in

The Gene: An Intimate Review

gen siddharta mukhrejee

Pada 7 Oktober 2020 lalu, the Royal Swedish Academy of Science mengumumkan bahwa pemenang Hadiah Nobel untuk bidang kimia tahun ini jatuh pada seorang bakteriolog dan seorang biokimiawati, Emmanuelle Charpentier dan Jennifer A. Doudna, atas pengembangan metode penyuntingan genom, sistem CRISPR-Cas9, yang telah merevolusi dunia ilmu hayati (life science) sedemikian rupa selama nyaris satu dekade belakangan. Keakuratan lebih tinggi dari sistem CRISPR-Cas9 yang digagas dua peneliti wanita ini dalam menyasar gen-gen yang ingin dipelajari ilmuwan telah memungkinkan para biolog menghemat tenaga, biaya, dan waktu dalam merekayasa gen-gen sehingga dapat memahami banyak mekanisme dari proses-proses biologis yang berkaitan erat dengan gen secara lebih mudah dan cepat. Belum lagi, spesifisitas berpresisi lebih tinggi dalam menyasar bagian-bagian tertentu dari genom (kumpulan gen dalam sel tubuh makhluk hidup) dengan menggunakan sistem CRISPR-Cas9 memunculkan harapan besar di dunia medis bagi penyembuhan penyakit-penyakit genetik, seperti anemia sel sabit (sickle cell anaemia), distrofi otot (muscular distrophy), penyakit Huntington dan kanker, yang sejauh ini tidak tersembuhkan.

Meski demikian, di atas kebermanfaatan yang telah dipetik dunia sains dari metode penyuntingan genom sistem CRISPR-Cas9, seperti belati bermata dua, sistem CRISPR-Cas9 juga dapat disalahgunakan. Salah satu contohnya adalah kemungkinan percobaan penciptaan embrio manusia yang direkayasa secara genetik. Sejauh ini, ilmuwan telah bersepakat bahwa selama seluruh risiko belum diketahui, tindakan modifikasi terhadap gen-gen dalam tubuh manusia, yang berkemungkinan diwariskan kepada keturunan sehingga gen-gen rekayasa tersebut punya peluang besar lestari di populasi selama bergenerasi-generasi, adalah sesuatu yang dilarang. Untuk dapat melakukan tindakan manipulasi genetik kepada embrio manusia, ethical committees perlu terlebih dulu mengulasnya sebelum menyetujui apakah tindakan modifikasi gen tersebut boleh dilakukan atau tidak.

Untuk bisa memahami salah satu perdebatan filosofis dan etis paling sengit yang melingkupi abad ini mengenai kemungkinan rekayasa genetik pada manusia, mempelajari gen (molekul kimiawi yang darinya berbagai hal pada diri makhluk hidup, termasuk manusia, ditentukan) sepertinya adalah salah satu hal yang amat penting. Dan beruntungnya, untuk orang-orang seperti kita yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan saintifik penuh kontroversi seputar rekayasa gen itu sendiri, ada satu buku yang menurut saya bisa sangat membantu dalam memberikan gambaran umum namun memuaskan mengenai bahasan tersebut; the Gene; An Intimate History.

Sebagaimana yang diakui sendiri oleh penulisnya pada bagian Acknowledgments buku yang akan saya ulas ini, Siddhartha Mukherjee pada awalnya tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan pernah menuliskan buku lain selain buku pertamanya, the Emperor of All Maladies: A Biography of Cancer. Buku yang membuatnya dianugerahi Hadiah Pulitzer untuk kategori general non-fiction itu, sebagaimana pengakuannya, “had sapped all my stories, … I have nothing more to tell.” Meski demikian, seolah ingin membuktikan bahwa dokter sekaligus onkolog itu tidak mengenal dirinya sendiri, ide tentang the Gene muncul tiba-tiba dalam bentuk pertanyaan di dalam benaknya yang selalu ingin tahu itu: if cancer … is the “distorted version of our normal selves,” then what generates the undistorted variants of our normal selves? Dalam jawaban untuk pertanyaan inilah Mukherjee menemukan sesuatu yang lain untuk dituliskan, dan “Gene is that story”: buku yang, sebagaimana disebutkannya, pada kenyataannya berperan sebagai prekuel bagi buku pertamanya yang terkenal itu.

Sebelum mengulas isi buku the Gene lebih jauh, terlebih dahulu ingin saya katakan di sini bahwa judul ulasan ini, the Gene: An Intimate Review, dibuat demikian bukanlah untuk tujuan lain selain untuk suatu alasan yang benar-benar harfiah: membuat ulasan ini memang benar adanya terasa begitu intim bagi saya sebab topik yang diangkat buku ini merupakan salah satu topik yang sangat saya gemari semasa menjadi mahasiswa biologi, mengingatkan saya pada laboratorium-laboratorium bernuansa putih tempat saya dan rekan-rekan dulu kerap kali mengulang apa yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan terdahulu, yang di antaranya adalah percobaan ‘kancing genetik’: kegiatan praktikum yang ditujukan untuk mengilustrasikan hukum matematika dasar (peluang) yang diamati seorang pendeta asal Brno sewaktu meneliti kacang ercis, Gregor Johann Mendel, bekerja pada hal misterius yang diwariskan makhluk hidup kepada keturunannya—gen.

Sayangnya, sesuatu yang membuat the Gene terasa demikian dekat bagi saya, yang memiliki latar belakang akademik yang sesuai, mungkin malah menjadi kelemahan buku ini di mata pembaca awam: buku inin mengandung banyak jargon yang perlu dipelajari lebih jauh agar dapat memahami gagasan-gagasan Mukherjee dalam the Gene dengan lebih mendalam, terlepas dari tersedianya glosarium di bagian akhir buku ini. Namun demikian, meski berasal dari kalangan awam, namun bila memiliki ketertarikan besar pada dan sedang mencari makna kemanusiaan dari sudut pandang genetika, perjuangan menyelesaikan dan memahami isi buku ini akan tak pelak terbayarkan, sebab setelah membahas secara historis perkembangan pemahaman manusia tentang gen, kita akan dibawa menyelami isu-isu kemanusiaan seperti rasisme, identitas gender, orientasi seksual, tendensi dalam menentukan pilihan dan temperamen yang ternyata begitu terkait dengan gen.

Salah satu kelebihan yang dimiliki buku ini, menurut saya pribadi, adalah tentang bagaimana buku ini disusun dengan sistematika yang amat cermat. Sebagai bukti, mari saya perlihatkan bagaimana buku ini dirancang sangat baik dengan mendiskusikannya bagian per bagian.

Di awal, pada bagian prolog, kita pertama-tama dibawa melihat sebentar kehidupan pribadi keluarga Mukherjee yang begitu dekat dengan penyakit mental genetis (skizofrenia dan bipolar), mengisyaratkan bahwa, baginya, memahami dan menulis perkara gen, selain bagian dari profesinya sebagai dokter dan onkolog, juga merupakan hal yang amat pribadi: an intimate history. Isyarat keseriusannya menggarap the Gene yang tertulis di prolog itu, menurut saya, terbukti bukan pepesan kosong setelah 2 gelar berhasil diperoleh buku ini: 10 Best Books versi the Washington Post dan 100 Notable Books versi the New York Times Book Review pada tahun 2016. Itu belum termasuk ulasan-ulasan bagus dari banyak sumber yang salah satunya, dari the Seattle Times, begitu saya setujui: “Reading The Gene is like taking a course from a brilliant and passionate professor who is just sure he can make you understand what he’s talking about…

Gen: Sesuatu yang Konseptual

Setelah prolog, di bagian awal buku ini, yang diberi judul the “Missing Science of Heredity”; the Discovery and Rediscovery of Genes (1865-1935), sebelum membahas isu-isu kemausiaan terkait gen yang pelik, kita terlebih dulu diajak Mukherjee memahami perkembangan gagasan tentang gen melalui kunjungan ke Eropa dan Amerika masa lampau untuk menengok kehidupan ilmuwan-ilmuwan yang punya peran dalam perkembangan konsep gen dari waktu ke waktu—Phytagoras, Aristotle, Charles Darwin, dan Gregor Mendel—beserta peristiwa-peristiwa historis yang disebabkan pemahaman terhadap konsep tersebut pada zamannya, yang dalam kasus terekstrem adalah kelahiran eugenika, ibu kandung the Virginia State Colony for Epileptics and Feebleminded dan nazisme Jerman yang kejam. Barulah kemudian di bagian kedua buku ini, yang diberi judul “In the Sum of Parts, There Are Only the Parts”; Dechipering the Mechanism of Inheritance (1930-1970) kita benar-benar diperkenalkan kepada gen yang wujud konseptualnya telah kita telusuri akar sejarahnya di bagian sebelumnya.

Gen: Sesuatu yang Kimiawi

Di bagian dua buku inilah saya benar-benar merasa déjà vu. Membaca halaman demi halaman di bagian ini membuat saya seperti kembali ke masa saya masih menjadi mahasiswa semester tiga di jurusan biologi saat sedang dalam kelas genetika: benar-benar terasa seolah saya sedang reuni dengan tokoh-tokoh yang telah diperkenalkan kepada saya di kuliah itu tujuh tahun lalu. Tanpa tabel berisi data atau pun grafik, Mukherjee dengan cerdas menyajikan ringkasan penelitian ilmuwan-ilmuwan yang telah menyumbangkan keahlian dan kejeniusan mereka ke dalam pengetahuan mengenai gen.

Pertama-tama, dalam bagian yang bagi saya terasa seperti reuni penuh nostalgia ini, Mukherjee akan mengajak kita bertemu dengan Thomas Morgan dan Hermann Muller, tokoh yang mengungkap arsitektur dari sesuatu di dalam sel yang dinamai kromosom tempat gen berada; kemudian, kita diajak bertemu Oswald Avery, tokoh yang memperjelas bahwa bagian kromosom yang berperan sebagai gen itu adalah deoxyribonucleic acid (DNA)—molekul kimiawi yang strukturnya dipecahkan oleh James Watson, Francis Crick, Maurice Wilkins, dan Rosalind Franklin; dan terakhir, kepada George Beadle dan Edward Tatum, tokoh-tokoh yang menyibak bagaimana molekul DNA, yang berperan sebagai informasi warisan dari indukan, diekspresikan pada anakan melalui proses sintesis protein, molekul paling multifungsi dalam tubuh makhluk hidup, yang dalam prosesnya, oleh Jacques Monod dan François Jacob diketahui secara molekuler dikontrol dengan ketat.

Gen: Sesuatu yang Kontroversial

Setelah memahami apa itu gen dan bagaimana dia bekerja sebagai molekul penyimpan informasi biologis warisan, di bagian ketiga, “the Dreams of Geneticist”; Sequencing and Cloning of Genes (1970-2001), barulah akhirnya kita diajak melihat benih perdebatan filosofis dan etis di bidang genetika, yaitu saat teknologi rekayasa genetik muncul: Paul Berg, pada 1970, menggagas suatu metode memotong dan menempelkan gen dari satu organisme ke organisme lain, rekombinasi DNA.

Morfologi, anatomi, fisiologi dan perilaku semua jenis makhluk hidup, termasuk manusia, merupakan ekspresi dari gen-gen yang mereka warisi dari leluhur mereka. Kemunculan suatu prosedur yang dapat dilakukan untuk memodifikasi warisan ini sesuai yang diinginkan tentu saja tidak hanya mencengangkan tapi juga mengerikan untuk dibayangkan. Setiap spesies makhluk hidup mengandung gen-gen yang telah lolos kendali mutu seleksi alam selama rentang waktu evolusi. Mengutak-atik produk evolusi yang lolos kendali mutu itu pada suatu individu manusia, misalnya, terlepas dari adanya peluang menjadikannya lebih mutakhir, juga mengandung risiko menimbulkan kekacauan yang membahayakan baginya. Kemungkinan-kemungkinan yang muncul di imajinasi banyak ilmuwan saat mengetahui metode rekombinasi DNA yang diinisiasi oleh Paul Berg inilah yang membawa kita ke peristiwa yang sama fenomenalnya seperti Konsili Nicea di mana ketuhanan Yesus ditetapkan sebagai penyelesaian bagi kontroversi Arianisme dan juga Konsesus Syura yang menetapkan Abu Bakar sebagai pemimpin umat muslim menggantikan Nabi Muhammad yang telah wafat: Konferensi Asilomar.

Dengan narasinya yang enak dinikmati, Mukherjee berhasil menghadirkan, di dalam benak saya, situasi menegangkan Konferensi Asilomar di mana para jenius biologi satu sama lain saling berbeda pendapat dan berdebat sengit mengenai keharusan pembatasan ketat penggunaan teknologi manipulasi gen dalam eksperimen-eksperimen yang akan dilakukan ilmuwan—yang juga berarti menekan laju kemajuan yang bisa diperoleh dari memanfaatkan teknologi rekombinasi DNA yang potensial itu. Dan luar biasanya, betapa pun bersitegangnya situasi Konferensi Asilomar, pertemuan itu tetap berhasil menghasilkan sebuah dokumen moratorium yang disepakati.

Di akhir bagian tiga buku ini, di bab “Clone or Die” Mukherjee menunjukkan bahwa sebuah batasan sesungguhnya bukanlah benar-benar hambatan bagi ilmuwan yang tepat. Eksperimen “Pangeran Katak”, menyatukan sebuah gen katak ke dalam kromosom bakteri, yang dilakukan Stan Cohen dan Herb Boyer terbukti telah merevolusi dunia farmasi. Dengan menjadikan bakteri sebagai wadah bagi gen asing yang disisipkan ke dalam kromosomnya, bakteri ternyata dapat dimanfaatkan sebagai pabrik biologis dari produk-produk gen yang disisipkan ke dalam kromosomnya—sebab gen-gen yang disisipkan ke dalam kromosom bakteri ikut diekspresikan selain terbanyakkan dengan sendirinya seiring bakteri bereproduksi dengan membelah diri. Insulin, hormon yang sangat penting dalam mengontrol kadar gula darah, misalnya, dapat diproduksi massal melalui rekombinasi DNA untuk kepentingan pasien diabetes tanpa perlu mengekstrasinya dari “dozens of pounds of cow pancreases” berbiaya mahal.

Gen: Sesuatu yang Filosofis

Selanjutnya, di bagian empat, “the Proper Study of Mankind is Man”; Human Genetics (1970-2005), setelah menjabarkan kemajuan pesat teknologi genetika di bagian sebelumnya, Mukherjee mulai mengajak kita menengok banyak bentuk gen-gen yang bermutasi pada manusia dan bagaimana kita sendiri memanfaatkan teknologi-teknologi di bidang genetika itu tidak hanya untuk mempelajari bagaimana gen-gen itu menyebabkan abnormalitas sehingga bisa menyusun langkah penangananan, tapi juga mencoba ‘memperbaiki’ gen-gen mutan ke bentuk normal mereka melalui terapi gen. Melalui studi terhadap kelainan genetik pada manusia dalam upaya menyusunan penanganan yang tepat-lah ilmuwan akhirnya menyadari bahwa penyakit genetik tidak melulu monogenik (satu gen menyebabkan satu penyakit), melainkan juga poligenik (satu penyakit disebabkan mutasi pada banyak gen) dan pleiotropik (satu gen menyebabkan banyak penyakit). Fakta inilah yang kemudian mendorong dilaksanakannya Human Genome Project oleh National Institute of Health Amerika guna mengetahui secara komprehensif keseluruhan gen yang dimiliki manusia sehingga bisa lebih mudah memahami keterkaitan antara satu gen dengan gen yang lain, terutama dalam hubungannya sebagai penyebab penyakit.

Begitu data mengenai keseluruhan gen manusia telah tersedia melalui Human Genome Project yang upayanya diceritakan dengan rinci di bagian sebelumnya, di bagian lima, Through the Looking Glass; the Genetics of Identity and “Normalcy” (2001-2015), Mukherjee mulai mengajak kita duduk di masa yang belum lama ini untuk berdiskusi santai namun serius mengenai apa saja yang telah diketahui mengenai manusia dari penelitian yang sudah semakin berkembang di tengah-tengah teknologi di bidang genetika yang sudah semakin maju. Dia memulainya dengan isu perbedaan ras yang, sebagaimana riset-riset yang diulasnya, tidak begitu didukung fakta genetik: manusia nyatanya lebih mirip secara genetik satu sama lain (terlepas dari variasi yang teramati pada orang-orang dari wilayah geografis yang berbeda) dibandingkan simpanse satu dengan yang lain. Kita bahkan diperkenalkan pada teknologi jam molekuler yang memungkinkan kita singgah di masa lalu untuk mengetahui sejarah nenek moyang kita yang berasal dari Afrika melalui analisis DNA semata.

Selanjutnya, kita diajak pula mengulas isu identitas gender dan orientasi seksual yang nyatanya amat ditentukan oleh hubungan erat antara gen dan pengaruh lingkungan (nature and nurture), bukan sepenuhnya pengaruh lingkungan atau pun gen semata. Bukti-bukti (walau belum menyeluruh) bahwa kepribadian dan temperamen memiliki asal-usul genetik pun tidak luput menjadi topik diskusi yang Mukherjee sajikan dan akan dengan senang hati kita simak di bagian ini. Sebab, begitu sampai ke bagian enam, Post-genome; the Genetics of Fate and Future (2015-…), kita akan dibuat limbung dengan bahan pemikiran yang Mukherjee suguhkan tentang, jika nyaris seluruh aspek dalam diri kita memiliki hubungan erat dengan gen-gen yang kita miliki di dalam tubuh kita, dan teknologi penyuntingan genom seperti sistem CRISPR-Cas9 yang digagas Emmanuelle Charpentier dan Jennifer Doudna dapat digunakan untuk mengubah gen-gen tersebut dengan aman, akankah kita bersedia melewati batas-batas yang sudah kita tetapkan sendiri demi mengubah nasib dan masa depan?

Antiklimaks dari pertanyaan filosofis itu disediakan oleh Mukherjee di bagian epilog buku ini dalam bentuk kutipan sebuah komposisi musik anonim yang terinspirasi dari puisi Sanskerta:

Sura-na Bheda Pramaana Sunaavo;

Bheda, Abheda, Pratham kara Jaano.

Show me that you can divide the note of a song;

But first, show me that you can discern

Between what can be devided

And what cannot.

Terlepas kita sudah mengetahui bahwa gen adalah molekul kimiawi yang dapat dimanipulasi, informasi biologis yang disimpan di dalamnya sejauh ini barulah kita ketahui makna harfiahnya. Kita bukanlah penutur alami bahasa molekuler yang digunakan untuk menulis resep membuat diri kita itu, sel-lah penutur alaminya. Setelah mempelajarinya cukup lama, kita boleh saja sudah memahami seluruh makna kata dalam bahasa seluler ini, tapi ketika kata-kata itu terangkai dalam suatu kalimat molekuler, kita masih amat meraba-raba bila menyangkut hal-hal implisit yang terkandung di dalam kalimat tersebut selain belum sepenuhnya memahami makna kontekstual suatu kata dalam kalimat genetik. Mencoba menulis ulang informasi genetik tanpa pemahaman mendalam mengenai gen ibarat seorang editor amatir yang hendak menyunting naskah penulis international bestseller.

Untuk sampai di tahap kita dapat mengubah nasib dan masa depan kemanusiaan dengan menyunting genom menggunakan teknologi paling mutakhir, kita harus terlebih dulu dapat memahami mana bagian dari gen kita yang bisa dan tidak bisa disunting. (But first, show me that you can discern between what can be divided and what cannot.)

Baca tulisan lainnya: The Devil All The Time: Ketika Setan Mengaku jadi Tuhan

What do you think?

Ditulis oleh Sherlo Adha Maulana

Gerombolan sel yang beraneka ragam namun sepakat harus sintas dan lestari.

Komentar

Tinggalkan komentar

One Ping

  1. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

The Devil All The Time: Ketika Setan Mengaku Jadi Tuhan

Kanker

The Emperor of All Maladies: A “Must Read” Biography of Cancer