Pakar UI, Karhutla Buktikan Pariwisata RI Belum Siap Bencana
Pemerhati pariwisata Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, menyoroti penutupan sejumlah destinasi wisata akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Kondisi ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa pariwisata Indonesia masih rapuh dalam menghadapi bencana.
Pemerhati pariwisata Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, menilai bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus melanda sejumlah destinasi wisata di Indonesia merupakan bukti rapuhnya pengembangan pariwisata nasional dalam menghadapi bencana. Penilaian ini disampaikan Deni pada Jumat, 4 September 2026, menyusul maraknya penutupan kawasan wisata akibat penyebaran api.
Sejumlah kawasan konservasi dan destinasi wisata unggulan di Indonesia terpaksa ditutup total per September 2026. Penutupan ini dilakukan demi mengantisipasi meluasnya api karhutla yang telah memakan korban satwa dan petugas pemadam.
Dari catatan detikTravel, sebanyak sembilan taman nasional telah ditutup untuk pendakian sejak 1 September 2026 karena kebakaran. Kawasan Kawah Ijen juga turut ditutup pada Jumat (4/9), setelah jalur pendakiannya dilalap api.
Deni Danial Kesa menganggap maraknya penutupan destinasi akibat karhutla sebagai sinyal kuat bahwa prioritas keselamatan selama ini terabaikan. Menurutnya, pengelola destinasi wisata tampak gagap dan tidak memiliki mitigasi yang matang saat bencana melanda.
"Prioritas pertama bukan menambah destinasi, tetapi memastikan destinasi yang sudah kita jual kepada wisatawan benar-benar aman," kata Deni dalam perbincangan dengan detikTravel. Kondisi darurat di lapangan memperlihatkan minimnya kesiapan sarana penanganan krisis.
Kesiapan tersebut mencakup tidak adanya pemetaan titik rawan api dan prosedur evakuasi yang jelas bagi wisatawan. Ketidaksiapan ini tidak hanya mempertaruhkan keselamatan nyawa para pengunjung yang terjebak situasi panik.

