in

Perempuan Kedua dalam Epos Mahabharata

Kebanyakan dari kita membaca Mahabharata mungkin hanya sepintas lalu atau sepotong-sepenggal cerita dari sumber yang terpisah-pisah; buku sejarah, dongeng masa kecil, dialog dalam pewayangan, dan mungkin juga dari serial televisi India—yang kalau saya tak salah ingat pernah begitu booming beberapa tahun lalu di Indonesia.

Sebagaimana sebuah epos yang juga merupakan bagian dari kitab suci dalam agama Hindu, kisah-kisah dalam Mahabhrata sarat akan pesan mendalam mengenai kehidupan. Tentang bagaimana dharma mengalahkan adharma. Tentang keberanian, kepatuhan, sekaligus ketakutan, dan pada saat yang bersamaan kita juga melihat tentang kecurangan, ketamakan, dan kelicikan. Namun, jika kita membaca lebih jauh, kita akan menjumpai serangkaian karakter, situasi, serta motivasi yang merupakan cerminan terdalam kita sebagai manusia dan kemudian mendorong pikiran-pikiran kita untuk bertindak—atau setidaknya mengakui bahwa yang mereka lakukan juga kita lakukan hari ini—sebagai manusia.

Karakter-karakter di dalamnya pun begitu hidup, sehingga mampu membentuk suatu bangunan politik yang utuh—mulai dari urusan perebutan kekuasaan hingga urusan domestik. Misalnya saja, ketika Raja Drestarasta diminta untuk memberikan posisi putera mahkota kepada Yudhistira, kemenakannya, ia harus menghadapi protes Duryudana, putra kesayangannya, yang akhirnya menimbulkan konflik antar saudara yang berakhir dengan tragedi Bharatayuda—sebuah peperangan yang terjadi di padang Kuruserta, yang dilakukan oleh sesama keturunan Bharata.

Semesta Cerita dalam Mahabharata

Bak bintang bertaburan di angkasa, epos Mahabharata penuh dengan nama-nama kesatria, yang bahkan tak bisa saya hitung berapa jumlahnya—mulai dari Jaya ke Bharata, lalu ke Mahabharata melalui keturunan Puru yang menjadi leluhur para Pandawa dan Kurawa, hingga Parikesit dan putranya Janamejaya yang menjadi penerus tahta Hastinapura, yang berdasarkan catatan-catatan terkumpul, terjadi selama ribuan tahun. Uniknya, tak ada sosok ideal dalam Mahabharata—sebagaimana Rama dalam Ramayana, entah itu ayah, anak lelaki, ibu, maupun istri. Dengan tak tahu malu, mereka semua mengejar kepentingan diri sendiri, keinginan untuk berkuasa, kekayaan, kepuasan nafsu. Bahkan Kresna, yang sosoknya digambarkan begitu sempurna sebagai wujud nyata Batara Wisnu di dunia, tetap melakukan kecurangan demi kecurangan hingga membuat Gandari memberikan kutukan bahwa ia dan seluruh keturunan Yadawa akan hancur.

Sekilas, Mahabhrata menampilkan cerita yang dibangun berdasarkan sudut pandang patriakal. Para tokoh lelaki tampak menjadi kunci, menjadi pusat cerita, entah yang terlahir dari kasta kesatria maupun kasta brahmana. Sementara posisi perempuan bergantung pada lelaki dalam hidupnya, entah suami atau putra, yang akan memberikan para perempuan ini kekuasaan. Namun, semakin saya menyelami semesta cerita dalam Mahabharata, saya menemukan bahwa yang terjadi justru sebaliknya.

Para tokoh lelaki lebih sering menunjukan sikap ragu dan justru tergagap-gagap dalam momen-momen penting, sementara para perempuan mampu menunjukan sikap berani meski harus mengerahkan tubuh dan akalnya untuk bertahan. Entah sudah berapa kali Drupadi mengambil alih peran yang seharusnya dilakukan oleh kelima suaminya. Entah sudah berapa kali Kunti harus menyelamatkan para putranya, yang bahkan tak bisa dilakukan oleh para tetua di Hastinapura. Lihatlah bagaimana keinginan Satyawati mampu membuat Bhisma melakukan sumpah untuk hidup selibat, sehingga menutup jalan bagi keturunan Santanu untuk berkuasa. Lihat juga bagaimana dendam Amba menemukan jalannya dengan berhasil membunuh Bisma melalui Srikandi.

Perempuan-Perempuan Mahabharata

Memang, para perempuan yang memiliki keistimewaan ini biasanya memiliki status tinggi (menjadi istri atau ibu dari para penguasa) dan tinggal di pusat kekuasaan. Meski tak memiliki kekuatan (berupa senjata dan pasukan), mereka berada di tempat di mana segala informasi berkelindan. Namun, tanpa kecerdasan, kecerdikan, dan keberanian (termasuk berani menabrak batasan-batasan norma yang diberlakukan sistem sosial kepada mereka) mustahil hal-hal menakjubkan tersebut terjadi.

Hal inilah yang dilakukan oleh Drupadi, juga Kunti dan Gandari. Ketiga perempuan ini adalah perempuan pertama dalam semesta cerita Mahabharata, karena porsi ceritanya yang besar, pun dengan keterlibatannya di hampir semua bagian. Masing-masing memiliki peran yang sangat penting; sebagai anak, istri, dan juga ibu. Tindakan-tindakan mereka melampaui apa yang sanggup dilakukan oleh tokoh perempuan lainnya. Drupadi misalnya, ia berani memprotes semua lelaki yang hanya diam ketika melihat pakainnya dilucuti oleh Dursasana, saat ia menjadi taruhan dalam pertaruhan lempar dadu antara Yudisthira dan Sengkuni. Drupadi juga perempuan yang menjaga api dendam tetap membara di hati Pandawa, selama tiga belas tahun, dengan bersumpah akan terus membiarkan rambutnya terurai sampai ia bisa mengeramasi rambut tersebut dengan darah Dursasana. Jika Drupadi melakukan protes dengan suara lantang, lain halnya dengan yang dilakukan oleh Gandari, ibu para Kurawa.

Gandari : Bagian dari Perempuan Pertama

Dikisahkan, Gandari tidak terlahir dengan keadaan buta. Ia memang sengaja membebat kedua matanya dengan kain sebagai bentuk protes karena dinikahkan dengan seseorang yang buta, tak peduli apakah yang dinikahinya seorang raja atau kurir. Dalam pewayangan Jawa, Gandari digambarkan sebagai sosok penuh dengan kepatuhan, ia rela menutup matanya agar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya, tapi benarkah begitu? Sementara pada epos India, dalam dialog-dialog yang dilakukan oleh Gandari bersama Sengkuni, terbaca jelas bahwa keputusannya menutup mata sebagai bentuk protes dari pernikahan politik yang diatur oleh Hastinapura. Ketika lamaran pernikahan datang atas nama Bisma kepada kepada Raja Subala, ayah Gandari, ia tahu tidak mungkin untuk menolak.

Hastinapura merupakan kerajaan dengan kekuasaan politik yang jauh lebih besar. Menolak lamaran berarti sama dengan mengibarkan bendera perang. Pilihan ini juga bersifat sangat politis. Ia paham bahwa akan ada konflik terkait dengan suksesi nantinya, karena bagaimanapun, anak-anak Pandu-lah yang memiliki hak atas tahta. Meski Drestarasta terlahir sebagai sulung, ia dikecualikan dalam suksesi karena kebutaannya, dan ini membuat anak-anak yang Gandari lahirkan tak memiliki hak atas tahta.

Menutup mata bagi Gandari adalah menentukan sikap bahwa ia tidak ingin terlibat pada urusan kenegaraan, yang mungkin, diharapkan Drestarasta pada dirinya. Gandari membuat keputusan yang bersifat politis untuk bertindak apolitis. Sikap ini kemudian menjadi penyebab Sengkuni mengambil alih peran sebagai “pembisik” dalam semesta cerita Mahabharata. Sengkuni, yang selalu digambarkan sebagai tokoh antagonis utama dalam semua tragedi yang terjadi, ternyata digerakan oleh perasaan kasih sayang kepada adiknya.

Subadra: Perempuan Kedua

Melalui Drupadi dan Gandari, kita bisa melihat bagaimana tokoh-tokoh perempuan ini memainkan perannya, dengan dua cara yang berbeda tetapi memiliki dampak yang sama besar dalam menggerakan cerita. Namun, Mahabharata juga tidak hanya tentang perempuan-perempuan utama, ada banyak perempuan yang sebetulnya melakukan hal besar. Salah satunya adalah Subadra, adik dari Kresna dan Basudewa, sekaligus istri dari Arjuna.

Jika Drupadi dianggap sebagai sebuah enigma, makan Subadra adalah nomina. Sikap Subadra yang bijaksana, cerdas, dan lemah lembut adalah gambaran ideal seorang perempuan dalam masyarakat yang lekat akan budaya patriarki. Itulah kenapa dalam pewayangan Jawa, Subadra lebih diidolakan dibanding dengan Drupadi karena sikapnya yang mencerminkan priyayi atau putri-putri keraton. Padahal dalam epos India, terutama versi yang ditulis oleh R. Rajagopalachari, karakter Subadra penuh dengan kejutan; ia tidak hanya lemah lembut, tetapi memiliki keberanian untuk melawan dengan caranya yang unik.

Hal ini dikisahkan pada bagian dimana ia menikah dengan Arjuna.

Dalam wiracarita Mahabharata, pernikahan para putri raja merupakan pernikahan politik yang melibatkan pertarungan para kesatria, dan mereka akan menikahi siapun pemenangnya. Tidak seperti Drupadi yang tak punya pilihan ketika dimenangkan Arjuna dan terpaksa harus menikahi kelima pandawa, Subadra tak pernah membiarkan dirinya menjadi pertaruhan kesatria manapun, ia memilih sendiri Arjuna sebagai suami. Bahkan karena pertentangan antara Arjuna dengan Basudewa, ia dengan berani melarikan Arjuna untuk menghindari peperangan. Hal ini bukan sesuatu yang lazim pada masyarakat patriarki, terutama bagian ketika Subadra mengendarai sendiri kereta kudanya. Arjuna tak bisa dihukum dengan alasan menculik Subadra.

Meski tidak lazim, mengendarai sendiri kereta kuda dianggap sebagai keinginan sendiri dan bukan sebuah kejahatan. Ini sikap penting yang ditunjukan Subadra. Ia tak perlu menunjukan amarah seperti yang dilakukan Amba, atau protes lantang seperti yang dilakukan oleh Drupadi, bahkan tidak perlu menggunakan nilai-nilai suci hanya untuk membenarkan tindakan amoral seperti yang dilakukan Kunti dan Setyawati dalam menjaga kekuasaan (melalui para putranya). Sikap Subadra tidak berubah, konsisten, dan tidak saling berlawanan (suatu sikap yang bahkan tidak mampu ditunjukan oleh Drupadi dan Kunti). Maka sekali lagi, bagi saya ia adalah nomina.

Tulisan ini sebetulnya lahir dari rasa jengkel saya ketika selesai membaca buku Perempuan-Perempuan Mahabharata karya Kavita A. Sharma—buku yang saya baca bertahun lalu. Sharma menyebut banyak nama di sana, mulai dari Setyawati, Amba, Gandhari, Kunti, dan tentu saja Drupadi. Namun, tak ada nama Subadra. Tidak bahkan satu sub bab pun. Seakan-akan peran penting Subadra dalam epos yang sangat panjang itu hanyalah karena ia melahirkan Abimanyu, yang melalui putranya Parikesit, melanjutkan suksesi tahta Hastinapura tetap pada keturunan Pandawa. Padahal, seperti yang sudah saya ceritakan, Subadra adalah tokoh penting yang menunjukkan pada kita bahwa perempuan tidak harus selalu bertindak dengan melabrak nilai-nilai. Sayangnya, hal ini juga tidak ditunjukan dalam pewayangan Jawa yang sangat berpengaruh terhadap falsafah dan kebudayan masyarakat kita.

Subadra dan Drupadi dalam Pewayangan Jawa

Terdapat perbedaan antara epos India dan pewayangan Jawa—meski mengusung cerita yang sama—utamanya mengenai karakter para tokoh perempuan yang dikembangkan dalam cerita. Drupadi misalnya, bukanlah istri dari kelima Pandawa, melainkan istri dari Yudisthira seorang, meski Arjuna-lah yang memenangkannya dalam pertarungan. Hal ini turut mengubah watak Kunti sebagai pihak yang paling memiliki pengaruh atas keberadaan Drupadi dan Subadra dalam kehidupan putra-putranya. Perubahan ini nampaknya berkaitan erat dengan konstruksi yang ingin dibangun pada masyarakat Jawa soal bagaimana perempuan harus menempatkan dirinya, dalam sistem sosial yang berlaku, yang harus saya katakan, masih berlaku hingga hari ini.

“Drupadi adalah simbol perlawanan, sementara Subadra adalah simbol kepatuhan.”

Kalau kamu perempuan, hidup dalam masyarakat yang menganut budaya patriarki, maka kamu harus memilih mengambil peran sebagai siapa. Kamu tak diizinkan mengambil peran keduanya. Kecuali kamu mampu menciptakan sistem sosialmu sendiri.

 

Baca juga : Sebuah Alegori Tentang Perempuan

What do you think?

Ditulis oleh Agisthia Lestari

Pembaca yang rakus. Bercita-cita memiliki perpustakaan pribadi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Teruntuk Kamu

Dakwah Sepasang Anak Kucing: Sebuah Kontemplasi