Bailey Robinson Rilis Indeks Wisata Satwa Liar, Indonesia Jadi Destinasi Tujuan
Bailey Robinson merilis Wildlife Experience Index yang merangkum 30 pengalaman wisata satwa liar paling menarik di dunia. Indonesia termasuk destinasi tujuan, sementara Rwanda dan Uganda memuncaki daftar.
Perusahaan perjalanan Bailey Robinson merilis Wildlife Experience Index, sebuah rangkuman 30 pengalaman wisata satwa liar paling menarik di dunia. Model wisata yang menyuguhkan pengalaman berinteraksi langsung dengan satwa liar ini menjadi incaran wisatawan, dan Indonesia masuk jadi destinasi tujuannya.
Penilaian dalam indeks tersebut mencakup enam faktor penting. Faktor-faktor itu meliputi kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, dan peluang bertemu satwa.
Setiap faktor diberi nilai maksimal 10, kemudian seluruh skor digabungkan untuk menghasilkan nilai akhir dari 100. Pengalaman melihat gorila gunung di Rwanda atau Uganda berada di posisi teratas dengan skor 90, dikutip dari Euronews pada Selasa (1/9/2026).
Untuk peluang perjumpaan, pengalaman wisata gorila gunung di Rwanda dan Uganda mendapat nilai sempurna 10. Wisatawan didampingi pemandu berpengalaman yang membantu menemukan kelompok gorila di habitatnya.
Di Rwanda, hanya 96 izin trekking yang diterbitkan setiap hari untuk menjaga kelestarian satwa. Sementara di Taman Nasional Bwindi, Uganda, jumlah pengunjung dibatasi maksimal delapan orang untuk setiap keluarga gorila yang telah terbiasa dengan kehadiran manusia dalam sehari.
Posisi kedua ditempati ekspedisi penguin kaisar di Antarktika dengan skor 88,5. Pengalaman ini mendapat nilai sempurna untuk faktor keterpencilan dan eksklusivitas.
Ekspedisi antelop saiga di Kazakhstan menempati peringkat ketiga dengan skor 87. Kawasan Asia dan Afrika menjadi yang paling banyak muncul dalam daftar 10 besar.
Direktur Penjualan Bailey Robinson, Sarah Parker, mengatakan bahwa hubungan antara kelangkaan dan keterpencilan menjadi hal paling menonjol. Pengalaman melihat satwa liar yang paling istimewa, menurutnya, biasanya mengharuskan traveler menempuh perjalanan lebih jauh dan masuk lebih dalam ke alam liar. Kesempatan tersebut pun hanya bisa dirasakan oleh sedikit wisatawan.

