Selasa, 28 Jul 2026 NasionalPolitikEkonomiHukum & KriminalHiburan
Beranda › Tokoh
Tokoh

Profil Suryo Utomo, Komisaris Utama BTN yang Hartanya Naik Hampir Rp6 Miliar dalam Setahun

✍️ Siswanto 🕒 27 Jul 2026 👁️ 5x dibaca
Komisaris Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Suryo Utomo
Komisaris Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Suryo Utomo Foto: Dok. BTN

Jakarta – Suryo Utomo merupakan salah satu birokrat senior di lingkungan Kementerian Keuangan yang memiliki pengalaman panjang di bidang perpajakan, tata kelola keuangan negara, serta transformasi digital pemerintahan. Kariernya yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade mengantarkannya dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Komisaris Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Lahir di Semarang pada 1969, Suryo Utomo dikenal sebagai sosok profesional dengan rekam jejak kuat di sektor fiskal. Sebelum dipercaya menjadi Komisaris Utama BTN pada Maret 2025, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan sejak November 2019 hingga Mei 2025.

Selain memimpin Direktorat Jenderal Pajak, Suryo juga mendapat amanah sebagai Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan Kementerian Keuangan RI sejak Mei 2025. Jabatan tersebut menegaskan perannya dalam mendorong transformasi digital dan penguatan sistem informasi di lingkungan Kementerian Keuangan.

Di luar sektor perpajakan, Suryo Utomo juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengawas Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo sejak Oktober 2023. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Komisaris PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) pada periode November 2019 hingga April 2025.

Rekam Jejak Karier

Karier Suryo Utomo di Kementerian Keuangan dimulai dari berbagai posisi teknis hingga akhirnya menduduki jabatan eselon tertinggi. Ia pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak pada 2015–2019, Direktur Ekstensifikasi dan Penilaian, Direktur Peraturan Perpajakan I, hingga Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I.

Pengalaman tersebut membentuk kompetensinya dalam menyusun kebijakan perpajakan, meningkatkan kepatuhan wajib pajak, serta memperkuat penerimaan negara melalui reformasi administrasi perpajakan.

Latar Belakang Pendidikan

Suryo Utomo memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang ekonomi, perpajakan, dan hukum. Ia meraih:

  • Doktor (Ph.D.) dari Universiti Kebangsaan Malaysia (2019).
  • Master of Business Taxation dari University of Southern California (1998).
  • Sarjana Hukum dari Universitas Terbuka (2022).
  • Sarjana Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Diponegoro (1992).

Kombinasi pendidikan tersebut menjadi modal penting dalam menjalankan berbagai tugas strategis di sektor fiskal, keuangan, dan korporasi.

Menjadi Komisaris Utama BTN

Sebagai Komisaris Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Suryo Utomo bertugas mengawasi jalannya perusahaan serta memastikan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Dalam struktur perusahaan, ia tidak memiliki hubungan maupun afiliasi dengan anggota Direksi, Dewan Komisaris lainnya, maupun pemegang saham.

Laporan Kekayaan: LHKPN 2024 dan 2025

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total kekayaan bersih Suryo Utomo mengalami peningkatan cukup signifikan dalam satu tahun terakhir.

Pada laporan periodik 2024 yang disampaikan pada 27 Februari 2025, saat masih menjabat Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, total harta kekayaan Suryo Utomo tercatat sebesar Rp24.942.582.015.

Sementara pada laporan periodik 2025 yang disampaikan pada 27 Februari 2026, ketika menjabat Kepala Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan Kementerian Keuangan, total kekayaannya meningkat menjadi Rp30.936.422.954.

Dengan demikian, dalam kurun waktu satu tahun, kekayaan bersih Suryo Utomo bertambah sekitar Rp5,99 miliar atau meningkat sekitar 24,03 persen.

Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya nilai sejumlah komponen aset, antara lain:

Komponen LHKPN 2024 LHKPN 2025 Selisih
Tanah dan Bangunan Rp20,61 miliar Rp21,86 miliar +Rp1,25 miliar
Alat Transportasi dan Mesin Rp960 juta Rp2,11 miliar +Rp1,15 miliar
Harta Bergerak Lainnya Rp1,246 miliar Rp1,710 miliar +Rp464,5 juta
Kas dan Setara Kas Rp4,772 miliar Rp6,423 miliar +Rp1,65 miliar
Total Aset Rp27,59 miliar Rp32,10 miliar +Rp4,52 miliar
Utang Rp2,64 miliar Rp1,17 miliar -Rp1,48 miliar
Total Kekayaan Bersih Rp24,94 miliar Rp30,94 miliar +Rp5,99 miliar

Selain kenaikan nilai aset tanah dan bangunan, perubahan paling mencolok terdapat pada kategori kendaraan. Pada LHKPN 2025, Suryo Utomo melaporkan kepemilikan Lexus LM 350 4x2 AT tahun 2022 senilai Rp1,3 miliar, yang belum tercantum pada laporan tahun sebelumnya. Di sisi lain, nilai kendaraan Hyundai Tucson tahun 2014 juga mengalami penyesuaian dari Rp270 juta menjadi Rp120 juta, yang kemungkinan dipengaruhi oleh penyusutan nilai kendaraan.

Nilai tanah dan bangunan juga meningkat sekitar Rp1,25 miliar, terutama karena adanya kenaikan valuasi salah satu properti di Jakarta Selatan yang nilainya berubah dari Rp7,85 miliar menjadi Rp9,1 miliar.

Di samping meningkatnya aset, jumlah utang yang dilaporkan Suryo Utomo juga mengalami penurunan cukup signifikan, dari Rp2,64 miliar pada LHKPN 2024 menjadi Rp1,17 miliar pada LHKPN 2025. Penurunan kewajiban tersebut turut berkontribusi terhadap kenaikan total kekayaan bersih yang dilaporkan.

S
SiswantoEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update