in

Teruntuk Kamu

Kamu melintas di pikiran saya, lagi-lagi, ketika semua kepala beristirahat. Saya mati-matian berpikir akan hal yang entah kebenarannya.

Apakah bisa kita bekerja sama untuk saling menurunkan ego?
Saling mengoreksi dan memperbaiki untuk menghilangkan keraguan di antara kita bukan hal sulit bukan?

Bagi saya, menahan dan bertahan itu layaknya makanan dalam sebuah hubungan. Ia mampu terlaksana asalkan ada keterbukaan, saling memahami dan saling mengisi.

Jujur saya lelah menahan rindu, saya pikir terlalu lama memupuk rindu memang menyebabkan banyak keraguan dan tanda tanya besar yang keluar dari isi kepala. Tetapi tak apa, itu lumrah karena bagaimana bisa saya mengerti sesuatu tanpa melewati sebuah konflik?

Saya rasa kamu tak perlu khawatir. Tenangkan saja. Cukup saya yang banyak berpikir tentangmu. Seluruh perasaan saya sepertinya tidak pernah berubah. Tolong, jangan kau sampai hati untuk mengacuhkan. Ini bukan tentang mengemis perhatian dan ingin bermanja. Saya hanya takut, saya teramat takut kelak saya akan terbiasa tanpa kamu.

Saya tidak ingin kita menjadi sepasang yang dingin, tak saling sapa, bagaimana bisa nanti bersua?

Saya masih ingin bersama kamu hingga nanti di suatu pagi, salah satu dari kita pergi meninggalkan semua ini. Mungkin ini harapan yang terlalu besar, tapi inilah adanya.

Saya harap kamu bisa mengerti apa yang saya rasa saat ini. Sungguh tidak adil rasanya merayakan kesedihan sendirian. Saya selalu ingin kamu, ada.

Seseorang pernah berkata, “Ketika kuku jari menjadi panjang, yang dipangkas kukunya bukan jarinya”.

Jadi, bisakah kita tetap bersama memperbaiki dan percaya? Seperti awal kamu meminta saya untuk mendampingimu?

Baca juga Hilang dan Ikhlaskan

What do you think?

Ditulis oleh Alda Cahya P

Suka nulis, sambil main gitar kebanyakan nyanyinya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 untuk Siapa?

Perempuan Kedua dalam Epos Mahabharata