama, di antaranya Tom Holland dan Robert Pattinson.

Film ini dimulai dengan mengisahkan Willard Russel (Bill Skarsgård), seorang veteran perang yang kembali ke Coal Creek untuk menjalani hidup damai bersama ibu dan pamannya. Di perjalanan pulangnya, ia sempat mampir ke sebuah kedai dan bertemu dengan seorang gadis pelayan bernama Charlotte (Haley Bannett). Willard kemudian menikahi wanita tersebut dan dikaruniai anak bernama Arvin Russel (ketika besar diperankan oleh Tom Holland).

Willard bersama istri dan anaknya kemudian memilih tinggal di perbukitan Knock Stiff, Ohio. Di sana, Willard juga membangun gerejanya sendiri di tengah hutan untuk berdoa. Ya, Willard memang terlahir dari keluarga yang religius, meyakini bahwa hidup harus selalu berdampingan dengan agama.

Willard pun seringkali mengajarkan Arvin untuk berdoa di gereja yang telah dibangunnya itu. Suatu ketika, sang istri menderita penyakit kanker. Dengan keras, Willard bersorak, memohon dan berdoa kepada Tuhan agar istrinya disembuhkan dari penyakitnya. Ia bahkan menyalibkan anjingnya sendiri yang juga menjadi anjing kesayangan Arvin. Pikirnya, dengan mengorbankan nyawa, maka istrinya bisa sembuh.

Baca juga: The Social Dilemma: Manusia Sebagai Produk Teknologi

Namun, hasilnya Nihil. Sang istri meninggal dunia. Dan di hari yang sama, Willard memilih mengakhiri hidup. Sementara Arvin jadi membenci sang ayah karena melakukan hal yang menurutnya tidak masuk akal. Di hari itu, Arvin menjadi yatim piatu, ia pun tak pernah lagi berdoa sejak ia beranjak remaja.

Kisah Willard menjadi babak pembuka film ini, bagaimana ia memiliki cara pandang yang salah terhadap agama. Film dengan latar 1950an ini menggunakan alur maju mundur. Banyak flashback dalam alurnya yang membuat saya harus berulang kali untuk memahaminya. Namun, semua terungkap satu persatu dengan bagaimana para pemeran memiliki konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Kefanatikan mereka terhadap agama tak ayal membuat mereka salah kaprah.

Pemuka Agama Tak Tentu Suci

Kemudian kisahnya dilanjutkan dengan Helen Laferty (Mia Wasikowska) yang mulanya hendak dijodohkan dengan Willard, namun ia justru menikah dengan seorang pendeta bernama Roy Laferty (Harry Meiling) dan dikaruniai anak bernama Lenora (Eliza Scanlen). Pendeta ini pun tenggelam dalam sudut pandang gelapnya terhadap konsep ketuhanan. Ia membunuh istrinya sendiri dengan maksud untuk membuktikan rahmat Tuhan yang dikaruniai padanya. Ia yakin bisa membangkitkan kembali istrinya yang telah ia bunuh itu. Padahal, hal itu seolah hanyalah bisikan setan. Ia tidak akan pernah bisa membangkitkan kembali istrinya yang telah mati terbunuh oleh tangannya sendiri.

Lenora, yang juga menjadi adik tiri Arvin pun terpaut kisah asmara dengan seorang pendeta bernama Preston Teagardin (Robert Pattinson). Dengan dalih-dalih agama sembari berdoa menyebut nama Tuhan, pendeta mesum itu malah membabat keperawanan Lenora dan tidak ingin bertanggung jawab atas anak yang telah dikandung Lenora. Merasa malu dan bersalah atas hal itu, Lenora yang dikenal begitu alim dan lugu akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Setelah menelusuri alasan kematian adik tirinya, Arvin mengetahui bahwa pendeta cabul itu memiliki fetish dengan mencium celana dalam para wanita yang telah ia pergauli. Atas dendam kesumat, Arvin kemudian membunuh pendeta gila tersebut.

Belum lagi kisah Sandy Henderson (Riley Keough). Selain Charlotte yang menemukan jodoh di kedai, Sandy yang juga merupakan pelayan di kedai itu bertemu jodohnya dengan seorang fotografer dan mantan pastor bernama Carl Henderson (Jason Clarke). Namun, bukan hidup damai yang ia dapatkan, sang suami justru menjadikan Sandy sebagai model pornografi bersama pria-pria polos yang ia tumpangi dengan mobilnya.

Dari kisah-kisah tersebut, saya menangkap beberapa pesan, di antaranya adalah dengan sikap religius, belum tentu seseorang itu yang paling suci. Bahkan pemuka agama pun dapat menyalahartikan agama agar tujuan lainnya tersalurkan demi kepentingan pribadi. Kemudian, bagaimana Willard mendidik anaknya, menunjukkan bahwa kebencian pantas dibalas dengan kekerasan, begitu lah sikap anak akan terbentuk.

Bisikan setan dengan dalih Tuhan membuat mereka melakukan hal tidak lagi manusiawi dan menganggapnya menjadi sesuatu yang halal. Film The Devil All The Time ini begitu depresif, dipenuhi dengan pandangan-pandangan mereka yang gelap. Tentu tidak cocok jika disaksikan oleh anak di bawah umur atau orang yang pernah mengalami trauma psikologis.

What do you think?

Ditulis oleh Rahma Maulidia

Si perempuan berwajah sinis yang selalu ingin bermanja dengan alam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Pulau Sangiang dan Masalah-Masalah yang Tak Kunjung Selesai

gen siddharta mukhrejee

The Gene: An Intimate Review