in

Dakwah Sepasang Anak Kucing: Sebuah Kontemplasi

Tak dilalap api saat dibakar hidup-hidup, selamat dari kejaran raja lalim dan pasukannya dengan berlari bersama pengikut melewati laut yang terbelah dan dapat bergerak secepat angin: semua jenis keajaiban serupa yang diceritakan orang tua di masa kecil itu harus diakui memanglah sumber utama ketakjuban yang menjadi bahan bakar bagi proses tumbuh-kembang religiositas dalam diri seorang anak manusia. Namun, seiring menajamnya kemampuan seorang anak manusia mempersepsi realitas duniawi, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian kehilangan kemampuan bertahan hidup di dalam realitas fiksional yang penuh peristiwa metaforik yang dirancang untuk memantik kecondongan nurani polos anak-anak mereka ke arah kebaikan yang disepakati.

Bagi orang-orang seperti itu (termasuk saya di dalamnya), kerinduan pada masa ketika kita dapat dengan penuh semangat berkisah pada rekan sebaya bahwa seorang nabi dapat menjinakkan badai atau membelah purnama akan sangat tak tertahankan. Benar-benar bak katak serasah di antara dedaunan hutan membusuk yang merindukan periode hidupnya sewaktu masih berupa berudu yang tinggal di dalam air yang segar.

Syukurnya, terkadang tidak perlu genangan air luas atau sungai mengalir untuk mengingatkan katak-katak serasah ini tentang kesegaran kolam religiositas tempat mereka dulu pernah tumbuh dan berkembang. Di tengah hutan yang sedang dilanda musim panas sekalipun, kadang kala, Awan mengirimkan tetes-tetes hujan yang rinai lembutnya melantunkan nada-nada pembangkit nostalgia masa lampau yang dirindukan. Tetes-tetes hujan pereda dahaga kerinduan itu sendiri, bagi saya pribadi, datang ke dalam hidup saya dalam bentuk sepasang anak kuncing: Merah dan Putih.

Tampak luar, kedua anak kucing kecil yang tutup usia di usia mereka yang ke-7 bulan itu akan terlihat seperti tidak melakukan apapun selain menjadi diri mereka sendiri. Namun, seperti jernihnya penglihatan setelah air mata diusap dari wajah, kesedihan yang dirawat dengan mengingat-ingat momen bersama dua anak kucing kesayangan sejak hari keduanya menjadi bagian dari keluarga, hingga kepergian mereka yang tidak dapat dicegah memperlihatkan sesuatu yang hanya dapat dilihat dari mata nurani yang menjadi lebih bening setelah disapu kesedihan. Mereka, yang dinamai Merah dan Putih, dengan menjadi diri mereka yang sejati sebagai anak kucing di tengah-tengah keluarga manusia mereka, telah menghadirkan kilas pemahaman pada saya tentang bagaimana ontogeni hubungan emosional manusia terjadi dengan hal yang, seperti kucing, bersifat nonmanusia: Tuhan.

In the Beginning

Sebagai awalan, saya akan membukanya dengan pernyataan gamblang bahwa kita pasti menyadari tidak semua orang di dunia ini terlahir ke dunia dengan keistimewaan seorang Musa. Satu-satunya momen teofani yang mungkin pernah dirasakan sebagian besar dari kita pastilah tidak pernah lebih dari sekadar imaji yang dibangun dari apa yang dituturkan orang tua tentang nama-Nya, sifat-sifat-Nya, ataupun perbuatan-Nya. Epifani diri Tuhan dalam kesadaran kita yang masih belia dulu tidak pernah lebih dari sekadar hal asing yang diperkenalkan, sebagaimana halnya Merah dan Putih dulu datang ke dalam keluarga saya pada awal tahun 2020: keduanya hanyalah kehadiran yang diperkenalkan kepada saya sebagai bagian baru dari keluarga.

Masih begitu tergambar jelas di dalam benak saya, dulu Merah dan Putih hadir dalam wujud dua bayi kucing mungil dengan mata rapat terpejam di dekapan Molly, induk betina mereka. Keringkihan belia mereka entah bagaimana membangunkan insting bersikap protektif dan penyayang saya terhadap mereka, yang kalau dipikir-pikir lagi, agak serupa dengan kejadian saat pertama kali orang tua saya memperkenalkan Tuhan pada saya dengan cara melarang saya melakukan sesuatu karena itu bisa memancing kemarahan-Nya. Rasa penasaran tentang mengapa saya perlu takut pada amarah Tuhan dan siapa sebenarnya Dia, sehingga saya perlu takut pada kemarahan-Nya, secara naluriah bangkit.

Baik Tuhan maupun Merah dan Putih, berdasarkan pengalaman saya, pada mulanya hanyalah entitas asing yang diperkenalkan pada saya. Namun, entah bagaimana memantik sesuatu yang bersifat naluriah dalam diri yang kemudian saya terima kehadirannya begitu saja tanpa syarat. Dalam kasus ini, Merah dan Putih adalah putra dan putri Molly—yang selama ini menjadi kucing kesayangan yang diperlakukan seperti putri bungsu dalam keluarga—sehingga mengabaikan Merah dan Putih dikhawatirkan akan membuatnya sedih. Sementara, Tuhan, karena Ia menjadi sosok yang saya dapati begitu dihormati orang tua yang selama ini begitu dapat saya percaya.

“The Freak Became the Norm”

Ada sebuah aforisme yang menurut saya, selain bisa digunakan untuk meringkas gagasan proses evolusi Darwinian yang ditulis oleh Siddharta Mukherjee dalam bukunya The Gene: An Intimate History, juga ternyata dapat digunakan untuk merangkum secara akurat proses lanjutan dari ontogeni hubungan emosional manusia dengan hal-hal non-manusia, yaitu “the freak became the norm”.

Penerimaan kehadiran Merah dan Putih sebagai bagian baru dalam keluarga yang dilakukan oleh saya dan seluruh anggota keluarga, saya menyadari, adalah domino pertama yang jatuh dalam rangkaian reaksi berantai melebur keberadaan keduanya ke dalam entitas tunggal keluarga saya yang kini hendak menjadikan mereka sebagai bagiannya. Melebur mereka menjadi satu dalam bagian yang semula sudah memiliki tatanannya sendiri itu mengharuskan kami semua mengenal dengan baik Merah dan Putih agar bisa meletakkan mereka di tempat yang cocok dalam keluarga: entah itu sekadar sebagai anak-anak dari kucing kesayangan, penghiburan mujarab dari rasa lelah, atau sumber keceriaan tambahan yang krusial. Merawat, mengamati tingkah polah keduanya selama tumbuh-kembang, bermain dengan atau diusili putra-putri Molly adalah interaksi yang membuat saya pada akhirnya mengenal Merah sebagai anak kucing jantan, hiperaktif, manja yang menyukai dipeluk, tapi tukang mengganggu siapa pun yang sedang makan dan penagih janji diberi susu bear brand yang gigih.

Sementara Putih, sebagai anak kucing betina yang berfisik kuat dan meski cenderung soliter, namun tetap mau datang menemani saya membaca buku atau berkunjung ke kamar saya untuk sekadar mendengarkan saya bicara padanya. Tahu-tahu saja “the freaks became the norms”, mereka menjadi bagian dari keluarga saya yang begitu penting perannya dalam menghadirkan tawa ceria atau kehangatan yang dibutuhkan untuk pulih dari rasa lelah harian kami sebagai manusia.

Hal serupa, menurut ingatan saya pun pernah terjadi sewaktu saya pertama kali mengenal-Nya. Diberitahu oleh kedua orang tua yang begitu saya percaya tentang keberadaan sosok yang—meski saya belum pernah berjumpa dengan-Nya sekalipun—kemarahan-Nya perlu saya khawatirkan secara serius membuat saya menerima Tuhan sebagai sosok yang benar ada. Sebagai konsekuensinya, walau saat itu saya tidak memahami apa yang saya lakukan, saya jadi banyak bertanya tentang Dia, karena ingin mengenal-Nya dengan lebih baik lagi—agar dapat seperti yang dicontohkan orang tua saya, memberi-Nya  tempat yang tepat dalam bagian hidup saya yang kala itu tatanannya sebagian besar hanya terdiri dari bermain dan belajar.

Membaca buku-buku dan mendengarkan jawaban-jawaban atau cerita-cerita dari orangtua, guru, atau siapa pun yang berkenan memuaskan rasa penasaran saya yang lugu, membuat saya mendapat gambaran bahwa Tuhan adalah sosok raja tunggal paling adil yang memerintah dari negeri nun jauh entah di mana. Dan, tahu-tahu saja, the Freak became the Norm. Dia bukan lagi sekadar sosok yang pernah disebut-sebut orang tua saya saat saya melakukan sesuatu yang buruk, melainkan keberadaan yang entah bagaimana saya merasa mengenal-Nya dengan cukup baik—atau setidaknya sebaik imajinasi kekanakan saya yang cenderung antropomorfik: bahwa Dia adalah raja tunggal maha adil yang dikarenakan keluhuran hati-Nya.

Ia bekerja—dibantu pelayan-pelayan setia yang terdiri dari para malaikat tak kasatmata beserta nabi dan rasul—menghadirkan kedamaian bagi seluruh dunia ciptaan-Nya yang rentan dirusak oleh musuh pembisik tak tampak yang kerap menghasut manusia untuk mengacaukan kedamaian yang selama ini ditegakkan melalui hukum-hukum yang dibuat-Nya. Meski Dia sudah menetapkan hari saat Dia akan menjadi hakim bagi seluruh tindakan warga kerajaan-Nya, dalam bayangan benak saya, Dia juga kerap tergambar sebagai sosok murah hati yang sering kali secara personal dan sembunyi-sembunyi menghadiahkan keajaiban kepada mereka yang kooperatif menciptakan kedamaian di dunia bersama-Nya dan mengirim petaka untuk menegur mereka yang menunjukkan gelagat terhasut musuh pembisik. Tuhan yang semula hanya saya kenal melalui nama-Nya saja itu pun berangsur menjadi seperti sosok nyata yang, dengan saya, terasa hanya jauh secara jarak fisik.

an Addictive Source of Joy

Saya yakin, akan ada banyak orang yang sepakat bahwa kedekatan adalah sesuatu yang lebih mudah diindrai keberadaannya dibanding ditentukan kapan tepatnya terbentuk. Demikianlah yang terjadi pada saya saat merasa kedekatan emosional antara saya dengan Merah dan Putih telah terbentuk setelah kami sama-sama melalui tahapan panjang sebagai hal asing yang diperkenalkan dan telah menjadi bagian normal dari kehidupan satu sama lain. Saya tidak bisa menyebutkan waktu persisnya, tapi saya tahu anak-anak kucing lincah yang datang ke keluarga saya melalui Molly itu telah membangun kedekatan dengan saya sampai pada taraf adanya kebiasaan yang bersifat ritual di antara kami: hal pertama yang saya cari sepulang dari kantor pastilah mereka. Mereka biasanya akan secara otomatis berlari ke arah saya, kemudian duduk berbaris menunggu saya turun dari motor untuk mengantre, saya sapa dan usap kepala serta dagunya, yang bila tidak terjadi pada suatu hari akan terasa seperti ada sesuatu yang belum dituntaskan.

Bahkan ketika saya tahu bahwa suara saya dikenali dan didengarkan mereka tiap kali saya panggil mereka, perasaan yang ditimbulkan pengetahuan itu membuat saya lantas berpikir sensasi bahagia dapat dikenali seperti inikah yang dicari hamba-hamba Tuhan yang paling (mencoba) taat? Karena jika ya, saya bisa mengerti mengapa hasrat itu sedemikian tak terbendung. Ada rasa haru, bangga, dan berbahagia yang sulit dijelaskan saat Merah dan Putih, yang karena perbedaan biologis mendasar seharusnya tidak mengerti bahasa dan cara-cara saya mengungkapkan perasaan saya pada mereka, tapi ternyata tetap dapat memaknai perilaku saya terhadap mereka dengan akurat.

Memanggil Merah dan Putih kemudian menggendong mereka saat mereka datang lalu dibalas mereka dengan dengkur—yang adalah cara kucing mengungkapkan rasa sayang—membuat saya merasa, seperti saya amat menyayangi mereka, mereka pun mencintai saya. Dan, jika pahala terasa seperti mendapat dengkur Merah dan Putih, saya tidak heran bila tetap ada seorang kelaparan yang mau berbagi makanannya pada orang kelaparan lain demi cinta Tuhan. Menerima dengkur ungkapan cinta dari Merah dan Putih dan tahu mereka mengenali saya sebagai individu berbeda dari banyak yang serupa di lingkungan mereka membuat saya berpikir mungkin inilah rasanya “candu pahala”. Perasaan yang timbul akibat bayangan telah dikenali dan dikasihi sang Raja yang melihat segalanya tiap kali melakukan sesuatu sesuai yang dititahkan-Nya memang sulit tidak didamba lagi.

Bahkan, dari mencicip perasaan yang ditimbulkan kedua anak kucing yang begitu saya sayangi ketika saya tahu mereka mengenali dan mengingat saya sebagai individu yang bisa dipercayai—dan itu terekspresi melalui perilaku khas spesies mereka pada saya—membuat saya paham mengapa bisa orang-orang berlaku abnormal kala sumber perasaan sakral yang kepadanya hati mereka tertambat tampak terancam. Saya pun, ketika tiba-tiba Putih datang ke kamar saya dan meringkuk tanpa keceriaan yang biasanya (sakit), merespons kejadian itu dengan mau melakukan apa pun agar Putih dapat kembali lincah. Saya tidak bisa membiarkan sumber tawa dan penyingkir lelah saya, yang biasanya menghadiahi saya dengan antusiasme mereka menghampiri saya atau dengkur mereka yang terdengar seperti (dan memang merupakan) ungkapan sayang mereka pada saya, hilang. Membayangkannya saja membuat saya begitu patah hati.

Could Hurt You So Miserably

In the beginning, there was a stranger, then “the freak became the norm” and turned into an addictive source of joy, demikianlah kira-kira (berdasarkan pengalaman saya bersama Merah dan Putih) ontogeni hubungan emosional antara manusia dengan hal yang non-manusia bila diringkas dalam satu kalimat pamungkas. Namun, meski akhir dari proses tumbuh-kembang hubungan emosional ini berakhir dengan kata-kata “turned into an addictive source of joy”, implikasi dari transformasi sesuatu yang semula “a stranger” menjadi “an addictive source of joy” ternyata mengandung konsekuensi lain yang tergambar jelas dalam puisi Louise Glück yang berjudul First Memory: “Aku mengira kepedihan berarti aku tidak dicintai. Itu berarti aku mencintai”.

Begitu sesuatu yang asing terasa begitu dekat secara emosional dan menjadi “source of joy”, tepat saat itu pula hal tersebut sebenarnya menjelma menjadi sumber kepedihan yang tak terbayangkan. Hal ini, saya tahu betul kebenarannya, sebab hati saya benar-benar hancur ketika menyaksikan bagaimana penyakit menguras kehidupan dari Merah dan Putih. 

Perasaan pedih, tidak berdaya, dan takut yang saya rasakan saat menyaksikan penyakit perlahan-lahan menggerogoti keceriaan dan kelincahan Merah dan Putih kala itu mungkin sama seperti kengerian yang saya rasakan saat menyaksikan politikus dan radikalisme religius menggerogoti citra Tuhan. Saya pun merasa tidak akan siap menyaksikan Tuhan, raja yang juga sudah lama menjadi pusat dunia saya, digerogoti citra baik-Nya karena dibuat tampak seperti pengkhianat kemanusiaan oleh orang-orang fanatik dan berberahi politik. Seperti penyakit yang perlahan-lahan merusak kebugaran Merah dan Putih, orang-orang yang menggunakan nama Tuhan sebagai alat propaganda itu pun merusak reputasi-Nya sebagai penyelamat kemanusiaan.

Bayang-bayang kematian Merah dan Putih kerap menyelinap lamat-lamat di dalam benak saya saat menyaksikan mereka dibuat begitu tidak berdaya oleh sakit yang mereka derita, bayangan Tuhan divonis bersalah karena telah mengkhianati kemanusiaan–mengizinkan teror, perang, dan konflik—sehingga dihukum mati dari setiap hati manusia pun kerap muncul di benak saya, dan itu membuat saya gemetar. Dalam bayangan saya, sebagaimana Raja Charles I Inggris dihukum penggal di halaman Banqueting House, Whitehall, setelah divonis bersalah oleh High Court of Justice pada 1649 atas tuduhan pengkhianatan terhadap kerajaan, Tuhan akan menerima hukuman yang sama dari kemanusiaan.

Penderitaan tak terperi yang saya rasakan ketika kabar bahwa Merah dan (kemudian) Putih telah tiada saya yakin merupakan tanda betapa mereka telah berhasil menjadi bagian yang permanen dari keutuhan hidup personal saya. Kehilangan mereka benar-benar menjadi hal yang tidak terbayangkan dan meninggalkan bagian kosong yang dulu pernah diisi oleh mereka, mirip dengan saya tidak sanggup membayangkan Tuhan hanya menjadi sekadar ruh semesta yang kehadiran-Nya hanya dapat diindrai lamat-lamat dari mengamati fenomena alam setelah selama ini selalu menjadi raja pelindung kemanusiaan yang dielu-elukan hati. Kepedihan membayangkannya benar-benar bukan main.

Tidak beruntungnya saya, maut tidak peduli pada apa yang saya rasa: penyakit tetap membunuh Merah dan Putih, dan korban-korban teror, perang, serta konflik atas nama Tuhan tetap membuat kemanusiaan mempertanyakan keberpihakan-Nya. Makam pun digali untuk mengubur Merah dan Putih yang telah tiada, sebagaimana kemanusiaan mulai menggali makam di hatinya untuk mengubur kepercayaannya pada Tuhan yang membiarkan anak-anak dan wanita berdarah-darah dan meregang nyawa dengan pedih atas nama-Nya. 

Di makam-makam itulah, sembari termenung menikmati kepedihan, saya kemudian menyadari bahwa hal-hal yang datang sebagai sesuatu yang asing ke dalam hidup saya itu berangsur menjadi, selain sumber kebahagiaan, juga sumber kepedihan saya yang paling besar. Saya tidak bisa lagi melewati lorong dan sudut-sudut rumah serta kamar tanpa merasakan sakitnya kerinduan pada Merah dan Putih, sama seperti saya tidak bisa lagi hidup tanpa pedihnya rasa kecewa untuk tiap nyawa yang hilang untuk nama-Nya. Karenanya, tiap kali saya berziarah ke makam mereka—Merah dan Putih tak jauh dari pekarangan rumah dan Tuhan di hati saya—saya, karena diberitahu adanya Hari Kebangkitan untuk tiap kehidupan dan oleh Karen Amstrong melalui bukunya A History of God pun diberitahu bahwa Tuhan sudah pernah dibunuh di banyak periode sejarah manusia dan bangkit kembali, tidak pernah lupa berdoa untuk Merah dan Putih serta Tuhan menggunakan puisi yang dibuat Friedrich Nietzsche:

Oh kembalilah …

Semua linangan air mataku 

Mengalir demi dirimu!

Dan bara terakhir dari hatiku—

Menyala untukmu!

Oh kembalilah …

Deritaku! Kebahagiaanku…

 

Baca juga : Persimpangan Evolusi Manusia

What do you think?

Ditulis oleh Sherlo Adha Maulana

Gerombolan sel yang beraneka ragam namun sepakat harus sintas dan lestari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Perempuan Kedua dalam Epos Mahabharata