in

The Emperor of All Maladies: A “Must Read” Biography of Cancer

Kanker

Perang yang Belum Selesai

Perang kedokteran kanker melawan hiperplasia patologis yang menggerogoti kemanusiaan sendiri merupakan salah satu perang terpanjang dalam sejarah militer dunia kesehatan—berusia sekitar empat ribu tahun, dan belum dimenangkan. Dan seperti perang-perang besar sepanjang sejarah, perang ini pun terdiri dari tidak hanya pertempuran-pertempuran kecil yang dimenangkan, tetapi juga kekalahan-kekalahan.

Sebagaimana yang dinyatakan Sun Tzu, seorang ahli militer Tiongkok, dalam bukunya the Art of War, “if you know your enemies and know yourself, you will not be imperiled in a hundred battles”, hadirnya pengetahuan mengenai bagaimana sel kanker bangkit di dalam tubuh manusia, yang diungkap oleh Harold Varmus dan Michael Bishop pada 1976, tentu saja merupakan semilir angin surga bagi dunia onkologi. Pengetahuan yang berhasil diperoleh Varmus dan Bishop tentang kanker itu barang tentu membuat onkologi kini lebih mengenal musuh tangguhnya selama ini sehingga peluang kemanusiaan “will not be imperiled in a hundred battles” melawan penyakit yang oleh seorang ahli bedah abad ke-19 dijuluki “the emperor of all maladies, king of terors” pun meningkat.

Kemenangan-kemanangan kecil onkologi di awal abad ke-21 dalam pertempuran melawan kanker, yang di antaranya mewujud dalam persenjataan kimiawi seperti Herceptin (untuk kanker payudara agresif yang mengandung mutasi gen Her-2 teramplifikasi) dan Gleevec (untuk leukemia mieloid kronik yang mengandung mutasi gen Bcr-abl), tentunya merupakan produk akumulasi kebijaksanaan yang dipetik dari banyak kemenangan dan kekalahan masa lampau dalam perang melawan kanker. Dan untuk menyusun strategi yang semakin baik dalam upaya menaklukan neoplasia-nya Rudolf Virchow, tentu saja kemanusiaan membutuhkan tidak hanya evaluasi, tapi juga introspeksi yang komprehensif terhadap apa saja yang telah terjadi selama rentang waktu perang suci melawan kanker berlangsung, yang darinya taktik paling jitu untuk memenangkan perang dapat disusun.

 

Mobilisasi Umum Melalui Buku

Sel ganas yang mampu bertahan hidup di wadah penyimpnan sampel kanker para onkolog selama kurun waktu dasawarsa, melebihi inangnya yang telah dikubur dalam peti mati, membuktikan bahwa kanker jelas bukanlah musuh yang remeh temeh. Karenanya, untuk menghadapi musuh tipe ini, tepat rasanya bila kampanye perang semesta melawan kanker mulai digaungkan: semua sumber daya, mulai dari pejuang garda terdepan (para dokter, ilmuwan, dan peneliti kanker) sampai warga sipil (orang awam) harus dikerahkan dalam perang suci melawan sesuatu yang dijuluki “a lethal shape-shifting entity” ini.

Untuk memperoleh sebuah mobilisasi militer yang sukses, tentu saja dibutuhkan paling tidak seorang tokoh kharismatik yang memiliki kemampuan menjamah kesadaran masyarakat dari segala kalangan untuk mau dilibatkan dalam agresi melawan musuh. Di masa lampau, dunia punya Sidney Farber, Bapak Kemoterapi Modern, dan Mary Lasker, sosialita Manhattan berenergi sosial dan politik penuh yang bergabung dengan Farber, untuk memobilisasi Amerika melawan penyakit yang arogansinya sebagai yang tak tertaklukan begitu beralasan. Kini, di awal abad ke-21, seorang asisten profesor di Columbia University dan dokter spesialis sekaligus peneliti kanker, Siddhartha Mukherjee, mencoba menghidupkan kembali semangat perang melawan kanker yang sudah dimulai sejak awal abad ke-20 itu melalui bukunya, The Emperor of All Maladies, A Biography of Cancer, yang memenuhi syarat sebagai alat mobilisasi umum. Pertama, buku itu dapat memenuhi kebutuhan mengomunikasikan mengenai penyakit seperti apa kanker itu sebenarnya kepada masyarakat awam dan di bagian mana mereka dapat membantu dalam perang melawannya; dan kedua, buku itu dapat berperan sebagai sarana berbagi informasi mengenai perkembangan pemahaman dan terapi kanker kepada sesama pejuang garda terdepan dalam perang melawan kanker tanpa mengabaikan kesederhanaan yang dibutuhkan orang awam yang ingin menyimak.

Sebagaimana yang saya jumpai saat membaca buku Mukherjee lainnya, The Gene: An Intimate History, kepiawaian Mukherjee dalam menulis buku adalah dalam hal menyusun sistematikanya yang kronologis sehingga pengalaman membaca tulisannya benar-benar seperti hanyut dalam aliran sungai berair segar dan jernih—meski bukan berarti tanpa gangguan-gangguan kecil batu-batu sungai berupa jargon dunia sains. Inilah mungkin alasan mengapa juri yang menganugerahkan Hadiah Pulitzer untuk kategori general non-fiction pada buku Mukherjee ini berkomentar bahwa buku tersebut, “an elegant inquiry, at once clinical and personal.” Untuk membuktikan bahwa komentar juri yang saya setujui itu benar, mari saya perlihatkan isi bukunya.

Baca juga: The Gene: An Intimate Review 

 

Kanker: Sang Musuh

Sebagai salam pembuka, di bagian prolog buku ini kita akan langsung diperkenalkan Mukherjee pada gejala-gejala leukemia limfoblastik akut yang dialami Carla, salah satu pasiennya, sebelum guru taman kanak-kanak itu menyadari apa yang telah menimpanya, hal yang menurut saya menyatakan dengan jelas betapa Mukherjee ingin memperlihatkan musuh macam apa kanker itu sebenarnya kepada pembaca sejak awal pembahasan. Baru di bagian pertama buku inilah, yang berjudul Of Blacke Cholor, Without Boyling, Mukherjee mengajak kita mengenal kanker secara historis, yaitu dengan memperlihatkan pada kita papirus cacatan seorang dokter Mesir yang hidup pada masa sekitar 2.625 SM yang disinyalir merupakan akta kelahiran pertama kanker, kemudian menjelaskan bagaimana penyakit yang dideskripsikan pada papirus dokter Mesir itu diberi nama-nama bergaya seperti karkinos dan onkos oleh dokter-dokter Yunani di sekitar tahun 400 SM, lalu menceritakan bagaimana perilaku kanker dipelajari dengan tekun oleh peneliti Jerman bernama Rudolf Virchow pada abad ke-19 dan diketahui dapat diserang secara kimiawi oleh Sidney Farber di awal abad ke-20.

Sebagaimana jenderal terbaik pun kadang salah langkah dalam percaturan perang karena tipu muslihat yang dilakukan musuh, dunia kedokteran kanker pun, begitu melihat bahwa tampaknya musuh mereka dapat dikalahkan sejak Sidney Farber menemukan bahwa sejenis antivitamin B mampu membunuh sel darah putih ganas, onkologi lekas menyambut tipuan itu dengan serangan gencar yang dikisahkan Mukherjee dalam bagian dua, An Impatience War. Di sana dikisahkan bahwa dengan membabi buta onkologi mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk menyerang kanker menggunakan banyak variasi molekul kimia yang bersifat sitotoksik (membunuh sel) ala kemoterapi Sidney Farber, kemoterapi yang diikuti tansplantasi sumsum tulang ala Donnall Thomas, pembedahan radikal ala William Stewart Halsted dan lumpektomi ala Geoffrey Keynes, serta penyinaran terarah sinar X ala Emil Grubbe, hanya untuk mendapati bahwa persenjataan itu berguna untuk mengalahkan versi terlemah kanker saja dan tidak akan berefek untuk melawan versinya yang sudah bermetastasis (menyebar) sebagaimana diceritakan dalam bagian ketiga, Will You Turn Me Out If I Can’t Get Better? Salah satu terapi kanker, senjata radiasi sinar X, bahkan pada akhirnya diketahui menjadi salah satu pemicu kanker itu sendiri.

 

Taktik Bertahan

Menyadari kalau kanker adalah musuh yang tidak hanya kejam namun juga cerdik, para onkolog pun berganti siasat dari penyerang agresif menjadi bersikap defensif melalui pelaksanaan riset yang ditujukan untuk mengetahui berbagai karsinogen (zat pemicu kanker) di alam dan metode deteksi dini keberadaan kanker guna membangun benteng pertahanan dari serangan kanker. Di bagian empat-lah, yang berjudul Prevention is the Cure, Mukherjee mengajak kita berkenalan dengan ilmuwan-ilmuwan yang berhasil menemukan karsinogen-karsinogen yang sejatinya dapat dihindari agar tidak menambah angka korban di pihak kemanusiaan (taktik pencegahan primer), dan memperkenalkan metode-metode deteksi dini keberadaan kanker yang dapat digunakan untuk memperbesar peluang kesembuhan pasien karena kanker yang sudah terdeteksi di saat masih dalam versi terlemahnya berpeluang besar dapat dikalahkan (taktik pencegahan sekunder).

Diawali dengan mengikuti kisah Percivall Pott yang menemukan kaitan jelaga dengan kanker skrotum yang diderita para pembersih cerobong asap, kemudian Austin Bradford Hill dan Richard Doll serta Ernst Wynder dan Evarts Graham yang mengonfirmasi kaitan antara merokok dan kanker paru, Baruch Blumberg yang mendapati bahwa virus hepatitis B juga dapat menyebabkan kanker hepatoseluler, dan Barry Marshall dan Robin Warren yang membuktikan bahwa bakteri Helicobacter pylori dapat menyebabkan kanker lambung, di akhir bagian empat, Mukherjee akan mengajak kita mengenal metode-metode deteksi dini kanker untuk mengantisipasi musuh yang menyusup seperti pencuri di malam hari: Pap smear yang dicanangkan oleh George Papanicolaou untuk deteksi dini kanker rahim dan mamografi yang diinisiasi Robert Egan untuk deteksi dini kanker payudara.

 

Buah Perjuangan yang Belum Akan Ranum

Terlepas dari metode deteksi dini dapat meningkatkan kesembuhan pasien kanker dengan meningkatkan kesempatan dijumpainya kanker saat masih dalam versi terlemahnya sehngga mudah diserang, beragamnya jenis hal yang dapat menyebabkan kanker sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya itu mau tidak mau mendorong para onkolog bertanya-tanya mengenai apa sebenarnya yang dilakukan hal-hal berbeda itu sehingga dapat menyebabkan suatu sel tubuh manusia mennjadi pengkhianat radikal yang brutal? Jawabannya ternyata, sebagaimana yang akan dijelaskan Mukherjee di bagian lima, adalah bahwa kesemua karsinogen ittu menimbulkan efek yang sama terhadap sel tubuh, yaitu menciptakan kekacauan pada gen-gen yang terlibat dalam kontrol normal pembelahan sel—menyebabkan sel tubuh normal berubah menjadi pembangkang yang terobsesi melaksanakan pembelahan.

Kecerdikan dan kegigihan sel kanker dalam bertahan hidup di dalam tubuh manusia, dengan demikian, sebenarnya mewakili sifat asalnya yang merefleksikan kemanusiaan itu sendiri, sehingga perang melawan kanker ini sejatinya adalah perang melawan diri sendiri. “A distorted version of our normal selves” begitulah Harold Varmus mendeskripsikan penyakit yang ditelitinya itu, yang juga adalah judul dari bagian lima.

Herceptin dan Gleevec yang semujarab “peluru ajaib” Paul Ehrlich dalam hal menyasar produk gen-gen mutan penyebab kanker adalah 2 obat yang diulas perjuangan menghadirkannya ke dunia oleh Mukherjee di bagian enam yang diberi judul “The Fruits of Long Endeavors”: keduanya adalah obat yang mampu memberi remisi (penurunan gejala) yang signifikan pada pasien stadium lanjut masing-masing di kanker payudara positif Her-2 dan leukemia mieloid kronik. Namun demikian, mengingat perang ini sesungguhnya adalah antara kemanusiaan dan versi melencengnya yang sama cerdik, biografi berisi sejarah personal kanker yang ditulis Mukherjee untuk tujuan memperkenalkan salah satu musuh bersama kemanusiaan itu tidak akan banyak berguna bila tidak mulai dimanfaatkan sebagai kompas dari tindakan harian. Tidak ada pisau bedah, sinar beradiasi tinggi, dan kemoterapi apa pun yang bisa menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri. Oleh karenanya, untuk memenangkan perang ini, sudah seharusnya kita melawan kanker dengan, sebagaimana yang disarankan Mukherjee, “obsesif, cerdik, nekat, gila, cerdas, dan penuh semangat”, terutama dalam hal pelaksanaan taktik pencegahan primer (menghindari karsinogen, rokok misalnya) yang benar-benar dapat memisahkan kemanusiaan dari kanker di kedua sisi yang berbeda.

Ringkas kata, sejauh ini kelihatannya kemenangan melawan kanker amatlah bergantung pada solidaritas kemanusiaan melawan versi melenceng dirinya sendiri, sehingga boleh dibilang bahwa satu bagian saja dari kemanusiaan berkhianat seperti kanker, maka penyakit ganas itu akan tetap menjadi bagian dari dunia, yang tentu tidak hanya mengancam para pengkhianat kemanusiaan itu sendiri menjadi korbannya, tetapi juga orang-orang yang mereka sayangi. Dan selama insolidaritas kemanusiaan semacam itu terjadi, tidak akan ada buah perjuangan panjang ranum untuk dinikmati.

What do you think?

Ditulis oleh Sherlo Adha Maulana

Gerombolan sel yang beraneka ragam namun sepakat harus sintas dan lestari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
gen siddharta mukhrejee

The Gene: An Intimate Review

Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 untuk Siapa?