Wadirut MIND ID Dany Amrul Ichdan Ungkap Strategi Hilirisasi Pertanian Lampung
Wakil Direktur Utama MIND ID Dr. Dany Amrul Ichdan menyoroti pertumbuhan ekonomi Lampung yang tinggi namun belum optimal dalam hilirisasi pertanian, menawarkan kerangka strategis DAI untuk meningkatkan nilai tambah lokal.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan, menyampaikan orasi ilmiah mengenai potensi dan strategi hilirisasi pertanian Lampung. Paparan ini disampaikan pada Rapat Senat Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serbaguna Unila pada Minggu (27/9).
Dany Amrul Ichdan menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang melampaui rata-rata wilayah Sumatera masih menyisakan pekerjaan rumah. Hal ini terkait seberapa besar nilai tambah hasil pertanian yang benar-benar dinikmati masyarakat lokal.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung menunjukkan lonjakan signifikan sekitar 3,5 kali dalam 15 tahun terakhir. PDRB meningkat dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp523 triliun pada 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025. Namun, kontribusi sektor manufaktur masih tertahan di kisaran 17, 20 persen. Ini mengindikasikan struktur pengolahan komoditas belum sepenuhnya optimal.
"Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja," ujar Dany. Ia menguraikan rantai nilai sektor pertanian Lampung berhenti terlalu awal.
Dari total sektor pertanian senilai sekitar Rp150 triliun, hanya sekitar Rp20, 30 triliun yang masuk ke ranah industri pengolahan. Ini menunjukkan potensi besar yang belum termanfaatkan.
Menurut data Kementerian Pertanian, Lampung adalah sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi mencapai 7,9 juta ton pada 2024. Nilai ekonomi ubi kayu tersebut sekitar Rp10,6 triliun.
Selain itu, nilai ekonomi pisang Lampung tercatat mencapai Rp25,3 triliun. Kopi dan jagung menempati peringkat kedua dan ketiga nasional dalam produksinya, serta lada hitam menunjukkan potensi menjanjikan.
Dany, alumni S1 Manajemen Ekonomi Unila tahun 1998, menawarkan kerangka strategis DAI untuk menjawab tantangan ini. Kerangka tersebut terdiri dari Distinctive dan Adaptive.
Distinctive berarti memilih keunggulan kompetitif yang bersumber langsung dari komoditas khas Lampung. Adaptive merujuk pada penyiapan infrastruktur, energi, dan kawasan industri pengolahan.
Ia mengapresiasi rencana pengembangan Kawasan Industri Katibung sebagai pusat energi terintegrasi dan bioetanol, dengan target groundbreaking pada 2027. Selain itu, Kawasan Industri Lampung II (KAIL II) direncanakan untuk agro-industri, serta penjajakan wilayah Rejosari untuk bioetanol berbasis sorgum.

